Budi Pekerti

Kisah Sebuah Pohon

Pohon @Canva Pro
Pohon @Canva Pro

Ketika anggota keluarga sudah tidur, saya menuju ke depan tungku perapian menambah 2 potong kayu, setelah itu duduk di kursi goyang favorit saya membaca buku Dayton.

Artikelnya mengingatkan saya tentang sebuah cerita film. Film pendek ini  adalah film yang berjudul “Pohon yang ditinggalkan”,  cerita film ini sangat sederhana tetapi maknanya sangat mendalam.

Ada seorang anak lelaki, dari sejak kecil suka bermain ayunan di atas pohon; memanjat pohon memetik buah; tertidur dibawah pohon yang rindang. Masa-masa tersebut adalah masa paling bahagia, pohon sangat mencintai masa-masa tersebut.

Perlahan-lahan anak ini mulai tumbuh dewasa, waktunya bermain dengan pohon semakin lama semakin sedikit.

Pada suatu ketika pohon berkata, “Kesinilah! kita bermain-main sebentar.”

Tetapi di dalam hati pria muda ini hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang.

Pohon berkata kepadanya, “petiklah buah saya dan jual ke pasar.”

Pria muda memetik buah dan menjual buah-buahan dari pohon. Pohon sangat bahagia. Namun itu tidak berlangsung lama.

Pria muda ini sudah lama tidak ke sana. Ketika melewati pohon, pohon tersenyum kepadanya, “Kemari, kita bermain-main sebentar!” tetapi pemuda ini telah dewasa, dia berkata kepada pohon bahwa dia ingin melihat dunia luar, meninggalkan kampung halamannya.

Pohon berkata, “Engkau dapat menebang batang saya supaya dapat membuat sebuah perahu, dengan demikian engkau dapat pergi berlayar.”

Pria ini menebang batang pohon yang besar-besar untuk membuat perahu, pohon sangat bahagia, walau dalam hatinya sedih karena akan berpisah lama dengan anak ini.

Puluhan tahun telah berlalu, musim berganti terus, musim semi berganti musim dingin, di malam yang dingin dan kesepian, pohon menunggu terus. Akhirnya, seorang kakek telah kembali, usianya yang sudah tua dan lelah membuatnya tidak bisa bermain lagi, waktunya telah habis untuk mengejar harta dan berlayar.

“Temanku, saya mempunyai sebuah tungku yang nyaman, potonglah beberapa dahan saya dijadikan kayu bakar untuk menghangatkan diri, engkau dapat duduk dan beristirahat dengan tenang disini”, ujar Pohon.

Kakek ini akhirnya duduk beristirahat, pohon merasa sangat gembira.

Saya memandang ke kobaran api, melihat perjalanan hidup saya selama ini, seperti pria muda dan pohon tersebut.

Di masa hidup kita ada berapa banyak pohon yang diabaikan? Berapa banyak orang telah berkorban untuk kita, sampai kita bisa menjadi dewasa, tetapi kita hanya bisa berkeluh kesah dalam proses memuaskan diri sendiri, tidak tahu berterima kasih dan bersyukur.

Mulai saat ini saya harus selalu mengingat mereka dan mengucapkan terima kasih dan rasa syukur yang keluar dari hati nurani saya.

Setelah intropeksi demikian saya merasa hati saya menjadi damai, kobaran api mulai padam, saya tahu sudah sangat malam saya sekarang dapat beristirahat dengan pikiran yang tenang.(minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI