Budi Pekerti

Hanya Kebaikan yang Menyelamatkan Kita dari Bencana

Seorang pemilik kedai mie bernama Ye Dazhuang pandai membuat pangsit kuah. Dia membuka kedai makan sederhana di dekat pusat kota, pelanggannya adalah para pelajar. Bisnisnya berjalan sangat baik, pagi dan malam kedainya selalu ramai dikunjungi para pelajar yang ingin makan siang atau pun makan malam.

Musim dingin datang. Angin dingin bertiup, menyelinap masuk ke dalam pakaian, membuat tubuh cepat kedinginan. Cuaca seperti ini, enaknya makan semangkuk pangsit kuah hangat. Jam sekolah sudah usai, arus pelanggan memenuhi kedai mie, orang datang dan pergi, Ye Dazhuang sibuk bukan main. Beruntung sudah ada stok pangsit, tinggal dimasukkan ke panci dan didihkan beberapa menit, tambahkan bumbu, campurkan dua sendok sup ayam rebus, sekali saji tujuh delapan mangkuk di meja, wanginya mengundang selera.

Sudah hampir jam sepuluh, siswa dan orang tua lalu lalang memenuhi jalanan. Ye Dazhuang melirik ke seberang jalan, ada seroang bocah laki-laki masih saja berdiri di samping tiang seberang jalan. Usianya kira-kira sebelas tahun, berjaket biru, membawa tas sekolah, matanya mengarah ke kedainya.

Sudah sejam lebih bocah itu sudah berdiri. Awalnya Ye Dazhuang berpikir si bocah sedang menunggu orang tuanya. Namun hingga jalanan sepi, si bocah itu masih berdiri di sana dan matanya terus menatap kedai tuan Ye.

Meskipun kedainya tidak besar, Ye Dazhuang tidak pelit. Ye Dazhuang akan mendermakan sedikit uang kepada mereka yang membutuhkan, ia tidak jarang memberikan semangkuk sup panas kepada petugas kebersihan. Dalam hati Ye Dazhuang berpikir, mungkin bocah ini lapar.

Benar saja, ketika Ye Dazhuang mengangkat mangkok dan sumpit kotor dari atas meja, si bocah menghampirinya.

Dia tampak gugup, bicaranya agak gagap: “Paman, bisakah … bisa memberiku semangkuk … sup panas?”

“Ya, duduklah, akan segera disajikan,” Ye Dazhuang mempersilahkan si bocah masuk.

“Tapi, tapi aku tidak punya uang,” ucap si bocah dengan wajah memerah.

 “Tidak masalah, paman yang traktir.” Ye Dazhuang mengeluarkan mangkuk.

Bocah itu segera duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Ye Dazhuang datang menyajikan semangkuk pangsit kuah.

Si bocah tertegun sejenak, dengan gembira mengambil sendok dan memakannya dengan lahap.

Sambil makan, air mata si bocah berlinang.

“Ada apa gerangan? Pangsitnya tidak enak?” Tanya Ye Dazhuang.

“Enak, enak sekali.” Si bocah mengenduskan hidungnya, “Aku sangat terharu!”

Si bocah menyeka air matanya dan berkata kepada Ye Dazhuang, “Paman sangat baik! Kita tidak saling kenal, tetapi paman mau memasak untukku. Tapi ibuku, dia memaksaku belajar setiap hari. Aku hanya membantah beberapa perkataannya, namun ibu langsung memukul pantatku. Aku sangat marah. Aku tidak mau pulang ke rumah! “

Ye Dazhuang mulai menangkap selisih paham antara si anak dengan orang tuanya. Ye menepuk bahu si bocah: “Anak muda, paman hanya memasak semangkuk pangsit untukmu, dan kamu sudah sangat berterima kasih padaku, tapi ibumu memasak untukmu lebih dari sepuluh tahun, mengapa kamu tidak berterima kasih padanya? Kini kamu kabur dari rumah, orang tuamu akan sangat cemas!”

“Mereka tidak akan cemas,” ujar si bocah dengan nada emosi.

Ye Dazhuang tersenyum, “Begini saja, selesai makan pulanglah ke rumah. Jika mereka cemas, kamu pulang saja. Jika mereka tidak cemas, kembalilah kemari, bagaimana?”

“Sungguh, paman…bersedia menampung saya?” “Sungguh.”

 “Aku pulang sekarang,” si bocah menyeka mulutnya dan berlari keluar.

Ye Dazhuang menggelengkan kepalanya, sambil membereskan mangkuk dan sumpit, matanya tertuju pada tas sekolah si bocah yang tertinggal di atas meja.

 “Oh, tas-mu, nak.” Ye Dazhuang mengejar si bocah.

Belum jauh ia beranjak, terdengar suara sangat keras. Ye Dazhuang menengok ke belakang dan terbelalak kaget. Sebuah truk sampah menerjang kedainya, persis di tempat si bocah tadi duduk. Bangku dan meja di tempat itu berantakan.

Apa yang terjadi ?

Ternyata supir truk sampah bertemu beberapa temannya hari ini, mereka minum beberapa gelas bir. Saat supir mengendarai bus, masih merasa baik. Namun tidak lama kemudian kesadarannya hilang, membuat truk yang dikendarainya menabrak kedai tuan Ye !

Melihat kedainya berantakan, Ye Dazhuang merinding ketakutan. Seandainya hari ini saya tidak menjamu si bocah, mungkin sekarang saya sedang membereskan sisa makanan tamu. Truk sampah datang dalam sekejap, dan saya, pastinya sudah… (epochtimes/crl)

slot gacor

situs slot gacor