Budi Pekerti

Berterima Kasih kepada Orang Lain namun Jangan Mengharapkan Terima Kasih

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang pria yang dipenuhi kemarahan yang meluap-luap. Kejadian yang memicu amarahnya terjadi sebelas bulan yang lalu, namun ia masih merasa kesal hanya dengan menyebutkannya. Ia telah membagikan bonus Natal sebesar $10.000 kepada 34 karyawannya — masing-masing sekitar $300 — hanya untuk tidak menerima sepatah kata pun terima kasih. Ia meratap: “Saya menyesal pernah memberi mereka bonus itu.”

Seorang bijak pernah berkata: “Seseorang yang dikuasai amarah meracuni seluruh dirinya.” Saya bersimpati kepadanya. Ia berusia 60 tahun. Menurut statistik perusahaan asuransi jiwa, rata-rata harapan sisa hidup seseorang adalah dua pertiga dari selisih antara usia saat ini dan usia 80 tahun. Pria ini, jika beruntung, mungkin memiliki 14 atau 15 tahun lagi. Sebaliknya, ia menyia-nyiakan hampir satu tahun penuh dari sisa hidupnya yang terbatas dengan tenggelam pada keluhan masa lalu. Saya benar-benar mengasihaninya. Pandangan saya adalah ini: harapannya akan rasa terima kasih adalah kesalahan mendasar. Dia pada dasarnya salah memahami sifat manusia.

Jika anda menyelamatkan nyawa seseorang, apakah anda mengharapkan rasa terima kasih? Mungkin saja. Tapi lihat Samuel Leibowitz, sebelum menjadi hakim, adalah seorang pengacara pembela kriminal terkenal yang menyelamatkan 78 penjahat dari hukuman mati kursi listrik. Tebak berapa banyak yang datang untuk berterima kasih kepadanya secara langsung, atau setidaknya mengirim kartu Natal? Saya rasa anda benar — tidak satu pun.

Rasa terima kasih tidak mengharapkan apa pun.

Ketika uang terlibat, kemungkinannya bahkan lebih kecil. Seorang teman bercerita bahwa dia pernah membantu seorang teller bank yang menggelapkan dana untuk berjudi di pasar saham dan kehilangan segalanya. Teman saya menanggung kerugian untuk mencegahnya diadili. Apakah teller itu berterima kasih kepadanya? Ya, tetapi hanya untuk sementara. Kemudian, dia berbalik melawan orang yang menyelamatkannya — dia malah masuk penjara.

Begitulah cara dunia — jangan berharap hal-hal berubah. Mengapa tidak menerimanya saja? Kita harus mengikuti contoh Marcus Aurelius, kaisar Romawi yang paling bijaksana. Suatu hari, ia menulis dalam buku hariannya: “Hari ini saya akan bertemu dengan orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang egois, orang-orang yang mementingkan diri sendiri, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Saya tidak perlu terkejut atau khawatir, karena saya tidak dapat membayangkan dunia tanpa orang-orang seperti itu.”

Orang tua sering kali kesal kepada anak-anak mereka karena gagal menunjukkan rasa terima kasih. Tetapi jika kita tidak mengajari mereka, bagaimana anak-anak dapat belajar untuk berterima kasih? Ketiadaan rasa terima kasih adalah hal yang alami seperti gulma yang tumbuh liar; namun, rasa terima kasih seperti mawar, membutuhkan perawatan dan pemeliharaan yang cermat dengan kasih sayang.

Janganlah kita lupa: untuk memiliki anak-anak yang memiliki rasa terima kasih, kita harus terlebih dahulu memiliki rasa terima kasih sendiri. Kata-kata dan tindakan kita memiliki bobot yang sangat besar. Di depan anak-anak, jangan pernah meremehkan kebaikan orang lain. Jangan pernah berkata: “Lihatlah hadiah Natal yang diberikan sepupumu — dia membuat semuanya sendiri dan tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun!” Ucapan seperti itu mungkin tampak sepele bagi kita, tetapi anak-anak menyerapnya. Sebaliknya, marilah kita berkata: “Terry pasti telah menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan hadiah Natal ini! Betapa perhatiannya dia! Kita harus menulis surat terima kasih kepadanya.” Dengan cara ini, anak-anak kita secara tidak sadar belajar untuk menumbuhkan kebiasaan menghargai dan berterima kasih.

Satu-satunya jalan menuju kebahagiaan adalah berhenti mengharapkan rasa terima kasih dari orang lain. Memberi adalah sukacita tersendiri — sukacita memberikan kebaikan.