Budi Pekerti

Didikan yang Bertanggung Jawab

Penjaga toko
Penjaga toko. (Getty Images via Canva Pro)

Lauter tua adalah seorang pedagang besar peralatan, di pasar ikan. Dia memiliki seorang putra yang tinggi badannya mencapai 1,9 m. Ia sangat pandai dan penurut. Selain waktu bersekolah, dia mempergunakan hampir seluruh waktu senggangnya untuk bekerja membantu Ayahnya di pasar.

Lauter tua adalah seorang yang sangat ramah dan selalu riang bersemangat, kecuali saat peristiwa yang terjadi pada hari itu …

Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan Lauter tua dengan muka merah padam, menarik anaknya ke atas mobil. Saya bergegas maju ke depan menanyakan permasalahannya.

Dengan menahan kemarahan, Si Lauter tua menceritakan kepada saya bahwa pada siang itu anaknya yang berada di toko, telah menjual sebuah coolbox (kotak pendingin) yang tidak lolos pengecekan kualitas, dimana penyumbat plastiknya kendur. Sebenarnya coolbox tersebut telah dia tandai untuk dikembalikan, tapi Lauter junior yang tidak melihat tanda itu, telah menjualnya.

Sambil tertawa saya meminta si Lauter tua jangan emosi, saya katakan, “Di Tiongkok ada sebuah pepatah yang mengatakan, yang tidak tahu tidak bersalah.”

Si Lauter tua menjawab, “Memang saya tidak memberitahu anak saya, tapi sebagai seorang pegawai toko ketika dia menjual coolbox itu, sudah seharusnya ia memeriksanya terlebih dahulu dengan saksama sebelum diberikan kepada pembeli. Sekarang, dia perlu pergi dengan saya untuk menutup kerugian yang sudah diderita oleh pembeli itu.”

Pada hari itu, sangat tidak kebetulan sekali, pembeli coolbox tersebut, seorang nelayan yang bernama Fandersar, tidak ada di rumahnya, kemungkinan hari itu dia melaut.

Masalahnya seperti apa yang telah diduga. Keesokan harinya Fandresar komplain ke toko Lauter tua, dan mengatakan bahwa coolbox yang penuh dengan ikan itu, telah menyebabkan isinya berubah kualitas, mengeluarkan bau ikan yang busuk.

Kemudian si Lauter tua itu memanggil anaknya yang baru pulang sekolah. Di hadapan orang banyak, Lauter tua meminta anaknya mengangkat coolbox yang berisi ikan busuk itu untuk diletakkan di atas timbangannya sendiri, lalu ditimbang.

Setelah itu dia mengeluarkan kalkulator, ikan-ikan itu ia hargai sesuai harga yang ada pada hari itu. Kemudian menghitung kerugian yang diderita oleh nelayan itu, totalnya sekitar satu juta rupiah.

Dia menunjukkan hasil hitungannya itu kepada anaknya, kemudian berkata, “Sudah kamu lihat, oleh karena keteledoranmu telah mengakibatkan terjadinya kerugian ini. Kamu harus tahu, kesalahan yang kamu lakukan harus kamu tanggung sendiri. Sebentar lagi libur kenaikan kelas. Dalam satu bulan itu kamu harus bekerja untuk tuan Fandersar, sampai cukup untuk menutupi kerugian yang telah diderita olehnya.”

Cerita di atas terdengar agak berlebihan bagi orang jaman sekarang, tapi hal ini sungguh-sungguh merupakan hal biasa pada dekade tahun enam puluhan. Perubahan ini, semuanya tidak lain karena telah terjadi kemerosotan moralitas manusia yang tajam. Manusia jaman sekarang tidak menyadarinya. Orang-orang saling bersaing dan berebut tanpa memperdulikan apa pun, bahkan ada yang sampai mempertaruhkan nyawa orang lain.

Mr. Li Hongzhi pernah menulis dalam bukunya, Zhuan Falun, sebagai berikut:
“… sekiranya setiap orang selalu berkultivasi (memperbaiki diri) ke dalam, setiap orang selalu mencari pada Xinxing (moralitas) sendiri, mencari sendiri sebab dari suatu kekurangan, agar waktu lain dapat melakukan dengan lebih baik, sebelum berbuat mempertimbangkan kepentingan orang lain. Dengan demikian masyarakat umat manusia tentu juga akan berubah baik, moralitas juga akan kembali meningkat; peradaban spiritual tentu juga berubah baik, keamanan publik tentu juga akan berubah baik, boleh jadi bahkan tanpa polisi. Tidak perlu ada yang mengatur, setiap orang mengurus diri sendiri, mencari ke dalam hati sendiri, menurut Anda bukankah ini sangat baik. Anda tahu bahwa dewasa ini hukum sudah makin sehat dan makin sempurna, namun mengapa masih ada yang berbuat kejahatan? Ada hukum mengapa tidak dipatuhi? Semata-mata karena Anda tidak dapat mengatur hatinya, ketika tidak terlihat, mereka masih akan berbuat kejahatan. Jika setiap orang selalu berkultivasi ke dalam lubuk hati, hasilnya akan sama sekali berlainan. Juga tidak perlu sampai Anda membela seseorang dari perlakuan tidak adil.” (minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI