Budi Pekerti

Kemampuan Memilih ‘Niat’ Menentukan Nasib Anda

Bagi seorang pemukul/batter baseball yang ingin mencari nafkah di Liga Baseball Utama Amerika Serikat, tidak cukup jika hanya mengandalkan “ayunan tongkat” baseball yang ‘kuat’, namun juga harus memiliki indera “kemampuan memilih bola” yang sangat akurat.

Pemukul/batter harus memilih berbagai macam bola ‘umpan’ dari pelempar bola/pitcher, apakah memilih mengayunkan tongkat untuk memukul atau tidak memukul bola.

Pemukul/batter yang memiliki ‘kemampuan memilih bola’ yang akurat, tidak akan mudah tergoda oleh lemparan bola buruk, namun memaksa pitcher/pelempar memberikan ‘bola bagus’ kepadanya, dengan demikian akan menaikkan rasio keberhasilan pukulan, titik pukul dan tempat berhenti (base) secara signifikan, hal mana berperan kunci bagi tim untuk memenangkan pertandingan, oleh karenanya “kemampuan memilih bola” adalah kunci menilai “harga” dan kinerja seorang pemain baseball.

Ichiro Suzuki adalah pemain baseball asal Jepang yang terkenal di seluruh dunia. Ia sangat dicintai tim-nya, namun sangat dibenci oleh tim lawan. Ichiro tidak mudah terpancing oleh bola yang buruk, sementara lemparan bola bagus dari lawan, dengan mudah dia “amankan”. Strategi mengumpan dengan seribu macam perubahan bola, tidak berlaku bagi Ichiro, kemampuan Ichiro menguntit bola sangat luar biasa, hingga detik terakhir baru ia memutuskan apakah akan memukul bola atau tidak. Di kalangan pemain ternama tersiar rumor, “kemampuan mengenali bola” bagus atau buruk dari Ichiro Suzuki sudah di tingkatan ‘manusia Dewa’.  

Sama seperti “kemampuan memilih bola” menentukan nilai seorang pemukul bola/batter, demikian juga “kemampuan seseorang memilih” ‘niat’ hati dari pikiran yang sedemikian kompleks dan senantiasa berubah, juga akan menentukan nasib orang tersebut.  

Jika saja kita amati saksama ‘hati’ kita sendiri dalam hening selama lima menit, maka kita bisa menangkap fenomena yang unik, ternyata ‘hati’ kita demikian sibuknya, tidak berhenti memikirkan yang bukan-bukan, sebuah pikiran baru saja muncul, tidak lama kemudian menghilang sendiri, namun bersamaan hampir tanpa jeda, pikiran yang lain muncul menggantikan pikiran sebelumnya, sebentar kemudian pikiran tersebut hilang lagi, dan pikiran baru muncul lagi… Semuanya seperti tidak beralasan, pikiran-pikiran tersebut entah datang dari mana dan pergi ke mana.

Ada satu hal yang bisa dipastikan adalah, keberadaan pikiran sekejap tersebut biarpun panjang atau singkat durasinya, di saat “sekejap” hati kita ini hanya bisa menampung ‘satu niat’ saja, kita tidak bisa menampung dua niat bersamaan dalam “sekejap” yang bersamaan.

Perilaku manusia setiap hari dituntun oleh niat pikiran yang muncul secara estafet, satu menyusul yang lainnya, bagaimana cara kita menyikapi niatan-niatan tersebut, berinteraksi dengan niatan-niatan tersebut, hal itu dapat menentukan nasib kita.

Di dalam hati kita terkandung banyak niat pikiran, positif dan negatif, niat pikiran positif akan menuntun kita membuat keputusan yang baik serta perilaku yang baik, mendapatkan suasana hati yang baik, menuntun kita pada nasib yang cerah; sementara niat pikiran negatif akan memandu kita membuat keputusan yang negatif dan perilaku buruk, menghasilkan akhir yang buruk dan suasana hati yang buruk, menuntun kita pada nasib yang kelam.

Di dunia ini tidak ada manusia yang bisa mengendalikan niat pikiran apa yang akan muncul dalam otak kita? Niat pikiran positif atau negatif?

Satu hal yang pasti, kita tidak dapat memikirkan dua niatan dalam waktu sekejap yang sama. Niat pikiran positif dan niat pikiran negatif akan muncul silih berganti dalam pikiran.

Satu-satunya hal yang dapat kita kendalikan adalah, dengan sadar kita melatih diri sendiri “melepaskan” niat pikiran negatif, seperti halnya batter mengacuhkan bola buruk – mengabaikan bola negatif, namun siaga menggenggam setiap “niat positif” yang langka, seperti halnya seorang batter menangkap peluang baik “bola bagus di medan tengah” lalu putuskan mengayunkan tongkat pemukul.

Dengan latihan berkali-kali, pengalaman berkali-kali, “kemampuan memilih” pun semakin terasah, mampu mengenali dan membedakan niat pikiran positif dan negatif.

Ketika “kemampuan memilih” kita meningkat, yang paling jelas adalah ‘pikiran rumit’ otak kita berkurang. Karena kita hanya fokus pada ‘niat pikiran positif’ saja dan mengabaikan pikiran-pikiran rumit dan kompleks, abaikan saja mereka, pikiran-pikiran rumit itu bagaikan kabut pagi hari tersinari matahari, dengan sendirinya akan menguap dan lenyap.

Anda adalah matahari, biarkan gumpalan demi gumpalan awan kacau tak beraturan berlalu berarakan, anda cukup tahu awan datang dan pergi, anda tahu awan setebal apa pun yang menutupi, matahari juga bersamaan selalu eksis di sana.

Setiap ‘niat pikiran positif’ yang muncul dalam hati, merupakan petunjuk dan jalan yang paling berharga dalam kehidupan kita. (epochtimes/xufengyuan/ljy/kar)

slot gacor

situs slot gacor