Seorang pria marah dan kecewa kepada langit karena suatu kejadian. Langit berkata kepadanya dengan lembut, “Apakah kamu punya hak untuk marah?” Dalam emosi, pria itu masih tidak terima. Ia berjalan menjauh.
Langit merasa kasihan pada pria itu, karena di sana begitu panas. Karena berbelas kasih, dibuatnya semak-semak liar yang lebat agar tumbuh di sana, untuk melindungi si pria dan memberinya keteduhan. Pria itu senang dengan semak belukar, menenangkan diri dan tidur.
Malam harinya, cacing-cacing menyerang semak-semak dan layu. Ketika matahari terbit, si pria terbangun dan memperhatikan bahwa semak-semak sedang sekarat. Pria itu memarahi semak-semak karena layu dan sekarat. Matahari membuat si pria kepanasan, membuatnya gerah. Angin panas juga muncul dan membuat pria itu sangat menderita sehingga ia meminta Langit untuk mati saat itu juga, daripada menahan penderitaan.
Langit berkata dengan lembut kepadanya:
“Apakah benar bagimu untuk marah pada semak-semak itu ? Kau tidak melakukan apa pun untuk membuat semak ini tumbuh, tetapi semak itu memberimu kenyamanan. Semak tumbuh pada malam hari dan mati pada malam hari, tanpa perbuatanmu. Menurutmu apakah apakah benar jika Langit hanya peduli dengan satu orang yang sedang marah ketika ada begitu banyak orang lain yang tidak pernah marah, tetapi hanya menunjukkan rasa hormat dan syukur?
Hati nurani si pria tiba-tiba terbangun, merasa malu, berterima kasih kepada Langit atas pelajaran ini dan bersumpah kepada Langit dan dirinya sendiri untuk menjadi orang baik dan menjaga perasaannya agar terkendali. (pureinsight/tia/eva)
