Budi Pekerti

Kisah Kejujuran Polisi Hoegeng

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso (Kredit: Wikipedia)
Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso (Kredit: Wikipedia)

“Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam.” Itulah salah satu prinsip jenderal polisi Hoegeng Iman Santoso (mantan Kapolri periode 1968-1971) yang dikenal sebagai sosok polisi yang teruji kejujurannya sampai maut menjemput.

Karena begitu melegenda kejujuran Hoegeng, dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya Jakarta (31/8/2006), Presiden keempat RI, Gus Dur mengungkapkan lelucon untuk mengenang integritas Hoegeng dengan mengatakan bahwa Indonesia hanya ada tiga polisi yang baik; pertama: jendral polisi Hoegeng, kedua, patung polisi dan ketiga adalah polisi tidur. Tentunya, tidak bermaksud memungkiri adanya polisi yang berintegritas saat ini, lelucon itu bisa menggambarkan bahwa sosok Hoegeng memang telah teruji karakter kejujurannya.

Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Hoegeng Iman Santoso (lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921– meninggal di Jakarta pada usia 82 tahun) adalah salah satu tokoh kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kapolri pada masa bakti tahun 1968 – 1971. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Hoegeng Iman Santoso di Mamuju, Sulawesi Barat.

Hoegeng menempuh pendidikan Rechts Hoge School Batavia pada 1940 dan pada masa penjajahan Jepang, ia mengikuti latihan kemiliteran Nippon. Setelah itu ia diangkat menjadi Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1946). Kemudian melanjutkan pendidikannya di akademi polisi dan setelah lulus berkarir di kepolisian sampai akhirnya menjabat sebagai Kapolri.

Saat menjadi Kapolri Hoegeng Iman Santoso melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih dinamis dan komunikatif. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Kejujurannya sampai akhir hayat

Untuk menjadikan seseorang disebut jujur dan berintegritas tak cukup dibuktikan dengan satu tindakan kejujuran melainkan seseorang harus menjadikan ini kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter.

Hoegeng telah membuktikan itu dalam hidupnya, sehingga kisah hidup Hoegeng ibarat sebuah pedoman kejujuran bagi siapa saja apalagi bagi pemimpin bangsa saat ini dan masa mendatang. Berikut beberapa kisah yang membuktikan bahwa kejujuran menjadi bahasa hidupnya:

Sebagai sosok polisi yang jujur dan bersih serta menghindari konfik kepentingan, Hoegeng pernah meminta Merry Roeslani, istrinya, menutup toko bunga yang baru dirintis. Hoegeng tak ingin ada konfik kepentingan. Sebagaimana ditulis Suhartono dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan (2013), Hoegeng tidak ingin memanfaatkan posisi, kekuasaan, dan jabatannya.

Menurut cerita Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), putra kedua Hoegeng, ayahnya tidak pernah mau menerima gratifikasi dalam bentuk apa pun. “Saat melakukan kunjungan ke daerah, pejabat setempat selalu memberikan bingkisan berupa makanan atau buah-buahan. Bingkisan itu sudah diletakkan di pesawat sebelum Papi naik. Namun, saat Papi melihat bingkisan itu, ia turun lagi dan meminta bingkisan itu diturunkan. Papi tak mau terbang sebelum barang tersebut disingkirkan dari pesawat,” tutur Didit.

Hoegeng ternyata juga merupakan sosok yang rajin dan teliti menuliskan jurnal harian. Ia terbiasa menuliskan pengalaman sehari-hari dalam sebuah buku berukuran besar. Pengalaman-pengalaman itu ditulis menggunakan tulisan tangan Hoegeng sendiri lengkap dengan tanggal kejadian.

Ternyata catatan-catatan Hoegeng itulah yang menyelamatkannya dari fitnah salah seorang rekannya di kepolisian. Hoegeng pernah dituduh ingin menjegal atasannya, Soetjipto Joedodihardjo. Dan berita itu sampai ke telinga Presiden Soekarno. Dan Presiden memanggilnya ke istana untuk mengonkonfirmasi kabar tersebut.

Ketika ditanya langsung oleh Presiden, Hoegeng terkejut lantas bertanya, “Siapa yang bilang?” Presiden Soekarno lantas menyebut satu nama. Hoegeng lalu minta agar dirinya dipertemukan dengan orang tersebut. Saat konfrontasi terjadi, Hoegeng tidak lupa membawa buku besar yang menjadi catatan hariannya.

Di hadapan Presiden, Hoegeng membenarkan bahwa dirinya memang didatangi oleh yang bersangkutan di kantor dan di rumahnya. Secara rinci Hoegeng menyebutkan tanggal dan pertemuannya, serta isi detail pembicaraannya. Hoegeng juga membeberkan jawabannya setelah diajak yang bersangkutan untuk menggulingkan jenderal polisi Soetjipto.

Namun, di catatan buku itu, Hoegeng menyatakan tak bersedia ikut dalam aksi tersebut. Akhirnya, Presiden bertanya kepada orang yang menuduhnya. “Apakah yang diceritakan Hoegeng itu benar?” tanya Soekarno. Orang yang memfitnah itu tertunduk dan lalu menjawab “Inggih Kasinggian (ya betul).”

Salah seorang anak Hoegeng yang bernama Didit mengatakan buku besar yang ditulis ayahnya sering dibacakan untuk anak-anaknya. “Dengan demikian kita bisa belajar dan memahami apa yang sudah kita lakukan dan kerjakan setiap saat. Itu ajaran Papi,” kata Didit.

Saat Hoegeng ditugaskan di Sumatra Utara, Keluarga Hoegeng sempat pula dihadiahi barang-barang mewah, mulai dari mesin cuci, pakaian bermerk, hingga alat elektronik yang dikirim ke rumah. Mengetahui adanya pemberian hadiah, istri Hoegeng tak mau begitu saja menerima. Ia langsung melapor ke suami mengenai hadiah tersebut. Sadar hadiah tersebut adalah bentuk suap, Hoegeng dan istri memutuskan untuk  mengembalikan seluruh barang-barang itu.

Keteguhan Hoegeng dalam menjaga harga diri ternyata bentuk keteladanannya terhadap sosok Bung Hatta. Hoegeng tahu betul bahwa setelah mundur dari Wakil Presiden RI, Bung Hatta hanya memiliki uang tabungan Rp 200. “Orang hidup lurus, apakah musti kurus di zaman ini?” demikian salah satu kutipan yang ada dalam buku “Hoegeng Polisi Idaman dan Kenyataan”.

Namun demikian, atas sikap keras dan lurusnya, Hoegeng harus menerima kenyataan bahwa dirinya “dipensiunkan” di usia muda. Di umurnya yang baru menginjak 49 tahun, Hoegeng “dipensiunkan” Presiden Soeharto karena bersikeras mengusut dugaan keterlibatan anak pejabat dalam kasus Sum Kuning. Memori pemecatan Hoegeng itu terus melekat di benak Merry.

Merry menceritakan, usai kejadian itu, Hoegeng pulang ke kampung halamannya di Pekalongan untuk bertemu sang ibu dan menceritakan semuanya. Ibunya mengatakan, “Kalau kamu jujur melangkah, kita masih bisa makan nasi sama garam….. perkataan ibu itu yang bikin kita kuat semua,” kenang Merry saat peluncuran buku “Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan” pada 2013 silam.

Selain jujur dan sederhana ternyata Hoegeng adalah sosok yang humanis, bahkan saat ia menghadapi kematian. Dia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan melainkan di Pemakaman Umum Giri Tama di Bogor. Akhirnya terungkap alasan Jenderal Hoegeng dimakamkan di sini. Sebelum meninggal dia berpesan kepada keluarganya agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Ia berkata: kalau saya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Merry tak bisa dimakamkan disamping saya. Saya ingin istri saya selalu mendampingi,” begitu katanya. Bagi Hoegeng sosok Merry mempunyai arti yang sangat spesial. Jalan integritas yang ditempuh Hoegeng tak semua perempuan bisa mengimbanginya. Sampai pensiunpun Hoegeng dan istrinya tak punya rumah dan mobil, dan hanya tinggal di rumah dinas.

Kejujuran dan kesederhanaan Jenderal Hoegeng tetap abadi, bahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 5 Maret 2015 memberi penghargaan sebagai Polisi Paling Jujur Se- dunia. Pengakuan itu seakan makin menguatkan pesan yang terdapat pada nisan Jenderal Hoegeng, yang berasal dari ucapannya sendiri menjelang akhir hayat: “Alhamdulillah telah kubuktikan bahwa imanku benar-benar Santoso.”

Ada kisah unik tersendiri di balik pesan yang tertera pada nisan Jenderal Hoegeng. Menurut penuturan salah satu anaknya, semasa hidup ayahnya tidak pernah menggunakan nama lengkapnya, Hoegeng Iman Santoso. Sebaliknya, ayahnya hanya menuliskan nama depannya saja, Hoegeng.

Ketika ditanya alasannya, Jenderal Hoegeng menjawab, dirinya harus membuktikan dahulu bahwa Imannya benar-benar Santoso sampai akhir hayat. Setelah terbukti, dirinya baru pantas menggunakan nama lengkapnya. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI