Site icon NTD Indonesia

Kemalasan Akar dari Pemborosan

Raka adalah karyawan muda di sebuah perusahaan startup. Setiap akhir bulan, ia mendapatkan gaji yang lumayan tinggi. Namun, anehnya, baru lewat pertengahan bulan, uangnya sudah habis.

Bukan karena kebutuhan pokoknya besar. Justru karena kebiasaan malasnya.

Raka malas masak, jadi hampir setiap hari ia pesan makanan lewat aplikasi.
Raka malas jalan kaki untuk ke halte naik transportasi umum, jadi lebih sering naik ojek online untuk ke kantor.
Raka malas menyiapkan daftar belanja, akibatnya ia sering membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Raka malas beres-beres, akibatnya ia sering kehilangan barang dan terpaksa harus membeli lagi barang yang sebenarnya masih ada, namun tidak ia temukan.
Raka juga malas olahraga, sehingga ia kerap jatuh sakit dan terpaksa harus beli obat atau ke dokter.

Walaupun Raka selalu dapat menahan diri untuk tidak menggunakan paylater atau pinjol, tapi setiap kali saldonya menipis, Raka mengeluh: “Kenapa ya uangku cepat habis?”

Suatu hari, ia bertemu dengan teman lamanya, Herman, yang sama-sama bergaji pas-pasan tapi bisa menabung untuk kuliah lagi. Kemudian mereka saling bertukar cerita, dan Rakapun curhat mengenai kondisinya. Lalu Herman berkata: “Bukan gajimu yang kecil, Ka. Tapi kamu terlalu boros karena malas mengatur. Kemalasan itu seperti lubang kecil di ember bocor yang lama-lama habis isinya.”

Perkataan itu menampar Raka. Ia sadar, gajinya selama ini tak pernah benar-benar dipakai dengan bijak. Semua habis karena kemalasan kecil yang ia anggap sepele.

Sejak hari itu, Raka mulai berubah: ia belajar masak sederhana, berjalan kaki lebih banyak, rutin olahraga dan mulai mencatat pengeluarannya. Pelan-pelan, ia lihat tabungannya tumbuh.

Dan ia tersenyum, karena akhirnya mengerti: kemalasan memang akar dari pemborosan.