Budi Pekerti

9 Cerita Pendek Dalam Perjalanan Hidup

ayah-anak
Ayah-anak. @Sebastián León Prado on Unsplash

Beberapa cerita pendek berikut menunjukkan bagaimana seorang ayah membesarkan putranya dengan tujuan agar anaknya dapat tumbuh menjadi orang yang baik. Bacalah sembilan cerita pendek ini, dan mungkin bermanfaat bagi anak Anda.

Tanggung Jawab

Suatu hari putra saya yang berusia dua tahun menabrak meja dan kepalanya benjol besar. Dia menangis keras dalam waktu lama. Saya keluar dari kamar dan berjalan ke arah meja seraya bertanya dengan nada tinggi: “Hei! Meja, siapa yang menyakitimu, dan membuatmu menangis terus? ”

Anak saya berhenti menangis dan menatap saya dengan air mata. Saya membelai meja dan bertanya: “Siapa yang melakukan itu padamu?”

Anak saya menatap saya: “Oh, ayah, itu aku.” Saya berkata: “Sudahkah kamu meminta maaf ke meja?” Anak saya berkata: “Maaf,” dan membungkuk ke meja.

Sejak itu, ia belajar arti tanggung jawab.

Jangan Lampiaskan Kemarahan Kepada Orang Lain

Suatu hari putra saya yang berusia tiga tahun mulai menangis tanpa sebab. “Apa ada yang sakit?” tanya saya.

“Tidak,” jawabnya.

“Kenapa menangis? Ayah tentu tidak keberatan jika kamu menangis, tetapi ayah akan membawamu ke tempat yang sesuai, sehingga kamu tidak akan mengganggu orang lain. Apabila sudah cukup menangis, beri tahu ayah, kamu boleh keluar.”

Saya membiarkannya di kamar mandi. Dua menit kemudian, putra saya mengetuk pintu dan berkata, “Menangisnya sudah selesai.” Dia diperbolehkan keluar saat itu.

Sekarang putra saya berusia 18 tahun, dan dia tidak menggunakan emosinya untuk memanipulasi orang lain atau melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Berpikir dua kali sebelum bertindak

Saya berjalan di jembatan bersama putra saya yang berusia lima tahun. Melihat air jernih di bawah jembatan, anak saya berkata: “Airnya indah. Aku mau terjun ke sungai dan berenang.”

Saya terkejut sesaat, lalu saya berkata: “Baiklah, mari kita terjun bersama, tapi pertama-tama kita harus pulang dan ganti pakaian dulu.” Setelah kembali ke rumah dan berganti pakaian, anak saya melihat panci berisi air.

Saya bilang padanya: “Nak, ketika berenang, kamu harus memasukkan wajahmu ke dalam air, kan?” Dia mengangguk dan saya berkata, “Kamu perlu latihan dulu untuk melihat berapa lama wajahmu bisa bertahan di dalam air.”

Hanya selang sepuluh detik, dia mengangkat wajahnya keluar dari air dan berkata: “Aku tersedak di dalam air, tidak enak rasanya.”

Saya katakan padanya: “Jadi, jika kamu terjun ke sungai, rasanya bisa lebih buruk lagi.”

“Ayah, kalau begitu jangan terjun ke sungai,” jawab putraku.

“Oke, kalau begitu kita tidak akan melakukannya,” kataku.

Sejak itu, anak saya belajar untuk berhati-hati dan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu.

Mengendalikan Keinginan

Ketika anak saya berusia enam tahun, kami berjalan melewati McDonalds sepulang sekolah.

“Ayah, McDonalds!” katanya. “Oh, McDonalds! Kamu mau membeli makanan di sana, bukan? Anakku, mudah ketika kamu menginginkan sesuatu, kamu tinggal ke sana dan membelinya. Siapa pun dapat melakukannya. Tetapi jika kamu dapat mengendalikan keinginanmu dan tidak membelinya, kamu akan menjadi pahlawan. Kamu lebih suka jadi orang biasa atau pahlawan? “

Anakku menjawab: “Pahlawan.”

“Apa kamu yakin, benar kah?” tanya saya.

“Ayah, aku benar-benar ingin menjadi pahlawan,” katanya.

“Oke, pahlawan, mari kita pulang!” jawabku,

Sejak saat itu putra saya belajar mengendalikan keinginannya, dan tidak menyerah pada godaan.

Pilihan dan konsekuensi

Suatu hari putra saya yang berusia delapan tahun bertengkar dengan teman-teman sekelasnya dan pulang sambal menangis. Dia merasa diperlakukan salah oleh teman-teman sekelasnya dan merespon dengan amarah.

“Apa yang kamu rencanakan? Apak kamu ingin Ayah membantumu? ” Saya bertanya kepadanya.

“Ayah, carikan aku batu bata, besok aku ingin memukul mereka dari belakang.”

“Ayah mengerti, ayah bisa membantumu. Ada yang lain?”

“Ayah, ambilkan aku pisau, aku ingin menusuk mereka dari belakang.”

“Baik! Dengan cara ini kamu bisa melampiaskan amarahmu. Ayah bisa mendapatkannya untukmu. “

Saya naik ke atas untuk menyiapkan barang-barang. Anak saya sepertinya agak tenang.

Sekitar 20 menit kemudian, saya membawa banyak pakaian dan selimut yang telah saya kumpulkan.

“Nak, sudahkah kamu putuskan, batu bata atau pisau?”

“Tapi, Ayah, mengapa kamu membawakanku begitu banyak pakaian dan selimut?” .

“Begini nak, jika kamu memukuli mereka dengan batu bata, polisi akan memenjarakan kita sekitar satu bulan, jadi kita harus sedia beberapa jaket dan selimut. Jika kamu memakai pisau dan menusuk mereka, kita akan di penjara setidaknya selama tiga tahun, jadi kita harus membawa lebih banyak pakaian selama empat musim, bukan? Itu hukumnya. Jadi kamu yang putuskan dan ayah mendukungmu!”

“Ayah, kita belum melakukannya, kan!” jawab anak saya.

“Tapi nak, bukannya kamu sangat marah,” kataku.

“Ayah, aku tidak marah lagi, dan ternyata aku salah,” anak saya tersipu.

“Baik, Ayah mendukungmu!”

Sejak itu putra saya belajar tentang membuat pilihan yang benar dan konsekuensinya.

Jadilah orang yang bijak

Di usia 9 tahun, putra saya tidak lulus ujian matematika kelas empat dan menjadi depresi. “Bagaimana ini bisa terjadi? Anda gagal dalam ujian matematika Anda. “

“Karena aku benci guru matematika, kelasnya membosankan.”

“Oh, sungguh, ayah ingin tahu lebih banyak.” ujarku.

Putra saya banyak bicara, sehingga membuat gurunya tidak menyukainya.

“Oh gitu. Ketika seseorang menyukaimu, kamu menyukainya; ketika dia tidak menyukaimu, kamu membencinya. Apakah kamu termasuk orang yang aktif atau pasif?”

“Orang yang pasif!” jawab anak saya.

“Apakah kamu orang yang kuat, atau orang yang lemah? Orang bijak atau orang biasa?” Saya terus bertanya.

“Aku lemah, dan orang biasa!” jawab anak saya.

“Kamu ingin jadi apa, seorang yang bijak atau orang biasa?” Saya bertanya kepadanya.

“Seorang yang bijak. Ayah, aku tahu sekarang! Tak peduli bi guru suka atau tidak suka padaku, aku boleh menyukainya, menghormatinya, dan menjadi orang yang tegar. “

Keesokan harinya, anak saya dengan senang hati pergi ke sekolah. Sejak saat itu kemampuan matematikanya meningkat, dan dia telah belajar perbedaan antara menjadi orang bijak dan orang biasa.

Berpendirian

Ketika anak saya berusia 10 tahun, ia kecanduan bermain game komputer. Ibunya sudah berkali-kali menasehatinya tetapi tak berhasil. Suatu hari saya berkata kepadanya, “Nak, ayah dengar bahwa kamu suka bermain game.” Dia mengaku dan menundukkan kepalanya.

Saya bertanya padanya: “Bagaimana perasaanmu bila kalah bermain?”

Gagal, kosong, jenuh, dan malu, ” katanya.

Lalu, mengapa bermain? Tidak ada yang bisa kamu perbuat, kan?” Saya bertanya kepadanya.

Ya, Ayah, ”jawabnya.

Baik! Biarkan Ayah membantumu!” Saya meletakkan komputer di depan putraku, dan memberinya palu kecil.

Nak, hancurkan!” ucap saya.

Ayah! ”Putraku bingung.

Hancurkan! Ayah akan baik-baik saja tanpa komputer, tetapi tidak tanpamu nak,” ucap saya.

Anak saya menangis setelah dia menghancurkan komputer. Dia telah belajar arti untuk berpendirian.

Bicaralah pada ibu

Ketika putra saya berusia 11 tahun, saya dan istri saya tinggal di negara asing karena pekerjaan, dan dia tinggal bersama ibu saya.

Saya menelponnya setiap hari untuk mengirim salam. Suatu hari, putra saya menjawab telepon: “Halo, Ayah!” katanya.

“Halo Andy,” jawab saya, “Nenek mana? Ayah ingin bicara dengannya.”

“Ayah, mengapa Ayah menelpon Nenek setiap hari?” Tanyanya.

“Ayah ingin mengobrol dengan Nenek” jawab saya.

“Bagaimana denganku?” ujarnya.

“Kamu juga dapat menelepon Ibumu, Sayang,” kataku padanya.

Sejak saat itu, istri saya menerima telepon dari putra kami setiap hari jam 6 pagi.

Lepaskan hal-hal kecil dan lakukan apa yang harus Anda lakukan

Ketika putra saya berusia 12 tahun, ia kelelahan dengan banyaknya pekerjaan rumah, tugas, test, dan banyak kecemasan menyelimutinya. Suatu malam bibinya berkata, “Kamu memecahkan piring khan kemarin?”

“Tidak!” Jawabnya.

Ibu saya menimpali: “Tapi siapa lagi yang melakukannya!”

“Tidak! Kalian menyalahkan aku! “Putra saya terbaring di lantai dan menangis.

Lima menit kemudian, saya keluar dari ruangan dan bertanya: “Apa yang terjadi di sini?”

“Ayah, Bibi dan Nenek menyalahkan aku!” serunya.

“Jadi, masalah besarnya, seseorang telah menuduhmu; Kamu merasa kesal dan menangis di lantai. Itu bukan laki-laki! Seorang laki-laki sejati akan berdiri bahkan apabila langit runtuh, tetapi kamu malah menangisi piring yang pecah. Yang terburuk belum datang. Sepanjang hidup kamu masih akan mengalami hal-hal seperti dipersalahkan, dikhianati, dan dihina. Tapi hidup kita masih terus berjalan dan terus maju ke depan. Jadi, apakah dengan kejadian ini, kamu ingin tetap di lantai dan menangis ketika segalanya tidak berjalan sesuai keinginanmu?”

Anakku berdiri tegak sambil berkata, “Ayah, aku mengerti, apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Sekarang tanyalah pada diri sendiri, apakah kamu punya banyak waktu, atau banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan? Ingatlah, abaikan hal-hal kecil, dan selesaikan apa yang harus kamu lakukan. ”

Dia mengambil tasnya, membungkuk pada bibi dan neneknya, dan dengan tenang masuk ke kamarnya.

Kami bertiga tersenyum. Saya berharap bahwa suatu hari ketika anak saya mengingat kejadian ini, ia akan memahami niat baik kami. (Monica Song and Kathy McWilliams/eva/visiontimes)

Lebih banyak kisah Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor