Budi Pekerti

Kisah Shi Dakai Menghadapi Para Bandit

Pemberontakan Taiping (1851-1864) adalah perang saudara terbesar di Tiongkok dan dipimpin oleh Hong Xiuquan, Shi Dakai, dan yang lainnya. Mereka mendirikan Kerajaan Surgawi Taiping, sebuah negara yang tidak diakui oleh Dinasti Qing, dan memiliki dampak jangka panjang pada sejarah Tiongkok.

Shi Dakai, salah satu jenderal tentara Kerajaan Surgawi Taiping, adalah tokoh legendaris. Sebelum bergabung dengan tentara, dia adalah pria berpendidikan, cerdas dan kaya, yang suka berteman dengan orang-orang berbakat dan mengadakan makan malam di rumahnya untuk mereka. Setiap hari, ia berkuda bersama lusinan teman ini untuk menikmati lompat pagar atau memegang tombak.

Ada gunung tidak jauh dari rumahnya. Sekelompok bandit tinggal di sana dan mencari nafkah dari merampok pelancong yang melewati jalan gunung. Suatu hari, seorang pedagang dari Fujian perlu melewati jalan itu, tetapi takut dirampok. Dia mengunjungi Shi Dakai dan meminta perlindungannya. Shi setuju dan mengutus sekompi prajurit untuk menemani pedangang itu agar perjalanannya aman.

Kepala bandit jengkel ketika dia mengetahui hal itu dan membawa ratusan kaki tangannya ke rumah Shi, berniat untuk menculiknya dengan paksa. Ia juga menyeret pedagang Fujian itu dan prajurit Shi Dakai bersama mereka.

Saat mereka datang, dia membuka pintu rumahnya dan mengundang para bandit untuk memasuki rumah. Dia mengatakan kepada mereka, “Apa yang kalian inginkan hanyalah uang. Pedagang itu melakukan perjalanan ke tempat yang jauh dari rumah untuk mencari nafkah dari menjual barang-barang bawaan mereka, penghasilan mereka kecil, dan itu adalah pekerjaan yang sulit. Jika kalian mengambil barang-barangnya, dia hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Bagaimana bisa kalian melakukan itu? Dia tidak memiliki sarana untuk bertahan hidup dan kemungkinan akan mati di jalan. Saya tidak tega melihatnya dan ingin melindunginya”.

Shi bertanya pada pedagang itu berapa banyak uang yang dia miliki. Pedagang itu berkata: “Sekitar 500 keping perak”. Shi meminta pelayannya untuk mengambil 500 keping perak dari tempat penyimpanan uang miliknya dan meletakkannya di atas meja, berkata kepada para bandit, “Ini untukmu. Saya akan sangat menghargainya jika kalian mengambil uang saya dan mengampuni pedagang itu”.

Para bandit terkejut dengan kejadian yang tak terduga ini dan bingung. Pemimpin itu berkata: “Kami telah mendengar bahwa tuan Shi menghargai kebenaran atas kepentingan harta. Sekarang kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Apa yang kami lakukan bukanlah bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Kami menghormati tindakan mulia tuan Shi. Kami tidak berani mengambil perak dan akan pergi sekarang”.

Shi sangat senang dan menyiapkan pesta untuk pedagang dan mengundang para bandit untuk bergabung dengan mereka. Para bandit menikmati makan dan minum bersama Shi, menyesali bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya sebelumnya. Pada akhir pesta, para bandit mengucapkan selamat tinggal dan Shi bersikeras memberi mereka perak. Mereka menolak beberapa kali, tetapi karena desakan Shi, mereka akhirnya mengambil setengah dari apa yang ditawarkan.

Pemimpin bandit tersentuh oleh karakter mulia Shi dan ingin mengungkapkan perasaannya. Dia mengirim kaki tangannya untuk menanyakan tentang tanggal ulang tahun Shi. Pada hari itu, para bandit membawa hadiah emas, batu giok dan pakaian bersulam untuk merayakannya. Shi mengadakan pesta selama tiga hari dan para bandit semuanya hadir.

Seseorang yang iri pada Shi diam-diam memberi tahu hakim daerah bahwa Shi menyembunyikan bandit di rumahnya, yang mungkin berkembang menjadi bencana lokal untuk wilayah tersebut. Hakim daerah, yang juga mendambakan kekayaan Shi, memimpin sekelompok prajurit ke rumah Shi. Ketika mereka tiba, pesta itu masih berlangsung sehingga hakim menangkap Shi dan semua bandit dan melemparkan mereka ke penjara.

Yang Xiuqing, yang adalah teman lama Shi Dakai dan sudah menjadi jenderal Kerajaan Surgawi Taiping saat itu, mendengar tentang penangkapan Shi dan mengirim pasukannya untuk menyelamatkannya. Setelah itu, Shi bergabung dengan Kerajaan Surga Taiping dan menawarkan semua yang dia miliki untuk membantu mereka, merupakan bantuan yang signifikan selama pemberontakan. (visiontimes/bud/ch)