Site icon NTD Indonesia

Cara Mencapai Kebahagiaan dari Aristoteles

Plato dan Aristoteles

Plato dan Aristoteles. ©wikipedia

Filsuf Yunani, Aristoteles, pernah berkata bahwa “Kebahagiaan tergantung pada diri kita sendiri”. Untuk sepenuhnya memahami inti dari kebahagiaan manusia, dia percaya bahwa kita harus berusaha memahami fungsi istimewa manusia.

Kemasyhuran, uang, pengakuan, cinta,… apakah hal-hal ini yang membuat kita bahagia selamanya? anggap mereka sebagai tetesan air, momen singkat dalam hidup. Aristoteles berbicara tentang kebahagiaan abadi, yang tidak hilang dengan mudah seiring waktu.

Untuk mencapai kebahagiaan, seseorang harus menggunakan fungsi istimewanya; artinya adalah : Sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh manusia.

Dalam menjelaskan fungsi istimewa dari manusia, filsuf agung itu mengambil dari penyelidikan biologisnya. Di dunia ada tumbuhan, hewan dan manusia. Pertumbuhan adalah kemampuan utama mereka, sementara reproduksi adalah kemampuan utama hewan. Sedangkan pada manusia, adalah kemampuan utamanya adalah untuk berpikir.

Berpikir.

Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di Bumi yang mampu berpikir sebelum bertindak, dan sebagai akibatnya, bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Kita lebih maju daripada hewan untuk mencari tempat tinggal dan reproduksi. Kehendak bebas dan perspektif yang lebih luas dalam hidup adalah berkat Sang Pencipta yang istimewa untuk manusia. Dengan demikian, sebagai makhluk rasional, kita harus berusaha menyalurkan fungsi istimewa kita sebagai manusia.

Sebagaimana dijelaskan Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, fungsi manusia adalah untuk menjalani kehidupan yang didasarkan pada prinsip rasional. Ini berarti bahwa untuk mencapai kebahagiaan, seseorang harus melatih kemampuannya untuk bernalar, dan ditindaklanjuti dengan kebajikan etis.

Kebajikan etis

Kebajikan etis adalah perasaan yang benar diarahkan pada situasi tertentu. Ciri-ciri karakter seperti keberanian, kesederhanaan, kejujuran, dan sebagainya adalah kebajikan etis. Tindakan yang dilakukan dengan kebajikan etis adalah merupakan unsur kebahagiaan.

Keberanian adalah kebajikan etis.

Semua kebajikan etis adalah bernilai seperti emas antara kondisi yang berlebihan dan yang kurang. Contohnya, keberanian adalah titik tengah antara pengecut dan kecerobohan. Seorang manusia dengan penilaian rasional memahami bahwa bahaya sepadan dengan risikonya.

Kesederhanaan adalah keadaan di tengah-tengah antara kegemaran berlebih dan ketidakpekaan; kita bisa mengamati keadaan ini ketika seseorang hanya makan makanan dalam jumlah yang secukupnya untuk meninggalkan sebagian untuk orang lain.

Namun, menurut Aristoteles, itu harus dalam niat anda untuk melakukan perbuatan baik agar dapat diperhitungkan, atau kebahagiaan tidak dapat dicapai. Manusia akan bahagia ketika dia hidup sesuai dengan kebajikan sepanjang hidup mereka.

Jadi dalam perspektif sang filsuf, melalui tindakan yang berbudi; baik yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan, teman, atau kekayaan dan dengan alasan yang masuk akal, kita akan menemukan kebahagiaan sejati yang mengarah pada kemajuan fungsi istimewa kita sebagai manusia.

Di dunia di mana kepuasan instan adalah yang paling dicari, kita dapat melihat kembali ke filosofi Aristoteles tentang makna kebahagiaan sejati dan mencobanya. Seperti kata pepatah: “hidup adalah masalah pilihan.”

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.