Rasa hormat dan pemahaman yang sejati di antara sesama manusia hanya dapat terwujud melalui empati — dengan menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Sebuah postingan di internet baru-baru ini menjadi viral. Seseorang bertanya: “Apa yang dipikirkan orang-orang saat mereka menyediakan layanan transportasi online di malam hari? Apakah mereka benar-benar mempertaruhkan keselamatan mereka hanya demi uang?”
Banyak orang setuju. Namun, komentar seorang netizen membuat orang-orang berhenti sejenak dan berpikir: “Saya belum pernah mengemudi ojek online larut malam, tapi saya bisa memahami mereka yang melakukannya. Antara pukul 23.00 dan 05.00, tarifnya lebih tinggi, artinya mereka bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak untuk jarak yang sama. Lalu lintas juga lebih sepi di malam hari, sehingga pengemudi bisa bergerak lebih cepat, menghemat bahan bakar, menerima lebih banyak pesanan, dan pada akhirnya mendapatkan penghasilan lebih banyak.
Dengan menempatkan diri pada posisi pengemudi, netizen ini menunjukkan empati yang sejati. Ia tidak sekadar menghakimi; ia memahami pilihan, risiko, dan upaya yang terlibat. Dan di situlah kebaikan dimulai: memahami orang lain secara alami mengarah pada perhatian dan kepedulian. Ketika kita berempati, kita cenderung tidak menyalahkan, lebih menghormati, dan lebih bersikap baik kepada orang lain — bahkan dalam hal-hal kecil. Di balik setiap tindakan empati, terselip kebaikan.
Empati merupakan kunci dalam hubungan antarmanusia
Empati sejati sering kali terlihat dalam tindakan kebaikan yang tak terduga. Ada seorang anak laki-laki yang tak pernah membawa pulang kunci sekolahnya. Setiap hari, ia berdiri di luar dan memanggil ayahnya untuk membuka pintu. Suatu hari, ayahnya berkata kepadanya, “Mulai sekarang, bawalah kunci sendiri. Jangan panggil Ayah untuk membuka pintu.” Anak laki-laki itu tampak bingung dan bertanya: “Kenapa?” Ayahnya menjawab dengan lembut: “Karena setiap kali kamu memanggil Ayah, anak laki-laki kecil di sebelah rumah akan merasa sedih.”
Baru saat itulah bocah itu mengetahui bahwa ayah tetangganya telah meninggal secara tragis karena kecelakaan kerja sehari sebelumnya, sehingga bocah itu dan ibunya pun tinggal berdua. Orang sering mengatakan bahwa hubungan antarindividu dibangun atas dasar empati. Ketika kita lebih memahami orang lain, kita lebih jarang menyalahkan; ketika kita lebih peduli, kita lebih jarang menyakiti. Di dunia ini, salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana dan bermakna sama sekali tidak memerlukan biaya: kemampuan untuk berempati terhadap orang lain — untuk berhenti sejenak, mempertimbangkan perasaan mereka, dan menempatkan diri kita pada posisi mereka.
Kebaikan berarti selalu mengingat orang lain di dalam hati
Orang yang benar-benar baik hati selalu memikirkan orang lain. Mereka berhati-hati agar tidak membuat siapa pun merasa malu atau tidak nyaman. Baru-baru ini, seseorang bertanya di internet: “Apa kualitas terpenting yang dapat dikembangkan seseorang dalam dirinya?” Salah satu jawaban yang menonjol adalah: empati dan saling pengertian.
Orang yang benar-benar baik hati secara alami selalu memperhatikan orang lain dan memandang suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Seperti yang pernah ditulis oleh penyair Bai Juyi (772–846 M): “Cara memperlakukan orang lain adalah dengan memahami mereka melalui hati sendiri dan menelaah diri sendiri dengan hati yang sama.”
Ketika kebaikan didasari oleh empati, ia secara perlahan menyatukan keindahan dunia ke dalam hidupmu. Kebaikan semacam ini sering kali tenang dan rendah hati. Orang yang benar-benar baik bertindak dengan penuh pertimbangan, memastikan agar tidak membuat orang lain merasa malu. Sebelum menawarkan bantuan, mereka terlebih dahulu menempatkan diri pada posisi orang lain.
Sebuah kisah dari lebih dari seratus tahun yang lalu menggambarkan hal ini dengan sangat indah. Saat terjadi kekeringan parah, tak terhitung banyaknya pengungsi yang terpaksa berjuang untuk bertahan hidup.
Pada saat itu, seorang pedagang kaya dari Shanxi menyiapkan 30.000 tael perak untuk membangun sebuah teater. Awalnya, orang-orang mengkritiknya, menganggapnya tidak berperasaan dan acuh tak acuh terhadap penderitaan mereka, karena banyak yang menginginkan bantuan langsung tunai. Namun, pedagang itu memiliki tujuan yang lebih dalam: ia ingin membantu mereka yang terlalu bangga untuk menerima sedekah. Ia mengumumkan bahwa siapa pun yang bekerja membangun teater akan menerima tiga kali makan sehari. Melalui pengaturan ini, para pengungsi dapat memperoleh makanan melalui kerja keras mereka sendiri, mengatasi kesulitan sambil tetap menjaga martabat mereka.
Kebaikan sejati bukan sekadar memberikan bantuan materi. Kebaikan sejati adalah memahami perasaan dan martabat orang lain. Empati semacam itu tidak hanya membutuhkan ketulusan dan belas kasih, tetapi juga kebijaksanaan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain.
Bahkan kebaikan sekecil apa pun pun berarti
Izinkan saya mengakhiri cerita ini dengan sebuah momen sederhana yang menghangatkan hati. Suatu hari, seorang pria lanjut usia memasuki sebuah toko, dan seorang wanita muda yang berada di depannya menahan pintu yang berat itu agar tetap terbuka, menunggu hingga pria itu berhasil melewatinya dengan selamat sebelum membiarkan pintu itu tertutup. Pria tua itu mengucapkan terima kasih kepadanya. Wanita itu tersenyum dan berkata, “Ayah saya seumuran Anda. Saya berharap ketika dia membutuhkan bantuan, ada orang yang akan membukakan pintu untuknya.” Kebaikan sering kali berputar dalam lingkaran yang tenang. Ketika Anda memikirkan orang lain dalam hati, dunia sering kali merespons dengan kebaikan.

