Budi Pekerti

Hilangnya Pahala

Anak tersenyum (Dimitris Vetsikas @Pixabay)
Anak tersenyum (Dimitris Vetsikas @Pixabay)

Dahulu di kota Changzhou, Jiangsu, ada sebuah kuil Tao. Di aula dalam kuil tersebut terdapat sebuah patung dewa. Ada seorang anak kecil setiap hari menjual kacang membantu perekonomian keluarganya, setiap hari dia akan melewati kuil ini, dia melihat patung dewa di dalam kuil sangat agung dan damai, anak kecil ini sangat menghormatinya dan selalu berhenti di depan kuil dalam waktu lama baru meninggalkan tempat tersebut.

Pada suatu hari ketika dia melewati kuil ini untuk menjual kacang, dia berhenti lama di depan kuil seperti biasanya untuk menghormat. Tiba-tiba saja dia melihat patung dewa tersebut bergerak, bahkan melambaikan tangan kepadanya, memanggilnya masuk ke dalam kuil. Setelah anak kecil ini masuk ke dalam, dia melihat di tangan dewa menggenggam sebuah uang koin, seolah ingin membeli kacangnya, tapi anak ini tidak mengambil uang dewa, dan dengan sangat hormat memberikan semua kacang yang dibawanya di altar dewa.

Patung dewa terlihat sangat gembira, mengambil sebutir pil berwarna merah diberikan kepada anak kecil ini, anak kecil ini menelan obat yang diberikan oleh dewa, tiba-tiba dia merasa agak doyong, seolah-olah seperti meminum anggur, kemudian dia merasa hatinya sangat tenang, di dalam otaknya seperti sangat jernih dapat mengerti banyak hal.

Anak kecil ini kemudian pulang ke rumahnya, mengambil kertas, menulis puisi, semua karya tulis dan puisi yang ditulis bahasanya sangat indah. Mulai saat itu semua orang mengetahui anak kecil ini bukan anak biasa.

Hal tersebut telah setahun berlalu, pada suatu hari, dia mendengar di lapangan di kotanya ada seorang narapidana yang akan dihukum mati, dia lalu berlari ke lapangan melihat keramaian.

Dia melihat seorang narapidana yang akan dihukum mati tersebut, di hatinya tidak timbul belas kasih, malahan bersama orang lain berteriak ke arah narapidana tersebut, terlihat sangat gembira.

Pada saat hukuman akan dijatuhkan, dia merasa seperti ada orang yang menampar pipi kirinya, bersamaan dengan bunyi tamparan yang keras, ia terbatuk, dan sesuatu keluar dari mulutnya terbang ke atas langit.

Mulai saat itu, anak kecil ini kembali seperti dahulu, seperti seorang anak kecil biasa, semua kemampuan, keahlian dan kepintarannya lenyap.

Anak kecil ini karena hormat dan kekagumannya terhadap dewa, maka mendapat pahala, tetapi dia kehilangan pahala tersebut karena sifatnya terhadap orang yang dihukum mati, walaupun narapidana terhukum mati melanggar hukum yang pantas membuatnya dihukum mati, tetapi sifatnya yang bergembira atas kesusahan orang lain adalah tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan para dewa. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI