Budi Pekerti

Kasih Sayang di Antara Manusia

Pemain biola
Pemain biola. @Pexels

Di sebuah kota kecil, pada siang hari di jalanan terlihat sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat berjalan. Daun-daun terhembus angin tertunduk membungkuk. Udara panas hembusan angin juga terlihat perlahan belum bisa menghilangkan kegerahan. Di udara yang begitu pengap tersebut, tidak ada pelanggan yang akan datang membeli barang, lelaki pemilik toko ini duduk sambil mengantuk, akhirnya karena tidak tahan tertidur di kursi.

Dia dibangunkan oleh sebuah suara orang memanggil. Dia melihat seorang pemuda sedang memunculkan kepalanya melalui celah pintu memandang ke dalam. Ketika dia ingin bertanya, pemuda ini sudah menarik kepalanya keluar. Dia memandang ke seluruh penjuru di dalam tokonya dia melihat tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Dia kembali ingin membaringkan badannya ke kursi hendak melanjutkan tidurnya, tapi sempat dilihatnya pemuda ini memunculkan kepalanya kembali.

Pemilik toko lalu bertanya, “Apakah engkau ingin membeli sesuatu?”.

“Saya, eh saya…” pemuda tersebut tergagap dan terlihat ragu-ragu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.  Melihat ada sedikit keganjilan, dengan seksama dia memandang pemuda tersebut, meskipun seluruh badannya terlihat sangat lelah, pakaiannya masih terlihat sopan. Dan di punggung belakangnya terlihat tergantung biola berwarna merah menyolok.

“Ada masalah apa sebenarnya?” sekali ini ketika bertanya dia sengaja melembutkan intonasinya suaranya.

“Saya, saya adalah seorang pelajar. Ingin mengikuti ujian beasiswa di kota…Lelaki pemilik toko ini segera mengerti maksud pemuda tersebut, “Engkau ingin menanyakan jalan menuju kota benarkah?”

“Bukan, bukan.” Pemuda ini dengan malu berkata, “Ekonomi di rumah saya sangat tidak baik, papa saya sejak saya masih kecil sudah meninggal, mama sudah bekerja keras, saya ingin memainkan sebuah lagu dengan biola ini….” setelah mengucapkan perkataan ini, pemuda tersebut terlihat seperti menghabiskan seluruh kekuatan dan keberaniannya mengucapkan hal  tersebut.

Sekarang pemilik toko segera mengerti maksud pemuda tersebut, ketika ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dari belakang toko keluar istrinya berkata, “Keluar.. keluar dari sini, manusia seperti kamu sudah sering saya temui. Jelas maksudmu adalah untuk meminta uang, kami disini setiap hari banyak pengemis yang datang, setelah berbohong, pasti ingin menipu uang, jangan harap.” Wanita tersebut dengan galak berkata sambil mengusir pemuda ini. Pemuda ini semakin terlihat grogi, pandangan matanya seperti putus asa.

Lelaki pemilik toko seperti tidak mendengar istrinya berkata, bangun menarik sebuah kursi dan dengan perlahan berkata kepada pemuda tersebut, “Anakku, duduk di sini, mainkan sebuah lagu untukku.”Lalu dengan tenang berdiri disamping kursi pemuda tersebut, dengan serius melihat kepada pemuda tersebut.

Gesekan biola mulai terdengar, didalam tokonya seolah-olah adalah air yang mengalir dengan tenang, seperti angin sepoi-sepoi yang sedang berhembus, suaranya sangat merdu, terkadang terdengar samar, terkadang terdengar nyaring, membuatnya seolah-olah terayun-ayun disuasana yang elegan dan anggun.

Setelah sebuah lagu habis lelaki pemilik toko seperti terpaku disana dia sangat terpesona oleh suara musik yang begitu indah. Lalu dia berjalan menuju laci uang, istrinya segera bergegas berjalan didepannya, menahan suaminya membuka laci uang dan mulai marah lagi, suaminya dengan tidak sabar berkata kepadanya. “Saya percaya kepada anak ini bukan seorang penipu, suara biolanya sangat murni!”

Setelah beberapa tahun kemudian, seorang dosen musik terkenal, di depan mahasiswanya menceritakan cerita ini. Dia berkata, “Pada saat itu, sebelum saya masuk ke toko tersebut, sudah beberapa toko yang sudah saya kunjungi, tetapi tidak ada seorangpun mendengar saya, bahkan menghina, menertawakan serta mengusir saya, saya sudah kehilangan semangat untuk berjalan lagi.  Manusia pada saat seperti ini, terkadang bisa melakukan hal-hal yang ekstrem. Sebenarnya.. pada siang hari tersebut ketika saya melihat pemilik toko tertidur, didalam pikiran saya melintas sebuah niat yang jahat- saya ingin mencuri uangnya sedikit untuk membeli makanan, karena saya sangat lapar. Tetapi lelaki pemilik toko dengan sangat baik dan tenang menerima saya, dia memberikan saya uang, yang paling penting adalah perkataannya saat itu: “Suara biolanya sangat murni” Seperti sebuah cahaya yang menyinari relung jiwa saya, membersihkan debu-debu di dalam jiwa saya. Hanya sepatah kata yang tak terlupakan ini, dia menarik saya keluar dari tepi jurang yang berbahaya.

“Benar.” Dia melanjutkan bercerita, “Sebuah jiwa yang dalam kesulitan akan sangat rapuh, pada saat ini, kebaikan adalah sepasang tangan yang hangat, toleransi dan diakui adalah hal yang paling indah, dapat menarik jiwa yang akan terjatuh berdiri kembali,  karena tidak ada sebuah jiwa dan kehidupan yang sukarela dihancurkan.

Dengan perlahan dia berkata, “Jika ada sebuah jiwa yang berada dalam kerapuhan dan kesulitan, pada saat ini ada sepasang tangan yang hangat yang diulurkan menolongnya, kita jangan lupa sifat dasar kebaikan manusia adalah  seperti sebuah cahaya dan cahaya ini dapat memberi kehangatan kepada jiwa yang memerlukan pertolongan.” (minghuischool)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI