Budi Pekerti

Kisah Inspirasi: Dua Atlet Jepang yang Menggabungkan Medali

Shuhei Nishida (depan) and Sueo Ōe (kanan) saat upacara penyerahan medali Olimpiade Berlin
Shuhei Nishida (depan) and Sueo Ōe (kanan) saat upacara penyerahan medali Olimpiade Berlin. (Public Domain)

Memenangkan medali Olimpiade adalah pencapaian besar bagi setiap atlet dan merupakan kebanggaan bagi negaranya. Namun Olimpiade bukan hanya tentang memenangkan medali. Dua atlet Olimpiade Jepang, Shuhei Nishida dan Sueo Ōe, adalah pelompat galah yang berbagi medali mereka, membuka jalan untuk kerendahan hati Olimpiade dan semangat tim.


Olimpiade Berlin 1936 dikenang karena banyak kejadian

Atas ambisinya untuk mengalahkan Pertandingan Musim Panas Los Angeles 1932, Adolf Hitler menyiapkan stadion lintasan dan lapangan berkapasitas 100.000 kursi yang dibangun untuk Olimpiade Musim Panas Berlin 1936, serta enam gimnasium dan arena kecil lainnya. Olimpiade ini adalah yang pertama ditayangkan di televisi, dengan siaran radio mencapai 41 negara.

Hitler melihat Olimpiade 1936 sebagai kesempatan untuk mempromosikan pemerintahannya dan cita-cita supremasi rasial dan antisemit, dan surat kabar resmi Partai Nazi, Völkischer Beobachter, dan menulis dengan tegas bahwa orang Yahudi tidak boleh berpartisipasi.

Jesse Owens dari Amerika Serikat memenangkan empat medali emas di nomor sprint dan lompat jauh dan menjadi atlet paling sukses yang berkompetisi di Berlin. Ada juga koran yang memuat berita utama untuk kejadian ketika dua atlet Olimpiade Jepang menggabungkan medali mereka.

Sueo Ōe (kiri) dan Shuhei Nishida pada tahun 1930. (Gambar: dari Public Domain)

Prestasi Lompat Galah yang Sama Persis

Shuhei Nishida dan Sueo Ōe adalah anggota tim atletik Jepang. Pada tahap akhir lompat galah putra, empat atlet bersaing memperebutkan medali emas. Earle Meadows, seorang pelompat galah Amerika dengan performa luar biasa telah berhasil melewati rintangan setinggi 4m 35 cm; seorang atlet Amerika dan dua atlet Jepang masih bersaing untuk medali emas, tetapi upaya mereka untuk mencapai ketinggian yang sama tidak berhasil.

Tiga atlet ini bertarung untuk memperebutkan perak dan perunggu. Ketiganya mencapai ketinggian yang sama, jadi mereka harus melompat ekstra sebagai penentuan. Duo Jepang berhasil, masing-masing mengamankan tempat kedua dan ketiga, dengan nilai yang sama persis. Keduanya mencapai ketinggian 4m 25cm.

Komite Olimpiade pada saat itu tidak memiliki aturan untuk menentukan apa yang akan membedakan kedua atlet dalam situasi yang belum pernah terjadi tersebut. Karena respek satu sama lain, kedua atlet Olimpiade Jepang tersebut menolak untuk melompat kembali untuk penentuan siapa dapat perak dan siapa dapat perunggu; sebaliknya, mereka ingin berbagi kemenangan.

Ketika hal itu tidak diizinkan, tim Jepang mengambil keputusan bersama setelah banyak pertimbangan, yaitu Nishida yang akan mendapatkan perak dan Sueo Ōe mendapatkan perunggu, karena yang melompati 4m 25cm dalam upaya pertamanya adalah Nishida, sedangkan Sueo Ōe membutuhkan dua kali lompatan. 

Penciptaan ‘Medali Persahabatan’

Upacara penyerahan medali telah berlangsung, tetapi dua atlit Jepang itu tidak terlalu senang dengan situasi tersebut, meskipun mendapatkan medali. Mereka merasa bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan satu medali tidak mewakili situasi di Olimpiade, dan sebagai teman yang saling menghormati, mereka mengambil tindakan sendiri.

Ketika kedua sahabat itu kembali ke Jepang, mereka membuat sebuah rencana. Mereka membawa medali mereka ke toko perhiasan yang memotong keduanya menjadi dua. Kemudian mereka menggabungkan setengah dari medali perak dengan setengah dari medali perunggu, menyatukannya kembali, menciptakan medali setengah perak setengah perunggu untuk masing-masing dari mereka. Medali tersebut kemudian dikenal sebagai “Medali Persahabatan”.

‘Medali Persahabatan’ perak-perunggu. (Gambar: dari Domain Publik)

Situasinya benar-benar unik karena tidak pernah terjadi sebelum tahun 1936, juga tidak akan pernah terjadi lagi karena perubahan aturan setelah peristiwa ini (menjadi ketentuan bahwa pelompat dengan upaya paling sedikit akan memperoleh tempat lebih tinggi), yang membuat “Medali Persahabatan” menjadi satu-satunya di dunia. Nishida mewariskan medali tersebut kepada almamaternya, Universitas Waseda di Tokyo, yang dipertahankan hingga hari ini.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI