Budi Pekerti

Kebaikan Menyembuhkan Stress

Anda sudah mencoba semuanya. Dari bernapas dalam-dalam hingga tidur siang, menceritakannya ke teman-teman anda, namun anda masih merasa stres. Mengapa tidak mencoba sedikit kebaikan? Bukan tidak mungkin kebaikan bisa menyembuhkan stres, silahkan baca lebih lanjut!

Stres tampaknya menjadi epidemi akhir-akhir ini. Dan jika anda tidak hati-hati, stres hari ini dapat menjadi kecemasan, depresi atau yang lebih buruk di masa depan. Tetapi ketika kita mencari cara untuk membantu diri kita sendiri, mungkin solusi sebenarnya terletak pada membantu orang lain.

Ternyata ketika kita mengesampingkan masalah kita sendiri dan memfokuskan energi kita untuk menjadi baik dan membantu orang lain, tingkat stres kita berkurang. Kebaikan berdampak positif terhadap kadar hormon dalam tubuh kita, yang mengarah pada manfaat kesehatan mental dan fisik.

Misalnya, mereka yang berusaha menjadi baik hati memiliki kortisol (hormon stres) 23% lebih sedikit dan penuaan lebih lambat daripada populasi rata-rata. Kebaikan juga merangsang produksi serotonin (hormon merasa baik), membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan suasana hati.

Tidak hanya menurunkan tingkat stres, tetapi juga tekanan darah dan tingkat rasa sakit. Bersikap baik kepada orang lain melepaskan bahan kimia seperti endorfin dan oksitosin. Oksitosin melebarkan pembuluh darah, yang pada gilirannya membantu menurunkan tekanan darah, sementara endorfin bertindak sebagai pembunuh rasa sakit alami tubuh anda.

Dan jika anda merasa sedikit kurang bergairah, coba sebarkan kebaikan untuk meningkatkan energi alami.

Satu penelitian melaporkan sekitar setengah dari peserta penelitian merasa lebih kuat dan lebih energik setelah membantu orang lain, dengan banyak peserta mengatakan mereka merasa lebih tenang, kurang tertekan, atau memiliki perasaan harga diri yang lebih besar.

Tetapi ketika membantu orang lain, ternyata motif itu penting. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psikologi Kesehatan menemukan bahwa orang-orang yang bekerja secara sukarela secara teratur akan hidup lebih lama, tetapi menarik untuk dicatat bahwa manfaat ini hanya terlihat jika mereka secara sukarela membantu orang lain, daripada membuat diri mereka merasa lebih baik atau terlihat baik oleh orang lain. Dengan kata lain, motif mereka harus mementingkan orang lain daripada mementingkan diri sendiri.

Dan yang hebat adalah, kebaikan itu menular. Perbuatan baik menular seperti menguap, yang berarti kebaikan dalam kerumunan dapat menyebar seperti riak melalui kolam.

Mengapa tidak mencobanya? Hanya satu tindakan kebaikan dapat membuat perbedaan antara hari yang baik dan hari yang buruk. Jadi buatlah itu menjadi hari yang baik, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang yang anda bantu dan mereka yang menyaksikan kebaikan anda.

Dalam kata-kata filsuf Yunani Aristoteles, tujuan hidup adalah “untuk melayani orang lain dan berbuat baik”. Jika penelitian merupakan indikasi, tindakan kebaikan dan melayani orang lain juga bisa menjadi resep untuk memerangi stres dan menjaga kesehatan yang baik. (visiontimes/tatianadenning/bud)

Tentang Penulis: Tatiana Denning, D.O., adalah dokter keluarga yang berfokus pada kesehatan dan pencegahan. Dia percaya dalam memberdayakan pasiennya dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.