Site icon NTD Indonesia

Cara Bertahan di Kondisi Sulit

Selama periode ketika Konfusius dan para pengikutnya terjebak di antara negara bagian Chen dan Cai, mereka mengalami hari-hari tanpa makanan dan menghadapi bahaya nyata. Namun di tengah kelaparan dan ketidakpastian, Konfusius tetap tenang. Dia terus membaca buku, mengajar murid-muridnya, dan bermain musik, menolak untuk membiarkan kesulitan eksternal mengganggu keseimbangan batinnya. Episode ini telah lama menjadi contoh yang mencolok dalam budaya Tiongkok tentang bagaimana seseorang merespons ketika keadaan kacau.

Murid-muridnya, yang kelelahan dan putus asa, berjuang untuk memahami ketenangannya. Melihat guru mereka kelaparan namun masih bisa bermeditasi, bernyanyi dan memainkan kecapi, Zi Lu mempertanyakan mengapa dia berperilaku seperti ini. Konfusius menjawab dengan kalimat yang telah bergema sepanjang sejarah: “Orang yang bermoral tidak kehilangan integritas dalam kemiskinan, sementara orang yang berpikiran sempit sering kali berantakan ketika ditekan oleh kesulitan.” Yang paling penting, jelasnya, bukanlah kelangsungan hidup langsung, tetapi mempertahankan moral seseorang ketika kondisi menjadi tak menentu.

Pemikiran Konfusianisme menempatkan konsep Dao sebagai pusat kehidupan manusia. Ini bukan sekadar kode moral, bukan pula cita-cita abstrak, tetapi fondasi yang memberikan koherensi dan nilai kehidupan. Dalam kerangka ini, Dao menyediakan struktur batin yang memungkinkan seseorang tetap stabil bahkan ketika dunia luar sedang krisis.

Inilah sebabnya mengapa Konfusius bisa tetap tenang secara mental bahkan saat dikelilingi oleh bahaya dan kelaparan. Dao, menurut pandangannya, bukanlah sesuatu yang hilang ketika keadaan memburuk; justru itulah yang menopang seseorang ketika segala sesuatu yang lain dilucuti. Dari perspektif ini, kesulitan menjadi ujian karakter. Kemampuan untuk berpegang pada standar batin di bawah tekanan mengungkapkan siapa seseorang sebenarnya.

Gagasan tersebut, yang sering diterjemahkan sebagai “kepuasan dalam kemiskinan dan kegembiraan dalam Dao,” tidak menyiratkan pengunduran diri secara pasif. Sebaliknya, ini menunjuk pada kemampuan batin untuk menempatkan penderitaan dalam kerangka moral dan spiritual yang lebih besar, memungkinkan makna untuk menerangi bahkan realitas eksternal yang paling gelap sekalipun.

Makna sebagai syarat untuk bertahan hidup

Viktor Frankl dan Tilly Grosser

Di dunia barat ada buah pemikiran dari Viktor Frankl, seorang psikolog Austria yang selamat dari penjara di kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II. Setelah perang, Frankl mengembangkan logoterapi, sebuah bentuk psikoterapi yang didasarkan pada gagasan bahwa dorongan utama kehidupan manusia bukanlah kesenangan atau kekuatan, tetapi pencarian makna.

Ide-ide Frankl dibentuk langsung oleh pengalamannya di kamp-kamp dan kemudian dicatat dalam bukunya Man’s Search for Meaning. Dia sering mengutip pengamatan Friedrich Nietzsche bahwa seseorang yang tahu mengapa mereka hidup dapat bertahan hampir dalam segala hal. Wawasan ini menjadi pusat pendekatan terapeutiknya. Bukunya menjelaskan 2 pemikiran besar:

1) Makna hidup bisa ditemukan bahkan dalam penderitaan

Frankl mengamati bahwa orang yang memiliki alasan untuk hidup—tujuan, tanggung jawab, atau harapan—lebih mampu bertahan di kondisi paling kejam. Penderitaan tidak selalu bisa dihindari, tetapi sikap kita terhadap penderitaan bisa dipilih. Di situlah makna muncul.

Saat dipenjara, Frankl mengamati bahwa kelangsungan hidup seseorang yang sedang dalam penderitaan seringkali kurang bergantung pada kekuatan fisik, melainkan sangat tergantung pada kekuatan mental. Tahanan atau seseorang yang menderita sakit yang tetap mempertahankan tujuan, cinta dengan keluarga, atau rasa tanggung jawab di masa depan secara ajaib mampu menghadapi penderitaan yang ekstrem. Namun mereka yang kehilangan harapan sering kali menurun dengan cepat. Bahkan pilihan kecil mencerminkan pergeseran batin ini. Di kamp-kamp, rokok bisa ditukar dengan jatah makanan, namun ketika seseorang menghisap rokok terakhir mereka alih-alih menyimpannya, orang lain sering memahami ini sebagai tanda bahwa orang tersebut telah menyerah pada masa depannya.

2) Kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap

Walau kebebasan fisik dirampas, manusia tetap memiliki kebebasan batin: memilih respons terhadap situasi. Mereka yang menjaga martabat, kasih, dan harapan—meski kecil—lebih kuat secara psikologis.

Frankl sendiri bertahan sebagian dengan secara aktif memperkuat dunia batinnya. Dia sering memikirkan istrinya, Tilly, meskipun dia tidak tahu apakah dia masih hidup. Kehangatan dari hubungan yang dibayangkan itu memberinya alasan untuk bertahan. Logoterapi menekankan bahwa meskipun kebebasan eksternal dapat dibatasi secara brutal, kebebasan batin tetap menjadi pilihan. Bahkan dalam kondisi yang kejam, seseorang dapat memutuskan bagaimana menafsirkan penderitaan dan apa artinya untuk menetapkannya.

Wawasan ini telah bergema dengan banyak orang yang menghadapi kesulitan. Rasa sakit dan kesulitan adalah bagian kehidupan yang tak terhindarkan, tetapi ketika penderitaan terhubung dengan nilai-nilai seperti cinta, tanggung jawab, atau komitmen moral, itu menjadi lebih dari sekadar siksaan. Merawat anggota keluarga yang sakit, misalnya, mungkin melelahkan dan menyakitkan, namun rasa sakit itu sering ditopang oleh cinta dan tujuan, memungkinkan ketekunan terasa bermakna daripada kosong.

Pelajaran untuk dunia modern yang menekan

Konfusius, dengan tenang bermain musik sambil dikelilingi oleh bahaya, menawarkan lebih dari sekadar anekdot sejarah. Dia menunjukkan cara hidup yang menjaga batin ketika keadaan mengancam. Ini juga merupakan penekanan Konfusianisme pada pengembangan kebajikan dan menjadi sepenuhnya manusiawi – tidak hanya berdiri teguh sendiri, tetapi juga mendukung orang lain.

Kehidupan modern menempatkan orang-orang di bawah tekanan konstan: kecemasan tentang masa depan, kelelahan emosional, dan rasa kesepian adalah pengalaman umum. Dari contoh Konfusius, bentuk kebijaksanaan yang tenang muncul di bawah tekanan, melindungi nilai-nilai seseorang di tengah ketidakpastian, dan terus bertindak dengan integritas bahkan ketika kondisinya sulit.