Site icon NTD Indonesia

Kisah Petani yang Iri Hati

Petani membajak sawah

Petani membajak sawah. (inspirasibambu)

Dahulu kala, hiduplah seorang petani. Dia hanya memiliki sepetak sawah, sementara semua tetangganya memiliki puluhan hektar sawah, karena itu, dia selalu merasa iri dengan mereka, dan berpikir bahwa dirinya hidup dalam penderitaan karena kemiskinan.

Di sawah kecilnya, petani ini menanam tanaman untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Mereka selalu mendapatkan cukup makan dari hasil sawahnya, namun tetap saja, dia selalu merasa menderita.

Seiring bertambahnya usia, si petani merasa semakin sulit baginya untuk bekerja di sawah.

Dia melihat bahwa para tetangganya memiliki beberapa ekor kerbau, yang mereka gunakan untuk membantu membajak sawah.

Petani ini mulai berpikir, bahwa akan sangat bagus jika dia memiliki seekor kerbau untuk membantunya membajak, namun apa mau dikata, dia tidak punya cukup uang untuk membeli seekor kerbau, jadi dia hanya bisa berharap dan terus merasa menderita.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari sawahnya dalam keadaan lelah. Dia bertemu dengan seorang lelaki tua.

Melihatnya berjalan dengan wajah lesu, lelaki tua itu berkata, “Hai kawan, ada apa? Kamu tampak sangat sedih?”

Si petani itu menceritakan kondisinya, mengeluh bahwa dia sangat miskin dan hidup dalam penderitaan, dia berkata, “Apa yang harus kukatakan. Aku selalu hidup dalam penderitaan. Aku tidak punya banyak uang. 

Semua orang di sekitarku memiliki segalanya dan aku tidak. Aku harus bekerja di sawah setiap hari, tapi semakin sulit untuk bekerja.

Jika saja aku memiliki seekor kerbau, maka aku dapat dengan mudah melakukan semua pekerjaan membajak, menabur, dan mengairi sawah.”

Lelaki tua itu berkata, “Oh, jadi kamu perlu seekor kerbau, tunggulah sebentar di sini!”

Lelaki tua itu pergi, dan tidak lama kemudian, dia kembali sambil membawa seekor kerbau.

Dia memberikan kerbau itu kepada si petani dan berkata, “Baiklah. Kerbau ini milikmu mulai hari ini. Bawalah kerbau ini pulang bersamamu, tapi setelah sampai di rumah nanti, katakan kepada semua tetanggamu untuk datang kemari!”

Petani berkata, “Aku sangat senang mengetahui bahwa kamu akan memberiku seekor kerbau, tapi mengapa kamu ingin bertemu dengan para tetanggaku?”

Lelaki tua itu menjawab, “Agar aku dapat memberi mereka masing-masing 10 ekor kerbau.”

Mendengar perkataan si lelaki tua, petani itu mulai merasa marah. Dia menjadi iri hati dan berkata, “Tapi, semua tetanggaku memiliki segalanya. Jika kamu ingin memberikan 10 ekor kerbau kepada tetanggaku, lalu apa artinya satu ekor kerbau yang kamu berikan ini?

Kamu tidak adil. Tidakkah kamu mendengar ceritaku, bahwa aku selalu menderita, hidup dalam kemiskinan?”

Kemudian lelaki tua itu berkata, “Baiklah kalau satu ekor kerbau ini tidak ada artinya bagimu, maka saya akan mengambilnya lagi.

Tapi biar saya katakan satu hal. Apakah kamu tahu apa masalahmu?

Masalahmu bukanlah kemiskinan, melainkan iri hati. Jika kamu merasa puas dengan apa pun yang kamu dapatkan, maka kamu tidak akan merasa tidak senang dengan apa yang didapatkan oleh tetangga-tetanggamu.

Jika kamu tidak punya rasa iri hati, kamu tidak akan hidup menderita lagi. Tidakkah kamu sadar, sawahmu memang kecil, tapi itu cukup untuk menghidupi seluruh keluargamu selama ini bukan?

Sayang sekali, kerbau ini bukan untukmu. Tidak ada gunanya memberikan berapa banyak pun kerbau, kepada orang yang tidak tahu untuk bersyukur!” 

Setelah berkata demikian, lelaki tua itu pergi sambil membawa kerbau yang seharusnya diberikan kepada si petani.

Si petani menyadari kesalahannya, dia baru sadar bahwa selama ini hidupnya tidak kekurangan apapun, dan bahwa sifat iri hatinya-lah yang membuatnya merasa menderita. (inspirasibambu/an)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI