Site icon NTD Indonesia

Aspek Apa yang Dilihat Pimpinan Ketika Mempromosikan Kenaikan Jabatan

Karyawan @Canva Pro

Karyawan @Canva Pro

Sebuah perusahaan sedang mencari seorang karyawan untuk dipromosikan menjadi asisten direktur. Kepala HRD merekomendasikan dua orang: seorang karyawan yang baru bekerja di perusahaan selama satu tahun, dan seorang karyawan senior yang telah bekerja 10 tahun.

Karyawan yang lebih muda termotivasi dan menggunakan waktu luangnya untuk mempelajari berbagai aspek dari perusahaan, sedangkan karyawan senior sangat berpengalaman dan terampil karena telah bekerja bertahun-tahun.

Meskipun presiden perusahaan ini telah mengundurkan diri dari peran utamanya karena memiliki bisnis lain, dia masih terlibat dalam perekrutan, kenaikan pangkat dan pemecatan personel penting.

Karena itu, dia hanya sesekali mengunjungi perusahaan itu. Presiden mengenal karyawan senior dengan baik, karena dia telah lama mempekerjakannya. Namun, dia tidak memiliki pengetahuan tentang karyawan yang lebih muda dan kinerja pekerjaannya.

Untuk mengatasi hal ini, dia ‘diam-diam’ muncul beberapa hari dalam seminggu untuk mengamati kedua karyawan di lingkungan kerja mereka dan dengan santai berbicara dengan pekerja lain tentang dua kandidat ini.

Umpan balik keseluruhan dari sebagian besar karyawan adalah bahwa mereka menganggap karyawan senior itu teliti dan profesional.

Sedangkan mereka dengan suara bulat setuju bahwa sementara karyawan baru adalah seorang pembelajar yang bersemangat, rajin, dan pekerja yang sangat baik dan perhatian.

Setelah melakukan observasi selama sebulan, sang direktur akhirnya mengambil keputusan. Dia meminta pendapat kepala HRD terlebih dahulu.

Kepala HRD menjawab: “Saya pikir karyawan senior harus menjadi asisten karena pengalaman kerjanya. Adapun karyawan baru, dia termotivasi dan ingin belajar, tetapi kurang pengalaman.”

“ Saya ingin anda memberi tahu saya poin kuat mereka!” kata sang direktur.                    

Agak bingung, kepala HRD berpikir dalam hati: “Tapi saya baru saja memberi tahu anda poin kuat mereka.”

 “Saya tidak mengacu pada kinerja pekerjaan mereka. Saya berbicara tentang karakter mereka di luar pekerjaan,” ujar sang direktur.

Kepala HRD  bingung, bertanya-tanya apa yang dimaksud sang direktur dengan pernyataannya.

“Pengalaman kerja satu tahun tidak berbeda dengan sepuluh tahun pengalaman kerja. Satu tahun sudah cukup untuk menjadi akrab dengan pekerjaan itu.

Sepuluh tahun hanya berarti mengulang pengalaman yang sama selama sepuluh tahun. Apakah anda memperhatikan aspek lain dari pekerjaan mereka?” tanya sang direktur sambil tersenyum.

Kepala HRD menggelengkan kepalanya untuk mengakui bahwa dia tidak memperhatikan. Karena dia tidak berada di gedung yang sama dengan dua karyawan ini, dia jarang melihat mereka, jadi dia tidak bisa memberikan wawasan pribadi tentang etika kerja mereka sehari-hari.

Sang direktur menjelaskan: “Ini yang saya temukan: Karyawan baru suka membantu orang lain. Dia membantu seorang rekan mengganti ban kempes, dia meminjamkan payungnya ke rekan lain saat dia berjalan di tengah hujan ke mobilnya, dan dia menawarkan untuk membantu rekan kerja ketika sesuatu terjadi di rumah.

Karyawan baru memiliki reputasi yang baik diantara rekan-rekan kerjanya. Karyawan senior, di sisi lain, meminta rekan kerjanya untuk membawakannya makanan, dan dia mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain. Rekan kerjanya tidak memiliki respek yang sangat tinggi tentang dia.”

Kepala HRD akhirnya mengerti yang dimaksud dengan kata-kata sang direktur dan setuju untuk mengangkat karyawan baru tersebut ke jabatan yang lebih tinggi.

Ketika mengevaluasi seorang karyawan, seseorang harus melihat melampaui kinerja pekerjaannya. Penting untuk melihat karakternya secara keseluruhan, kesediaannya untuk berkorban, dan apakah dia mendahulukan orang lain. Ini adalah tipe orang yang diinginkan dan dibutuhkan perusahaan.(nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI