Di dalam hutan, hiduplah dua ekor burung nuri, satu tua, satu muda.
Suatu hari, ada proyek penebangan hutan di sana, dan akibatnya banyak pohon buah-buahan yang biasa menjadi tempat mereka mendapatkan makanan, telah ditebang.
Sejak itu keduanya harus sering berpindah dari pohon yang satu ke yang lain, dan mereka juga harus terbang jauh untuk mencari makanan.
Burung nuri muda mengeluh dan berkata kepada burung nuri tua, bahwa hidup ini sangat sulit dan berat, mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan makanan, dan setiap hari, mereka selalu berada dalam ancaman akan kehilangan tempat tinggal.
Namun burung nuri tua berkata, bahwa roda kehidupan ini berputar, memintanya untuk bersabar, karena tidak mungkin hidup mereka akan terus seperti itu selamanya.
Kedua burung nuri itu tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya mereka memiliki bulu yang sangat indah, jadi pada suatu hari, ada seorang pemburu yang melihat mereka, dan kagum akan kecantikan bulu mereka.
Pemburu itu berhasil menangkap mereka, dan kemudian menjadikan mereka sebagai hadiah bagi rajanya.
Raja sangat senang, dan menjadikan satu kebun istana menjadi sangkar untuk mereka berdua.
Setiap hari, ada pengurus hewan yang akan memberikan mereka makanan yang berkualitas dan melimpah.
Saat itu, burung nuri muda berkata kepada burung nuri tua, bahwa benar, kalau roda kehidupan itu berputar, kini mereka hidup dengan mudah dan nyaman, tidak perlu bekerja keras, namun selalu mendapatkan cukup makanan. Disamping itu mereka juga akan aman dari para penebang pohon.
Namun burung nuri tua berkata untuk jangan terlena, karena roda hidup memang berputar, tidak akan selamanya berada di bawah, namun juga sangat mungkin, tidak akan selamanya berada di atas.
Beberapa waktu kemudian, ada seorang pemburu yang menghadiahkan untuk raja, seekor kera berbulu emas, kera itu sangat langka dan memiliki bulu yang sangat indah.
Raja menempatkan kera itu di kebun istana, dan hanya memberi sedikit ruang, untuk 2 ekor burung nuri yang sebelumnya ada di sana.
Dan karena kera itu agak sulit untuk diurus, kini pengurus hewan sangat sibuk, dan kadang lupa untuk memberi makan burung nuri di sana.
Akibatnya, 2 ekor burung nuri itu, kadang harus memakan sisa-sisa makanan yang jatuh atau apapun yang bisa mereka temukan di dalam “wilayah” mereka yang kecil, tidak jarang pula mereka akan kelaparan.
Burung nuri muda berkata lagi, dia kembali mengeluh bahwa hidup mereka sangat berat dan tidak menyenangkan.
Dan lagi-lagi burung nuri tua mengatakan untuk kembali bersabar, dan bahwa kehidupan mereka suatu saat pasti akan berubah.
Benar saja, walaupun sudah dipelihara beberapa waktu, kera berbulu emas itu ternyata tidak bisa hilang sifat liarnya.
Ketika raja ingin melihat langsung kera itu dan mendekat, kera itu langsung mencakarnya.
Akibatnya raja terluka dan menjadi marah, dia lalu memerintahkan agar kera itu dikembalikan saja ke hutan.
Lalu kemudian, kebun di istana, kembali menjadi “wilayah” milik 2 ekor burung nuri, dan kehidupan keduanya kembali menjadi mudah dan mereka tidak pernah kekurangan makanan lagi.
Jangan bersedih di masa sulit, jangan terlena di masa mudah. Kapan saja, keadaan bisa berubah, dan pasti akan berubah. (NTDIndonesia/an)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
