Site icon NTD Indonesia

Gadis Kecil dan Penjual Kue

Kata bijak sarat akan pesan moral dan makna kehidupan. Setiap orang yang membaca akan memperoleh manfaat darinya. Cerita pendek berikut menggambarkan kebajikan menerima dan menghargai orang lain apa adanya. Jangan biarkan pikiran negatif mendominasi sehingga menutupi kebijakan kita.

Seorang ibu dan putrinya yang berusia 5 tahun melakukan perjalanan dengan kereta api. Tidak lama setelah mereka duduk, seorang pria penjual kue, bertubuh kurus dan berpenampilan kumal, mendekati mereka dan menawarkan dagangannya.

“Nyonya, apakah nyonya mau membeli kue?” tanya sang pria.

Putrinya ingin makan dan meminta ibunya untuk membeli, tetapi sang ibu menolak dan menatap pria itu dengan jijik sambil berkata, “Pergi kau!”

Dengan ramah, gadis kecil tadi tersenyum kepada pria malang itu. Sang penjual membalasnya dengan senyum hangat sebelum menghilang diantara kerumunan.

Gadis kecil mulai menggerutu karena cuaca yang panas. Sang ibu yang kelelahan mulai terganggu dan merasa gerah, ia ingin segera pulang ke rumah.

Ketika kereta tiba di stasiun, sang ibu menggandeng tangan putrinya bergegas menuju pintu keluar. Saat hendak keluar dari kereta,  mereka kembali bertemu penjual yang sama berdiri di samping pintu sambil menjajakan kuenya.

Gadis kecil itu memohon pada ibunya lagi, “Ibu, mari kita beri dia uang, Bapak penjual itu kelihatannya lapar. ”

Namun ibunya menjawab, “Sudah, nanti dia malah menculikmu pergi. Kelihatannya dia bukan pria yang baik. ”

Ketika hendak menyeberang jalan, ibu yang gelisah itu melihat pria tadi berjalan tepat di belakang mereka. Sang ibu mengira pria itu adalah penguntit. Dia segera membawa putrinya masuk ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi untuk segera jalan.

Namun, penjual kue berhasil tiba sesaat sebelum taksi itu jalan. Pria malang itu mengetuk jendela dengan memegang sesuatu di tangannya. Sang ibu mengenali gelang emas putrinya dan membuka kaca jendela.

Penjual itu menyodorkan gelang emas dan berkata “sewaktu turun dari kereta, putri nyonya memberikannya pada saya, saya tahu saya tidak bisa mengambilnya.”

Merasa keliru dengan prasangkanya, sang ibu menunduk malu sembari meraih gelang putrinya dari tangan pria malang tadi. Si penjual kemudian menyerahkan sebungkus plastik berisi kue dan berkata, “Ini untuk putrimu.”

Taksi itu berangkat sebelum sang ibu sempat berterima kasih kepada pria yang tak dikenalnya itu.

Sang ibu sadar bahwa sejak awal dirinya telah salah menilai sang penjual. Ia memandang gadis kecilnya yang tengah menikmati kue dengan perasaan haru dan bangga. Gadis sekecil dia tak membiarkan penampilan luar membodohinya.

Kami berharap kisah sederhana ini dapat menjadi inspirasi hidup bahwa sebuah hati yang baik bernilai lebih dari emas, terlepas dari strata, keyakinan, atau status sosial, hargai dan sayangilah.  (epochtimes/ simonejonker/ may)