Budi Pekerti

Biarawan Tua yang Basah Kuyup

Malam akan segera tiba, dan seorang biarawan tua sedang dalam perjalanan pulang ke kuil. Tiba-tiba, ada petir yang menggelegar, dan hujan turun dari langit. Hujan deras, dan tidak ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti dalam waktu dekat.

Biarawan itu melihat sekeliling dan melihat sebuah rumah tidak jauh di depan. Dia berlari ke arahnya untuk mencari perlindungan untuk malam itu.

Rumah itu sangat besar. Ketika pelayan yang membukakan pintu melihat bahwa itu adalah seorang biarawan, ia berbicara kepada biarawan itu dengan suara dingin. “Majikanku tidak berurusan dengan biarawan dan pendeta. Silakan pergi ke tempat lain”.

Biarawan itu memohon kepadanya: “Hujan terlalu deras, dan tidak ada toko atau tempat tinggal di dekat sini. Tolong punya hati untuk mengizinkan aku berteduh”.

Pelayan itu berkata, “Saya harus bertanya kepada tuan saya”. Dia segera kembali dengan balasan. Jawabannya tetap tidak.

Biarawan tua itu bertanya apakah dia bisa berlindung di bawah atap. Pelayan itu menggelengkan kepalanya. Biarawan tua itu tidak punya pilihan. Setelah menanyakan nama pemilik rumah, dia berbalik dan berjalan kembali ke kuil sambil kehujanan, basah kuyup kedinginan.

Tiga tahun kemudian, pemilik rumah menikah dan memiliki anak. Istrinya ingin pergi ke kuil untuk berdoa demi keberuntungan keluarga kecil mereka, dan pemilik rumah pergi bersamanya.

Ketika dia sampai di kuil, dia melihat namanya tertulis di sebuah lembar tanah liat di altar. Bingung, dia bertanya pada seorang biarawan muda yang sedang membersihkan kuil.

Biarawan muda itu tersenyum. “Kepala biara meletakkan lembar tanah liat di sana tiga tahun lalu saat hujan deras. Dia memutuskan untuk menulis nama pria itu di lembar tanah liat dan membacakan sutra setiap hari untuk mentransfer kebaikan kepada pria itu dengan harapan agar pria itu tidak menuai karma buruk atas perbuatan yang dilakukan kepada kepala biara. Hanya itu yang kami tahu”.

Pemilik rumah itu langsung tahu bahwa dia adalah orang yang dibicarakan oleh biarawan itu. Dia sangat malu pada dirinya sendiri. Sejak saat itu, dia menjadi umat yang taat dan sering berdana.

Biksu dan perampok

Pernah hidup seorang biarawan yang rajin dalam kultivasi dirinya. Perampokan marak di mana dia tinggal. Suatu malam, biarawan itu bermimpi seorang dewa berkata kepadanya: “Kamu akan mati besok. Perampok bernama Zhu Er mengendarai kuda putih memiliki karma buruk terhadapmu di kehidupan sebelumnya. Dia akan membunuhmu, dan tidak mungkin kamu bisa menghindari bencana itu”.

Biarawan itu memohon kepada dewa, “Tolong bantu saya karena saya telah melakukan banyak perbuatan baik dalam kehidupan ini”.

Dewa itu menjawab: “Aku tidak bisa membantumu. Satu-satunya orang yang dapat membantu adalah diri anda sendiri”.

Ternyata benar, keesokan paginya seorang perampok datang dan menyeret biarawan itu keluar dari kuil. Dia mengancam akan membunuh biarawan itu kecuali biarawan itu memberitahukan di mana orang-orang kaya dan para wanita berada di daerah itu.

Perampok itu menunggang kuda putih, seperti yang dikatakan dewa. Biarawan itu ingat mimpinya dan berpikir: “Saya sudah berdosa sehingga saya layak mati. Jika saya menuntun anda ke orang lain sehingga anda bisa merampok mereka dan menyakiti para wanita, saya akan melakukan lebih banyak dosa”. Dia menjawab perampok dengan keras: “Saya tidak akan membawa anda ke sana. Apakah namamu Zhu Er? Aku akan membiarkanmu membunuhku. Ambil hidupku dan bukan orang lain”.

Perampok itu terkejut. “Bagaimana kamu tahu namaku? Anda tentunya biarawan suci! “

Biarawan itu menceritakan kepadanya tentang mimpi malam sebelumnya.

Apa yang dikatakan biarawan itu menyentuh perasaan sang perampok. Dia melemparkan senjatanya ke lantai. Dia bersujud kepada patung dewa tiga kali dan pergi.

Berkat kebaikannya, biarawan itu tidak hanya menyelamatkan orang lain dari pembunuhan, tetapi juga menyelamatkan hidupnya sendiri. Perampok Zhu Er tidak sepenuhnya tanpa belas kasihan. Dia memilih untuk menyelesaikan pertalian karma buruk antara mereka di kehidupan sebelumnya dengan mengampuni biarawan itu. Dia juga memutuskan untuk membuka lembaran baru. Ketika seseorang benar-benar percaya pada Tuhan dan menghormati mereka, dia akan diselamatkan oleh rahmat Tuhan. (epochtimes/bud/ch)