Site icon NTD Indonesia

Fokus dalam Bekerja, Sederhana dalam Bersikap

Artikel ini merupakan intisari dari buku Zhang Sihong yang berjudul: 專注做事、精簡做人的極簡工作法 (The Minimalist Work Method: Focusing on Tasks and Simplifying Interactions).  

Meskipun judul buku ini menekankan pentingnya menyederhanakan cara bersikap, setelah selesai membacanya, saya justru merasa bahwa aspek hubungan antarmanusia sangatlah penting.

Sebagai contoh, penulis berulang kali menekankan bahwa seorang manajer harus lebih memperhatikan gambaran besar dan tidak terlalu menghabiskan energi untuk sekadar “bekerja”, melainkan lebih berfokus pada “mengelola orang”.

Yang dimaksud dengan mengelola orang di sini adalah menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, mencari dan mengembangkan karyawan berkualitas, menetapkan tujuan jangka panjang bagi tim, serta menyelesaikan berbagai masalah dalam pekerjaan.

Banyak gagasan dalam buku ini yang benar-benar menggugah pemikiran, khususnya bagi mereka yang baru menduduki posisi manajerial.

Penulis menekankan bahwa seorang atasan bukanlah orang yang harus menunjukkan dirinya sebagai yang paling hebat. Sebaliknya, ia harus mampu merendahkan hati untuk mengembangkan bawahan yang bahkan lebih hebat darinya.

Namun, jangan lupa bahwa keberhasilan perusahaan tidak bergantung pada kesuksesan seorang atasan saja. Tugas seorang pemimpin adalah membantu semua anggota tim menemukan arah yang jelas, memberikan bimbingan, dan memimpin seluruh tim untuk bergerak maju bersama. Inilah yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang baik.

Buku ini membahas empat hubungan yang paling sering ditemui di dunia kerja, yaitu atasan, rekan kerja, bawahan, dan pelanggan. Bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan keempat pihak tersebut, bahkan hingga dapat saling membantu?

Apa pun posisi Anda saat ini, penting untuk memahami bagaimana orang-orang dalam keempat kategori tersebut memandang diri Anda. Di sini, penjelasan akan diberikan berdasarkan keempat topik ini, mengenai hal-hal apa saja yang ditekankan oleh penulis dalam buku yang cukup mewakili “nasihat berharga” di dunia kerja.

Berikut adalah beberapa pelajaran penting dari buku ini yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan profesional.

Bagian 1. Menyatukan Kepentingan dengan Atasan untuk Mempercepat Perkembangan Karier

Ada empat hal yang perlu dilakukan:

  1. Bersikap proaktif. Ambil inisiatif dan jadilah orang pertama yang memulai komunikasi dengan atasan.
  2. Mempersiapkan diri dengan matang. Ingatlah bahwa tidak ada orang yang ingin mendengarkan pembicaraan yang tidak memberikan manfaat bagi dirinya.
  3. Bersikap tulus. Dalam dunia kerja, kata “memanfaatkan” tidak selalu bermakna negatif. Jika Anda menjadikan tujuan atasan sebagai prioritas dan berusaha membantunya meraih keberhasilan, maka hal tersebut tidak menjadi masalah.
  4. Percaya diri dan tetap rendah hati. Dari sudut pandang seorang atasan, apa yang paling penting dalam menilai seorang pemimpin yang baik atau calon pemimpin potensial? Bukan hanya kemampuan menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga karakter seperti integritas, nilai-nilai pribadi, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan berinteraksi secara baik dengan orang-orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Atasan Mengambil Keputusan Secara Gegabah Tanpa Pertimbangan Matang?

Bagian 2. Membangun Hubungan yang Efektif dengan Rekan Kerja dan Meningkatkan Pengaruh di Tempat Kerja

Jadikan Pengaruh Anda Lebih Besar daripada Jabatan Anda

Bangun Citra Diri yang Unik untuk Meningkatkan Pengaruh di Tempat Kerja

Ada beberapa perilaku yang dapat membantu Anda membangun pengaruh pribadi yang kuat di perusahaan:

  1. Memiliki cara pandang yang bijaksana dalam menentukan apa yang layak diperjuangkan dan apa yang sebaiknya dilepaskan.
  2. Secara proaktif mencari peluang untuk memperluas lingkup pengaruh.
  3. Membangun hubungan dengan departemen lain dengan menempatkan diri sebagai pihak yang siap membantu.

Di dunia kerja, manfaatkan setiap peluang yang memungkinkan untuk mengembangkan diri dan memperluas pengaruh.

Bagaimana Mendapatkan Pengakuan dan Rasa Hormat dari Rekan Kerja Ketika Memasuki Lingkungan Baru?

Bagaimana Mendorong Kerja Sama Antarbagian agar Lebih Efektif?

Bagian 3. Mengenali dan Mengembangkan Bawahan untuk Menciptakan Kinerja Tim yang Tinggi

Kenali Seberapa Besar Pengaruh Anda di Mata Bawahan

Kuasai Lima Dimensi Kepemimpinan agar Bawahan Bersedia Mengikuti Anda

Untuk menjadi pemimpin yang baik, ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan:

  1. Nilai dan manfaat yang diberikan pemimpin kepada tim.
  2. Karakteristik pemimpin yang paling disukai.
  3. Cara membuat bawahan bersedia mengikuti pemimpin dengan sepenuh hati.

Seorang pemimpin yang unggul perlu memahami perbedaan antara dua hal berikut:

Melakukan sesuatu dengan benar (Do Things Right) dan melakukan hal yang benar (Do the Right Things).

Yang pertama diibaratkan sebagai jam, sedangkan yang kedua diibaratkan sebagai kompas.

Kompas: Bertugas memberikan arah kepada tim dan menunjukkan tujuan mana yang paling penting serta paling bernilai. Kompas memastikan bahwa perhatian, waktu, anggaran, dan sumber daya tim selalu difokuskan pada hal yang benar-benar penting. Selanjutnya, pemimpin mengarahkan seluruh anggota tim untuk mencapai hasil yang paling bernilai.

Jam: Berfungsi mengingatkan semua orang agar menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan lebih baik. Namun, jam tidak mengetahui apakah pekerjaan tersebut benar-benar penting, tepat, atau bernilai. Jam hanya terus mengingatkan dan mendesak Anda untuk menyelesaikan pekerjaan, tanpa mempertimbangkan apakah pekerjaan itu memang perlu dilakukan.

Pemimpin yang benar-benar bermanfaat bagi tim bukanlah orang yang setiap hari mencari-cari kesalahan bawahan atau hanya sibuk memberikan perintah. Orang seperti itu paling jauh hanya dapat disebut sebagai seorang manajer.

Tugas terpenting seorang pemimpin yang unggul adalah membantu tim menemukan tujuan yang tepat serta pekerjaan yang paling bernilai dan penting untuk diselesaikan. Setelah itu, ia harus memimpin tim untuk melaksanakannya dengan benar dan sebaik mungkin, mencapai hasil yang nyata, serta memastikan bahwa semua orang dapat memperoleh manfaat dari keberhasilan tersebut.

Lima Dimensi Kepemimpinan yang Unggul

  1. Menjadi teladan: Membuat bawahan bersedia mengikuti Anda dengan sepenuh hati.
  2. Membangun visi bersama: Menggunakan cerita untuk menyatukan individu-individu dengan latar belakang dan karakter yang berbeda.
  3. Menantang status quo: Memberikan arah kepada tim dan menjaga semangat serta daya juangnya.
  4. Memberdayakan orang lain: Mengembangkan karyawan yang berpotensi dan memberikan wewenang kepada mereka pada waktu yang tepat.
  5. Membangkitkan semangat: Membangkitkan kemauan dan motivasi agar tim dapat mencapai keberhasilan.

Memberdayakan orang lain berarti seorang pemimpin harus mampu mengenali dan mengembangkan bakat, sekaligus memberikan kepercayaan dan wewenang yang memadai kepada bawahannya.

Peran seorang pemimpin bukanlah menyelesaikan semua pekerjaan seorang diri atau membuktikan bahwa dirinya merupakan orang paling hebat dalam tim.

Sebaliknya, seorang pemimpin yang unggul harus memiliki kebesaran hati untuk menerima perbedaan kepribadian dan gaya kerja setiap bawahannya. Ia harus berusaha menciptakan peluang bagi mereka, memberikan dukungan, dan melindungi mereka ketika menghadapi kesulitan.

Dengan demikian, perusahaan dapat merekrut dan mempertahankan orang-orang yang benar-benar kompeten, membuat mereka bersedia mengerahkan kemampuan dan mengabdi dengan sepenuh hati, sehingga pada akhirnya tujuan tim dapat tercapai.

Pemimpin yang bijaksana semuanya sangat cerdas,memahami bahwa jika setiap anggota tim mampu memberikan kinerja terbaiknya, maka perusahaan dan atasannya juga akan memperoleh manfaat.

Empat Tipe Atasan yang Dianggap Tidak Dapat Diandalkan oleh Bawahan

Berikut adalah empat karakteristik atasan yang paling tidak dapat diandalkan:

  1. Selalu merasa paling benar: Atasan yang hanya pandai mengkritik setelah suatu masalah terjadi dan menganggap dirinya selalu benar.
  2. Terlalu ingin menyenangkan semua orang: Atasan yang tidak berani menegur atau mengambil keputusan tegas karena takut menyinggung siapa pun.
  3. Seperti menghilang tanpa jejak: Atasan yang jarang hadir dan sulit ditemukan ketika bawahan membutuhkan bantuan.
  4. Hanya pandai mengkritik: Atasan yang selalu mencari kesalahan, tetapi tidak memberikan solusi atau dukungan.

Untuk mengubah pandangan bawahan terhadap diri Anda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

Kesalahan yang Sering Dilakukan oleh Manajer Pemula

Ada tiga tipe kesalahan yang umum dilakukan oleh manajer pemula.

  1. Tipe pekerja keras yang mengerjakan semuanya sendiri: Tidak mempercayai bawahan untuk melaksanakan pekerjaan sehingga akhirnya semua tugas dikerjakan sendiri.
  2. Tipe pengawas yang terlalu mengontrol: Selalu mengawasi setiap pekerjaan karena khawatir hasilnya tidak akan baik jika tidak terus-menerus dipantau. Dengan kata lain, tidak berani memberikan wewenang yang cukup kepada bawahan.
  3. Tipe atasan yang kurang peduli: Hanya berfokus mengelola hubungan dengan atasan demi menyenangkan pimpinan, tetapi mengabaikan kondisi dan kebutuhan bawahannya.

Seorang manajer harus lebih memperhatikan gambaran besar dan tidak terlalu berfokus pada sekadar menyelesaikan pekerjaan. Ia harus lebih memperhatikan pengelolaan orang.

Mengelola orang berarti menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, mencari dan mengembangkan karyawan berkualitas, menetapkan tujuan jangka panjang bagi tim, serta menyelesaikan masalah dalam pekerjaan.

Dengan kata lain, seorang manajer harus lebih banyak menjalankan tugas manajerial dan tidak terus-menerus menjadi pekerja keras yang sibuk mengerjakan segala sesuatu sendiri.

Lebih banyak berpikir, lebih sedikit memamerkan kemampuan bekerja.

Jangan hanya bekerja keras tanpa henti hingga berusaha menjadi orang yang paling menguasai pekerjaan, paling rajin, dan paling rela berkorban di seluruh departemen.

Di dunia kerja, orang tidak hanya menilai seberapa rajin atau seberapa lelah Anda. Yang lebih penting adalah seberapa efektif pekerjaan yang Anda lakukan dan hasil apa yang berhasil dicapai. Hal ini terutama berlaku bagi seorang pemimpin.

Bagian 4. Membangun Hubungan Jangka Panjang dengan Pelanggan dan Menyampaikan Nasihat dengan Cara yang Dapat Diterima

Kesimpulan

Dalam penutup bukunya, penulis menyampaikan bahwa di dunia kerja, kita tidak hanya perlu belajar menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga belajar membangun hubungan dengan orang lain.

Perjalanan membangun karier bukanlah lari sprint 100 meter, melainkan lari maraton jarak jauh. Kesuksesan dalam karier tidak hanya ditentukan oleh keterampilan dan kemampuan, tetapi juga oleh reputasi pribadi dan tingkat kepercayaan yang kita bangun serta pertahankan dalam jangka panjang.