Site icon NTD Indonesia

Berapa Banyak Sampan Kayu yang Dipanggul

images:alamy

images:alamy

Ada seorang pria yang tinggal di sebuah desa di atas pegunungan, seumur hidupnya baru pertama kali meninggalkan desanya, untuk pergi ke desa lain menangani suatu urusan.

Berjalan dan terus berjalan, akhirnya dia menjumpai sebuah aliran sungai kecil yang menghalangi perjalanannya, petani ini  menjadi  sangat jengkel. Tanpa sengaja dia melihat ada sebuah pohon yang hampir tumbang.

Pria tersebut mendadak mendapatkan inspirasi, dia mengeluarkan kapak kecil yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi, dengan cekatan dia membuat sebuah sampan kayu kecil, dan berkat sampan kayu kecil itu dia berhasil menyeberangi sungai itu.

Walaupun dia bisa mengatasi kesulitan yang berada di depan mata dengan sangat lancar sekali, namun setelah tiba di seberang sana pria tersebut malah menjadi risau lagi, di dalam hatinya muncul banyak sekali pertanyaan “bagaimana ini”.

Dia berpikir: “Andaikata saya kurang beruntung dan menjumpai sebuah sungai lagi, harus bagaimana? Andaikan di sekitar sana tidak terdapat pepohonan yang bisa dibuat menjadi sampan kayu, saya harus bagaimana?

Setelah dipikir dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pria tersebut memutuskan untuk membawa pergi sampan kayu ini bersamanya.  

Sampan kayu ini sangat berat sekali, pria tersebut hanya berjalan untuk beberapa langkah saja nafasnya  sudah  terengah-engah. Tetapi untuk mencegah segala kemungkinan yang bisa terjadi, pria tersebut tetap melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang sangat berat, dan setiap berjalan sebentar saja dia sudah harus beristirahat.

Selama perjalanan yang ditempuh oleh petani tersebut tidak pernah menjumpai aliran sungai apapun juga, tetapi karena pria tersebut memanggul sampan kayu itu, maka dia telah menghabiskan waktu beberapa kali lipat lamanya baru bisa sampai ke tempat tujuannya.

Setiap orang persis seperti pria dalam kisah itu. Masing-masing juga memanggul sebuah “sampan kayu”. Ada sebagian orang “sampan kayu”-nya itu adalah terlalu terikat pada harta, ada sebagian orang lagi adalah terikat pada nama dan kepentingan, ada sebagian pula adalah sifat pamer, ada juga yang terikat pada dendam,  masih ada orang yang sekaligus memanggul beberapa “sampan kayu”, tetapi mereka masih tidak mengeluh keberatan! 

Kita tidak bisa menentukan masa depan, tetapi bisa memilih untuk meninggalkan beban kita sehingga dapat maju ke depan dengan langkah yang cepat dan ringan! (Huang Tong/The Epoch Times/lin)