Budi Pekerti

Buddha Emas

Buddha
Buddha. @Pexels

Pada musim gugur tahun 1988, saya bersama suami saya mendapat undangan seminar di Hongkong, karena ini adalah perjalanan kami yang pertama kali ke Asia, kami memutuskan memperpanjang perjalanan kami, berkunjung ke Thailand.

Setelah tiba di Bangkok, kami memutuskan mengunjungi beberapa candi terkenal, didampingi tour guide serta supir, kami mengunjungi beberapa candi yang kecil dan besar, candi-candi ini terlihat sangat megah.  Ada sebuah candi yang disebut candi Buddha Emas, tetap meninggalkan kesan yang tak terhapus dalam ingatan saya.

Candi ini terletak ditempat yang tidak terlalu luas hanya sekitar 30 meter persegi. Ketika kami masuk kedalam candi ini, didepan kami terlihat sebuah patung Buddha yang terbuat dari emas murni yang tingginya 10 meter. Ketika saya mendongakkan kepala memandang ke patung Buddha yang berwajah welas asih dan megah, didalam hati timbul rasa haru yang tidak dapat saya jelaskan.

Ketika semua wisatawan sibuk berfoto atau memandang patung Buddha emas dengan terheran-heran, saya memandang ke kotak kaca disamping saya disana tertulis sejarah patung Buddha yang yang mengharukan.

Di tahun 1957, karena pemerintah Thailand memutuskan akan membangun jalan raya di Bangkok, jalan tersebut melewati sebuah candi, oleh sebab itu candi tersebut harus dipindahkan, lalu para bhiksu didalam candi bersiap-siap memindahkan patung buddha yang terbuat dari tanah, tetapi patung buddha yang satu ini sangat besar dan sangat berat, oleh sebab itu ketika dalam pembongkaran, ternyata ada beberapa bagian yang retak, yang lebih parah adalah pada saat itu hujan turun dengan deras, bhiksu tua yang memindahkan patung ini supaya tidak terjadi kerusakan parah, memutuskan sementara diletakkan ditempat semula lalu mengambil kain terpal menutupi patung supaya tidak kena hujan.

Pada malam tersebut, bhiksu tua membawa senter memeriksa patung Buddha yang ditutup kain terpal apakah tersiram hujan, ketika lampu senternya masuk kedalam kain terpal, dia melihat sebuah cahaya yang terang, bhiksu tua dengan lebih teliti memeriksa, dia curiga didalam patung Buddha tanah tersebut mengandung sesuatu. Dia kembali ke kuil mengambil martil dan pahat, dengan hati-hati dia mulai memahat permukaan tanah pada patung Ketika dia menyingkirkan lapisan tanah yang pertama, dia sangat terkejut menemukan benda berkilauan. Bhiksu tua mempercepat gerakannya. Setelah beberapa jam bekerja keras, akhirnya bentuk asli Buddha Emas terpampang dihadapannya.

Menurut sejarah, ratusan tahun lalu ketika pasukan Birma menyerang Thailand (dulu kerajaan Ayutthaya), pada saat itu para bhiksu setelah mengetahui penyerangan tersebut, untuk melindungi patung Buddha Emas ini mereka sengaja melapis patung tersebut dengan lapisan tanah, supaya patung berharga ini tidak dijarah oleh pasukan Birma, dikatakan pada saat itu semua bhiksu didalam vihara dibunuh oleh pasukan Birma, tetapi untungnya patung yang berharga ini masih utuh, patung itu tetap berada di antara reruntuhan Ayutthaya tanpa menarik banyak perhatian.

Ketika dalam perjalanan pulang ke Amerika, didalam pikiran saya selalu teringat, sebenarnya kita juga sama dengan patung buddha tanah tersebut, karena takut, kita tanpa sadar melapisi diri kita dengan semacam lapisan debu yang tebal, sedangkan “emas murni” adalah diri sejati kita. Dari kecil terbentuk konsep di tengah manusia biasa yang menutupi diri kita yang sejati, sekarang yang harus kita lakukan adalah seperti bhiksu tua tersebut mengambil sebuah martil dan pahat, meluruhkan kotoran duniawi, kembali ke esensi sejati kita.(dajiyuan)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.



VIDEO REKOMENDASI