Dahulu kala hiduplah seorang penebang kayu yang sudah tua. Dia menghabiskan seluruh hidupnya dengan menebang kayu dan kemudian menjualnya, setelah puluhan tahun melakukan hal yang sama, dia merasa muak dengan hidupnya.
Berkali-kali dalam hidupnya dia berpikir untuk mati. Berkali-kali ia bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Engkau tidak membunuhku saja? Apa arti hidup ini? Menebang kayu setiap hari! Menjual kayu setiap hari! Aku lelah!
Setelah bekerja seharian, kadang aku masih tidak bisa makan sampai kenyang, dan kadang bahkan aku tidak makan sekali pun dalam sehari.
Semua teman-teman masa kecilku sudah mati, hanya tinggal aku sendiri, yang sudah tua, namun masih saja harus bekerja keras setiap hari.
Bagaimana bisa aku hidup lebih lama lagi dalam kondisi seperti ini?”
Suatu hari, ketika kembali dari hutan dalam perjalanannya ke pasar, dia berhenti di tengah jalan dan melempar semua kayu yang dia bawa. Dia lalu duduk, melipat tangannya, melihat ke langit, berkata, “Kematian datang kepada semua orang, lalu mengapa tidak kepadaku? Dewa Kematian, apakah Engkau melupakanku? Tolong bawalah aku pergi!”
Saat itu, secara kebetulan, Dewa Kematian sedang melintas di sana.
Mendengar panggilan penebang kayu, Dewa Kematian menghampirinya. Dia meletakkan tangannya di bahu si penebang kayu dan berkata, “Apa yang kau inginkan? Mengapa engkau memanggilku?”
Si penebang kayu berbalik, dan melihat Dewa Kematian berdiri di depannya. Begitu menyeramkan, melihatnya, penebang kayu ini gemetar.
Dia berpikir sendiri dalam hati, “Aku terus memohon kematian berkali-kali dalam hidupku, sampai kematian itu benar-benar datang kali ini!!”
Di hadapan kematiannya, dia menjadi ketakutan, dia sama sekali tidak berani mengatakan permintaannya. Jadi dia menjawab: “Tidak, kayu-kayu yang aku bawa ini jatuh, dan tidak ada seorang pun yang membantuku untuk mengangkatnya lagi. Jadi, berdoa meminta bantuan.”
Dewa Kematian membantunya mengangkat semua kayu itu, dan menaruhnya di pundak si penebang kayu tua, lalu kemudian melanjutkan perjalanannya.
Hari itu, si penebang kayu merasa bersemangat lagi. Dia bersyukur karena masih hidup. (inspirasibambu/an)
Kadang, ada saat-saat dalam hidup, ketika kita menghadapi situasi sulit dalam hidup, kita merasa mudah untuk menyerah dan mengharapkan kematian! Namun pada kenyataannya, yang kita inginkan hanyalah melewati masa-masa sulit itu, dan bukannya kematian.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI

