Seorang ayah, telah cukup lama menabung, akhirnya ia dapat membeli sebuah mobil baru yang mengkilat. Dia sangat menyayangi mobil itu, sedikit kotor saja pasti dicuci bersih.
Putranya yang baru berumur 5 tahun melihat sang ayah menyayangi mobil, dia juga sangat gembira membantu ayahnya untuk mencuci mobil. Sang ayah sangat senang mememiliki putra yang dapat memahami hati dari seorang ayah.
Suatu hari, sang ayah itu sangat letih, walaupun guyuran air hujan mengotori mobilnya dia berpikir untuk mencucinya lain hari.
Putranya yang melihat ayahnya yang begitu letih, dalam hati ingin membantu ayahnya untuk mencucikan mobil. Ia tidak menemukan kain lap, ketika dia memasuki dapur, segera terpikir olehnya, biasanya ibu bisa memakai sabut baja untuk menggosok wajan hingga bersih, maka walaupun tidak ada lap kain tidak apa-apa, menggunakan itu untuk menggosok juga bisa! Apalagi mobil ayah begitu kotor.
Diambilnya sabut baja itu untuk mencuci mobil, dia menyikat mobil itu seperti menyikat wajan, terus menerus disikat mobil itu.
Setelah dia selesai mencuci, “Wuuah!” dia menangis dengan keras, mengapa mobilnya menjadi belang dan bergaris-garis? Matilah saya, dia buru-buru lari mencari ayahnya, sambil menangis dia sambil berkata, “Maafkan saya, ayah, coba ayah kemari untuk melihat!”
Dengan bimbang dan ragu ayah tersebut mengikuti putranya, setelah melihat mobilnya dia juga berteriak, “Wuaah, mobilku! Mobilku!”
Anaknya menangis keras, teringat oleh sang Ayah bila saat emosi harus menenangkan diri, buru-buru ia masuk ke dalam kamar.
“Mobil itu adalah mobil baru yang saya beli belum genap satu bulan, sudah berubah menjadi demikian rupanya. Bagaimana saya harus menghukum putra saya itu?”
Sang istri yang sudah mengetahui hal ini lewat anaknya, masuk ke kamar dan berkata pada suaminya: “Orang selalu melihat pada permukaan, akan tetapi yang saya lihat adalah hatinya!”
Mendadak dia sepertinya sudah tersadarkan. Dia berjalan keluar dari kamar, melihat putranya masih menangis karena takut, dia sedikit pun tidak berani bergerak.
Ayah tersebut bergegas memeluk putranya dalam pelukannya, seraya berkata, “Terima kasih telah membantu ayah mencuci mobil, ayah mencintaimu, melebihi mobil itu.”
Ada satu kisah lagi, dimana seorang suami melakukan investasi dan juga berusaha membuka suatu usaha, namun investasinya mengalami kerugian dan usahanya juga gagal di tengah jalan. Atas kejadian ini, sang istri mengeluh dan terus menyalahkan suaminya atas kerugian sejumlah uang mereka tersebut, menyebabkan mereka sering ribut dan sang suami tidak betah di rumah.
Ibu sang istri akhirnya mengetahui hal ini, dan menasehati anaknya. “Nak, jangan melihat pada permukaannya saja, lihatlah pada hati suamimu yang sayang pada keluarganya, sebagai istri kamu harus mendukungnya untuk bangkit lagi dalam mencari nafkah.”
Jadi, apa yang Anda anggap penting dalam kehidupan ini? Apakah Anda mengerti akan cinta? (epochtimes/lin)

