Mengapa ada orang baru kenal namun langsung bersimpati pada Anda, ada juga yang baru kenal langsung membenci Anda tanpa sebab yang jelas? Temukan jawabannya dalam kisah berikut!
Alkisah, di Tiongkok kuno, hiduplah sepasang suami istri. Sang istri bernama Jade, dan pasangan itu hidup sederhana dari berjualan kecil-kecilan.
Suatu hari, suami Jade berbisnis ke kota tetangga dan Jade ditinggal sendiri di rumah. Ketika hari menjelang sore, Jade pergi berbelanja ke pasar untuk memasak bagi sang suami.
Saat pulang tergesa-gesa menenteng keranjangnya, ia melihat seorang pengemis tua berbaju lusuh duduk di tangga di tepi jalan. Musim panen yang buruk di tahun itu, menyebabkan banyak orang tidak memiliki banyak makanan, dan para petani pun terpaksa menjadi pengemis.
Melihat pria tua ini, Jade serasa bertemu pamannya, sebersit rasa kasihan timbul di hati. Ia maju mendekati dan berkata, “Paman, kamu sudah makan malam?” Pria tua menggelengkan kepala. “Kalau begitu ikut saya! Rumah saya di depan sana, dan saya punya sisa makanan.”
Pak tua mengikuti Jade berjalan, ia berhenti di depan pintu dan menunggu. Jade melihat pak tua gemetar karena angin dingin, ia merasa tak tega. Jade membujuk: “Paman, masuk kedalam hindari angin! Pakaian tidak cukup menahan dingin, terlalu dingin di luar.” Pak tua ragu sebentar, namun rasa lapar dan dingin mendorongnya masuk rumah.
Jade menyuruh pak tua duduk, memberinya mantel bekas suaminya untuk dipakai. Jade membuatkan semangkuk besar sup mie yang mengepul panas, dengan telur dan sayuran. Ia juga menyajikan dua buah mantau dan sepiring acar dengan saus wijen.
Setelah kenyang makan, tubuh pak tua menjadi hangat dan bertenaga. Ia sangat berterima kasih diperlakukan sedemikian baik oleh Jade, yang merupakan orang asing baginya. Saat pak tua hendak berpamitan, Jade memberinya sekantong makanan kering untuk bekal. Namun saat itu, suami Jade pulang dan kaget melihat sisa mangkok dan sumpit di meja, serta pak tua yang asing memakai mantel miliknya. Ia bertanya pada istrinya, “Kerabat dari manakah bapak tua ini?”
Ketika tahu bahwa pak tua ternyata orang asing yang dibawa dari jalanan, ia sangat gusar. Berani-beraninya istrinya! Baru saja ditinggal sebentar, sudah membawa pulang orang asing, dijamu makan, minum, pakaian… Sang suami pun berkata pada Jade, “Saya tidak bisa lagi hidup begini. Kita bercerai saja, pulanglah ke rumah ibumu!”
Jade hanya terduduk menangis tidak membela diri. Pak tua pun berdiri diam disana, serba salah, dan suasana menjadi kikuk.
Tepat saat itu, seseorang mengetuk pintu. Suami Jade membuka pintu, dan terlihatlah seorang pendeta Tao di ambang pintu. Suami Jade langsung menolaknya, “Tidak menerima tamu!” hardiknya.
Namun sang pendeta berkata, “Saya justru datang karena masalah perceraianmu!”
Sang suami tersentak kaget dan langsung sadar bahwa ia kedatangan seseorang dengan ilmu tinggi. Dengan cepat ia mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Didalam rumah, pendeta mengeluarkan sebuah cermin perunggu dari jubahnya, diletakkannya di atas meja. Dia minta semua orang melihat, “Kalian lihatlah!”
Semua orang mengelilingi cermin. Terlihatlah seorang petani sedang mencangkul. Setelah beberapa saat, dia duduk di bawah pohon beristirahat, dan menemukan sebuah kuburan yang tak terurus di dekatnya. Sang petani berdiri dan merapikan kuburan tersebut.
Pendeta Tao menjelaskan: “Petani itu adalah kehidupan masa lalu dari pak tua yang berdiri di sini hari ini. Kuburan itu merupakan kuburan di kehidupan masa lalu istrimu. Budi jasa setetes air, dibalas sebanyak mata air. Maka di kehidupan ini pak tua dijamu untuk membalas budi.”
Pendeta Tao berkata kepada suami Jade, “Apa kesalahan istrimu? Jika kamu benar-benar ingin menceraikannya, saya khawatir akibatnya fatal.”
Suami Jade seketika merasa malu, dan dengan cepat bangkit dan berterima kasih kepada pendeta, karena telah menyelamatkan keluarganya. Pendeta melihat masalah itu telah reda, suami dan istri sudah berbaikan kembali, ia pun berpamitan.
Pak tua juga pamitan. Kini selain makanan kering dan dua potong pakaian, suami Jade juga membekalinya dengan sekantong jagung. Pak tua berterima kasih berkali-kali, dan pergi dengan hati bahagia.
Apa moral dari kisah ini?
Di zaman sekarang, orang yang melakukan kebaikan hanya sekecil biji lada, sudah tidak sabar untuk mengharapkan pahala yang besar seketika. Jika tidak dapat pahala maka kecewa, dan berpikir, “orang baik ternyata tidak dapat pahala”, lalu tidak mau melakukannya lagi.
Tapi lihatlah pak tua. Di kehidupan lampau saat ia melakukan kebaikan, sama sekali tidak terpikir pahala, tetapi balasan kebaikan justru datang di saat yang paling ia butuhkan. Pepatah mengatakan, kebaikan dibalas kebaikan dan kejahatan dibalas kejahatan. Begitu saatnya tiba, hukum alam akan mengatur semuanya untuk terbalaskan. (epochtimes/crl/lia)

