Budi Pekerti

Etika di Tempat Publik

makan rame-rame (©unsplash)
makan rame-rame (©unsplash)

Sebagian orang mungkin pernah merasa diacuhkan, seolah tidak tampak. Saya pikir ini adalah salah satu efek negatif modernisasi yang semakin memperbesar sifat individualisme masyarakat dan mengecilkan norma kesopanan. Hal yang tidak mengenakkan ini juga pernah saya alami.

Suatu sore, saya mengajak seorang teman untuk makan bersama di function room apartemen tempat tinggal kami. Di setiap lantai apartemen tempat kami tinggal selalu disediakan ruangan untuk memasak atau sekedar menikmati makanan yang baru diorder lewat aplikasi. Ruangan masih sepi ketika kami tiba.

Ketika kami sedang sibuk menyiapkan makanan, masuklah dua gadis remaja. Mereka duduk dan langsung ngobrol seolah tidak ada orang lain di sana. Kami berdua menjadi sangat heran, walaupun umumnya penghuni apartemen itu walaupun tidak saling mengenal, minimal jika bertatap muka pasti saling menyapa. Namun dua gadis itu sepertinya tidak melihat keberadaan kami, hanya sibuk berceloteh mengeluhkan perusahaan penerbangan mana yang pelayanannya kurang bagus dan topik lain semacam itu.

Di dalam ruangan itu terdapat dua meja makan berukuran sedang yang digabungkan jadi satu meja panjang. Saat masuk kami meletakkan dua buah piring di salah satu meja, lalu kami meninggalkan meja itu sebentar untuk membuat makanan. Setelah makanan siap, kami berjalan menuju ke meja tadi untuk makan. Kami agak terkejut melihat makanan yang dibawa oleh kedua gadis itu telah memenuhi meja satunya dan sebagian lagi menjulur ke meja yang akan kami gunakan. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah bagi kami asalkan mereka sekedar basa-basi permisi kepada kami, siapapun tidak berniat memonopoli meja itu.

Sepertinya dua gadis itu akan mengadakan makan bersama dengan beberapa teman mereka. Teman saya memberi isyarat mata agar kami segera makan dan meninggalkan tempat itu. Benar juga, tidak lama kemudian datang sekitar 7 hingga 8 pemuda. Sekejap ruangan yang cukup lega itu terasa sempit bagi kami. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, karena tempat ini memang disediakan untuk umum. Tetapi kami agak terganggu dengan suara mereka yang terlalu keras. Walaupun kami duduk berdampingan, kami kesulitan mendengar suara satu sama lain. Jika saat itu kami pergi begitu saja, tentu akan sangat tidak sopan. Karena itu kami memaksakan diri untuk tetap melanjutkan makan.

Di tengah mereka, kami ibarat tidak ada, kami seperti manusia yang tidak tampak. Suasana yang sepi dan nyaman pun berubah menjadi bising dan ribut. Lantas saya berkata kepada teman saya untuk pulang dan bertemu kembali di lain waktu.

Tiba di rumah, saya masih memikirkan kejadian tadi. Menjadi orang yang tidak tampak sungguh tak mengenakkan. Namun saya juga balik bertanya pada diri sendiri, apakah juga terkadang menganggap orang lain sebagai orang yang tak tampak. Teringat dulu saya pernah beberapa kali berkenalan dengan teman baru, dan ternyata teman baru  itu mengatakan kepada saya, “Sebenarnya kita sudah saling mengenal, waktu itu Anda sedang asyik berbincang dengan teman Anda, dan tidak melihat saya …” 

Memang benar, ketika seseorang terlalu fokus dengan urusan sendiri, akan sangat mudah sekali mengabaikan orang lain. Sehingga munculah sifat memandang sebelah mata, mengacuhkan kehadiran orang lain, dan lain-lain. Kita harus menghormati dan lebih memperhatikan sekeliling kita. Jangan sekali-kali menganggap orang lain sebagai manusia yang tidak tampak.  (epochtimes/lin)

Dibawah ini ada tips dari pakar etiket yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bagikan juga pada anak-anak kita, agar dunia menjadi tempat yang lebih baik buat semua orang:

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

slot gacor