Apa itu kebahagiaan? Memiliki kekayaan yang tidak habis dipakai seumur hidup? Ataukah bersama sekelompok teman baik bersuka-cita menikmati keindahan alam?
Sebenarnya ini bukanlah kebahagiaan sesungguhnya. Lalu apakah kebahagiaan sejati? Ketika orang lain melakukan kesalahan kepada kita, kita masih dapat bertoleransi, dengan demikian barulah akan memperoleh kebahagiaan sejati. Ketika Anda bertoleransi kepada orang lain, anda tidak akan terdapat musuh.
Toleransi juga dapat membuat orang lebih berpikiran terbuka dan berani menghadapi hidup yang penuh dengan hal yang tidak sesuai rencana. Ada kisah nyata mengenai Xie Kunshan, yang menjadi cacat karena tidak sengaja menyentuh kabel listrik ketika bekerja. Arus listrik mengaliri seluruh tubuhnya, ketika siuman mendapati dirinya telah berada di rumah sakit. Dia menatap pilu kedua lengannya yang telah diamputasi, merasakan seluruh kejadian, dia berharap ini hanya merupakan sebuah mimpi buruk.
Setelah kesehatannya pulih, ada orang yang mengusulkan agar dia menjadi pengemis, yang dapat menyambung hidup hanya dengan meletakkan sebuah mangkuk di depannya. Namun pemuda ini berkata, “Saya hanya melihat apa yang saya miliki, bukan melihat apa yang tidak saya miliki.” Kemudian dia belajar makan tidak dengan tangan, kemudian mulai menulis dan menggambar dengan mulut, pada awalnya sangatlah sulit dan menantang.
Ketika Xie Kunshan mendengar bahwa pelukis Taiwan terkenal Wu Xuansan memulai kelas di Akademi Seni Rupa, dia mencoba segala cara untuk menemukannya dan meminta untuk belajar melukis bersamanya. Tuan Wu tersentuh oleh ketulusannya dan setuju untuk datang ke kelas. Sejak saat itu, Xie Kunshan menghabiskan lebih dari dua jam bergegas ke kelas, hujan atau cerah.
Tiga tahun kemudian, Xie Kunshan diterima di sekolah menengah terbaik di Sekolah Budaya Taipei-Jianzhong. Teknik lukisannya yang indah juga mengalami kemajuan besar, dan dia mulai memenangkan penghargaan di arena internasional dan telah diakui. Pada tahun 1994, “Kolam Emas” miliknya dijual seharga NTD $ 80.000, karyanya telah terpilih untuk enam pameran besar, dan pada tahun 1997 ia memenangkan Penghargaan Seni Visual dari Asosiasi Bakat Khusus Internasional.
Setelah memasuki dunia seni, dengan pikiran yang lebih terbuka ia melewati lembah kehidupan yang justru membuatnya melupakan penderitaan. Kalau saja pada saat itu ia tidak dapat melepaskan kondisi yang dihadapinya, menuruti kata orang menjadi pengemis, sepanjang hari menangis, tidak akan berkesempatan untuk belajar memiliki pikiran terbuka dan membuat diri sendiri berhasil.
Kegigihan, optimisme, dan antusiasme Xie Kunshan menyentuh seorang gadis muda dan cantik bernama Lin Yezhen. Pada tahun 1987, keduanya memasuki aula pernikahan. Sekarang, kedua putri mereka sama-sama remaja. Seseorang bertanya kepada Xie Kunshan, “Jika Anda memiliki sepasang tangan yang sehat, untuk apa Anda ingin menggunakannya?” Dia tersenyum dan berkata, “Saya akan menggendong istri saya dengan kedua tangan saya, dan berjalan bersama kedua putri saya disampingnya. “
Yang paling patut dibanggakan seseorang bukanlah keberhasilannya, melainkan sikapnya terhadap kegagalan. Biarlah keberanian mengembangkan visi baru, biarlah pikiran terbuka membawa kita menuju ke kehidupan yang lebih baik. (epochtimes/xiao)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

