Tidak peduli kekayaan yang kita miliki atau posisi yang kita pegang dalam hidup, kita masih akan terlilit hutang pada orang lain. Berikut adalah dua kisah filosofis yang menunjukkan hal ini.
Seorang pria yang mencoba bunuh diri diselamatkan di sebuah kuil
Saat pria itu perlahan-lahan terbangun dari pingsannya, dia mengintip Kepala Biara dan menyadari upaya bunuh dirinya telah digagalkan.
Sebagai pengakuan, dia berkata: “Terima kasih, Kepala Biara; Anda tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk menyelamatkan saya, karena saya telah memutuskan untuk tidak hidup lebih lama lagi. Jika saya tidak mati hari ini, saya akan mengakhiri hidup saya besok!
Kepala Biara menghela nafas: “Saya benar-benar tidak bisa menghentikan anda. Namun, saya perlu bertanya kepada anda, apakah anda sudah melunasi semua hutang anda? ”
Terkejut dengan pertanyaan itu, sang pria menjawab: “Meskipun keluarga saya miskin, saya memiliki cukup makanan dan pakaian dan saya tidak pernah meminjam uang.”
Kepala Biara dengan bijak berkata: “Hidupmu telah diberikan kepadamu oleh orang tuamu, dan kau telah dibesarkan dari kecil hingga sekarang, jadi kamu berutang kepada mereka.
Makanan, pakaian, dan kebutuhan anda lainnya berasal dari gunung dan sungai di dunia, jadi anda berhutang pada dunia; pengetahuan dan kebijaksanaan anda berasal dari guru anda, sehingga anda berutang kepada guru anda. Hutang dari manusia selama hidup mereka adalah terlalu banyak. Sudahkah anda membayar semuanya?”
Pria itu berkata dengan panik, “Jadi saya punya hutang! Bagaimana cara membayar mereka kembali?”
Kepala Biara tersenyum dan berkata: “Dimana kesulitannya? Yang diperlukan hanyalah merangkul satu kata: menghargai. Ambil langkah-langkah untuk bertindak menghargai segala sesuatu dan semua orang dalam hidup anda.”
Tercerahkan oleh hal ini, pria itu membungkuk kepada kepala biara beberapa kali; dia kemudian berjalan keluar dari kuil dengan semangat dan berhasrat untuk menghadapi dunia sekali lagi.
Cinta Sejati dan Abadi
Suatu pagi, seorang pria berusia 80 tahun pergi menemui dokter untuk melepas jahitan operasinya. Resepsionis memberi tahu dia bahwa dokter sedang sibuk mengoperasi seorang pasien.
Lelaki tua itu duduk dan menunggu dengan sabar, tetapi terus-menerus melirik arlojinya. Seorang perawat buru-buru mendekat dan mulai mengobrol dengan pria itu. Perawat mengajak untuk duduk dan kemudian melanjutkan untuk menghapus kegelisahannya.
Dengan penasaran perawat bertanya kepada pria itu: “Mengapa kamu terburu-buru?”
Orang tua itu menjawab: “Saya punya janji dengan seseorang. Maaf merepotkanmu!”
Merenung dalam diam, perawat itu berpikir: “Orang tua ini tidak harus pergi bekerja, jadi apa yang membuatnya begitu terdesak waktu?”
Melanjutkan berbicara, pria itu berkata, “Saya akan pergi ke panti jompo untuk sarapan bersama istri saya.”
Dengan penasaran, perawat itu bertanya, ”Mengapa dia tinggal di panti jompo?”
Pria itu menjawab: “Dia telah menderita Alzheimer untuk beberapa waktu.”
Setelah melepas jahitannya, perawat itu melirik jam tangannya. “Oh! Jika anda terlambat, apakah istri anda akan mengkhawatirkan anda?”
“Tidak, dia tidak mengenaliku selama lima tahun terakhir. Sebenarnya, dia tidak tahu apakah saya akan datang atau tidak!”
Menanyakan lebih lanjut, perawat itu bertanya: “Dia tidak mengenalimu selama 5 tahun!? Kenapa kamu masih pergi setiap pagi?”
Pria tua itu tersenyum. Sambil menepuk tangan perawat, dia berkata: “Dia tidak mengenali saya, tapi saya mengenalinya, jadi itu yang terpenting.”
Dia perlahan berdiri, berbalik, dan berjalan pergi. Perawat itu melihat kepergiannya, dan air mata perlahan mulai jatuh.
Diliputi emosi, sang perawat berpikir dalam hati: “Inilah cinta sejati dan abadi yang saya cari: ‘Dia tidak mengenali saya, tetapi saya mengenalinya, jadi itu yang terpenting.’ Pernyataan sederhana ini berisi cinta tanpa syarat tanpa akhir.” Ini adalah kasus benar-benar memenuhi hutang pernikahan seseorang. (nspirement)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI
