Site icon NTD Indonesia

4 Tantangan Berat Menuju Kesuksesan

Hidup tak terelakkan lagi akan menghadirkan kesulitan, namun justru kesulitan-kesulitan itulah yang dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan pribadi. Banyak orang menghabiskan hidup mereka untuk menghindari rasa sakit, serta mencari kenyamanan dan kesenangan kapan pun memungkinkan. Namun, hidup yang sepenuhnya dijalani demi kenyamanan semata pada akhirnya dapat membuat seseorang tidak siap menghadapi kesulitan saat tantangan hidup tak terelakkan datang. Jalan menuju kesuksesan jarang sekali mulus; jalan itu penuh dengan rintangan, kegagalan, dan saat-saat di mana menyerah terasa lebih mudah daripada terus melangkah maju. Akan tetapi, mereka yang memahami hal ini dan terus melangkah meski menghadapi kesulitan sering kali adalah orang-orang yang pada akhirnya berhasil mencapai tujuan mereka.

Anda harus melewati kegelapan malam sebelum dapat menyambut fajar, dan anda harus menghadapi badai sebelum dapat menikmati pelangi di langit yang cerah dan damai. Kesulitan adalah bagian hidup yang tak terhindarkan; alih-alih terus-menerus melarikan diri darinya, anda bisa belajar untuk menghadapinya, bertahan melaluinya, dan tumbuh karenanya. Dengan melakukan hal itu, apa yang tadinya tampak sebagai kemalangan bisa berubah menjadi pengalaman yang justru mempersiapkan anda untuk hal-hal yang lebih baik di masa depan.

4 jenis kesulitan yang dapat membawa pada kesuksesan melalui kekuatan, kebijaksanaan, dan keberuntungan yang lebih besar:

1. Belajar membutuhkan usaha yang gigih dan disiplin

Di masa lalu, para cendekiawan Tiongkok sering berbicara tentang perlunya bertahan dalam masa belajar yang tekun selama bertahun-tahun demi meraih kesuksesan. Kisah-kisah sejarah yang terkenal bahkan menceritakan tentang para cendekiawan yang mengikat rambut mereka ke balok langit-langit atau menusuk paha mereka dengan alat penusuk agar tetap terjaga saat rasa lelah dan malas menggoda mereka untuk menyerah. Metode-metode tersebut mungkin tampak ekstrem di masa kini, namun prinsip di baliknya tetap sangat relevan: Pencapaian yang bermakna membutuhkan disiplin nyata, ketekunan, dan kebersediaan dasar untuk menanggung hal-hal yang sulit.

Untuk mencapai hal-hal besar, anda harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan, dan memperolehnya tentu saja membutuhkan usaha. Proses belajar jarang terasa nyaman, karena senantiasa menuntut waktu, konsentrasi, kesabaran, serta kerendahan hati yang mendasar untuk mengakui betapa banyak hal yang masih harus anda pelajari. Belajar juga merupakan investasi jangka panjang. Saat masih muda, anda harus belajar menanggung kesepian dan melakukan kerja keras yang diperlukan untuk membangun fondasi yang kokoh. Begitu memasuki dunia kerja, menjadi semakin penting untuk mempertahankan pola pikir pembelajar seumur hidup, mengembangkan kemampuan, dan menguasai keterampilan yang dapat bermanfaat bagi anda sepanjang hayat. Usaha tersebut mungkin tidak membuahkan hasil secara instan, namun apa yang anda pelajari hari ini dapat menjadi landasan bagi peluang-peluang yang muncul bertahun-tahun kemudian.

2. Refleksi mendalam memberikan arah yang tepat bagi usaha

Kesuksesan menuntut kerja keras, namun juga mengharuskan anda untuk sesekali berhenti sejenak, melihat, dan mempertimbangkan apakah anda masih melangkah ke arah yang benar. Kita boleh bekerja keras, tetapi kita juga perlu berhenti sejenak untuk berpikir: “Apakah yang aku lakukan sudah menuju ke tujuan yang benar?”

Seseorang bisa terus berjalan dan berusaha selama bertahun-tahun. Tetapi kalau ia tidak pernah berhenti untuk memikirkan apakah pilihannya sudah benar, ia bisa saja semakin jauh berjalan ke arah yang salah.

Saat mendapat tugas, banyak orang lebih suka melakukan hal yang sudah biasa dilakukan daripada berhenti sejenak untuk berpikir dengan baik dan mencari cara yang paling tepat. Mereka melakukan apa yang diperintahkan, mengulangi pola yang sama, dan menjalani hari demi hari tanpa rencana hidup yang jelas atau visi untuk masa depan. Mereka mungkin menguras tenaga dengan usaha terus-menerus, namun tetap saja kesulitan karena tidak pernah berhenti untuk bertanya apakah usaha mereka membuahkan hasil yang diinginkan.

Sebagian orang sangat memercayai “Aturan 10.000 Jam” yang populer, dengan keyakinan bahwa sekadar mengumpulkan jam latihan yang cukup akan secara otomatis menjadikan mereka ahli. Namun, waktu dan pengulangan saja tidaklah cukup. Pengalaman menjadi benar-benar berharga ketika anda belajar darinya, menelaah apa yang berhasil dan apa yang tidak, serta menyesuaikan pendekatan anda. Kerja keras memberikan momentum, tetapi refleksi memberikan arah yang jelas bagi momentum tersebut. Bahkan, meluangkan waktu beberapa menit untuk merenungkan apa yang telah anda lakukan, apa yang bisa dilakukan dengan cara berbeda, dan ke mana anda harus melangkah selanjutnya dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Terkadang, hal tersulit untuk dilakukan bukanlah terus bergerak, melainkan berhenti, berpikir, dan memiliki keberanian untuk mengubah arah saat diperlukan.

3. Disiplin diri sejati

Bagi kebanyakan orang, hal tersulit untuk dicapai bukanlah belajar, melainkan disiplin diri. Saya yakin bahkan orang yang paling malas sekalipun bisa tetap disiplin selama satu hari atau satu minggu ketika mereka bertekad untuk memperbaiki diri. Namun, sangat sedikit yang mampu mempertahankan disiplin tersebut dalam jangka panjang. Hal ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kecerdasan atau kemampuan, melainkan kurangnya disiplin diri dalam pekerjaan dan studi rutin yang dituntut oleh kehidupan sehari-hari. Namun ada jenis disiplin diri lain, yang lebih mendalam.

Dalam film Scent of a Woman, terdapat sebuah kalimat klasik yang diucapkan oleh Letnan Kolonel Frank Slade: “Kini aku sampai di persimpangan jalan hidupku. Aku selalu tahu mana jalan yang benar. Tanpa kecuali, aku mengetahuinya, namun aku tak pernah menempuhnya. Kau tahu mengapa? Karena jalan itu sungguh sangat berat.” Ia mengakui bahwa dirinya selalu mengetahui pilihan hidup yang bermoral dan benar, namun ia memilih jalan yang lebih mudah karena melakukan hal yang benar membutuhkan keberanian yang luar biasa. Karakter seseorang terlihat ketika ia berada di bawah tekanan. Semua orang tahu bahwa kerja keras dan kegigihan adalah kunci kesuksesan, namun hanya sedikit yang bersedia menjalaninya hingga tuntas, terutama saat dihadapkan pada pilihan antara melakukan hal yang benar dan meraih keuntungan pribadi. Hidup tidak pernah kekurangan orang yang memiliki ambisi besar, namun jauh lebih sedikit orang yang memadukan ambisi tersebut dengan usaha gigih sembari tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral. 

4. Menolak godaan menjaga anda tetap berpijak kuat

Tetaplah setia pada cita-cita awal anda, maka kemungkinan besar anda akan menuntaskan apa yang telah anda mulai hingga akhir. Selama anda teguh pada tujuan dan tetap berpijak kuat di jalan yang benar, anda perlahan dapat menemukan jalan hidup yang sesungguhnya milik anda. Namun, hidup ini penuh dengan godaan. Ketika jalan pintas yang tampak mudah terus bermunculan di hadapan anda, mungkin timbul keinginan untuk mengejar keuntungan instan, mengambil risiko yang tidak perlu, atau mengejar peluang yang menjanjikan imbalan tanpa menuntut kesabaran maupun kerja keras. Banyak orang kehilangan arah justru karena mereka tidak mau menolak godaan-godaan semacam itu.

Jika anda mampu menolak godaan, tidak teralihkan oleh keuntungan sepele atau jalan pintas yang mudah, serta terus melangkah mantap menuju tujuan, prioritas anda akan menjadi lebih jelas dan jalan di depan perlahan akan terbuka bagi anda.

Menghadapi kesulitan ini mempersiapkan anda untuk menjalani hidup

Kemerosotan hidup sering kali bermula ketika seseorang berhenti belajar, berhenti merenung, dan mengabaikan disiplin diri demi mengejar hal-hal yang keliru. Apa yang bermula sebagai kompromi kecil perlahan dapat menjauhkan seseorang dari jalan yang semula ingin ditempuhnya. Jika anda mampu bertahan menghadapi keempat jenis kesulitan ini—belajar, perenungan, disiplin diri, dan menolak godaan—anda akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih mampu menghadapi apa pun yang menanti di masa depan. Hal yang tadinya tampak sebagai penderitaan, pada akhirnya mungkin terbukti justru menjadi faktor yang memperkuat karakter serta mempersiapkan anda untuk kehidupan yang lebih baik.