Budi Pekerti

Kisah si Biksu Kecil Tang Zhang

Biksu kecil (©Tania Chowdhury)
Biksu kecil (©Tania Chowdhury)

Pada zaman dinasti Tang, di sebuah kuil hiduplah seorang biksu kecil. Setiap pagi, begitu bangun tidur biksu kecil ini harus segera mulai menimba air menyapu halaman. Seusai pelajaran pagi, dia masih harus pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang kuil untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari untuk kuil itu. Setelah membeli barang yang dibutuhkan, dan tanpa adanya waktu luang dia masih harus mengerjakan sejumlah pekerjaan. Kemudian ia masih membaca kitab suci hingga larut malam.

Demikianlah kegiatannya setiap hari, setiap pagi dan senja mendengar suara lonceng pagi di kuil hingga 10 tahun berlalu sudah. Suatu ketika, akhirnya biksu kecil mendapat sedikit waktu luang. Kemudia ia berbincang-bincang bersama dengan biksu kecil lainnya. Dia mendapati bahwa teman-temannya ternyata hidupnya begitu santai.

Hanya dia seorang yang selalu sibuk setiap hari. Tugas membaca dan pekerjaan dari kepala biara kepadanya selalu yang paling berat. Dia tidak habis mengerti lalu bertanya pada kepala biara. Mengapa semua orang hidupnya lebih santai daripada saya? Sedangkan saya harus bekerja tiada henti? Kepala biara hanya tersenyum dan berkata bahwa jawabannya akan diberitahukan kepadanya besok.

Keesokannya, biksu kecil ini pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli sekarung beras. Dalam perjalanan pulang sambil memanggul beras tiba di pintu belakang kuil, dan tampak di sana kepala biara sedang menunggunya. Kemudian kepala biara duduk istirahat memejamkan mata. Biksu kecil tidak mengerti maksud kepala biara, akhirnya dia duduk menunggu di samping.

Biksu kecil terus menunggu dan menunggu. Mentari sudah hampir terbenam, tiba-tiba di depan biara datang beberapa biksu kecil. Kepala biara membuka matanya dan bertanya pada mereka. Pagi-pagi saya meminta kalian pergi membeli garam di kampung nelayan. Jalan kesana begitu dekat dan rata. Kenapa kalian baru kembali sekarang? Biksu-biksu kecil ini saling berpandangan, kemudian menjawab, “Kepala biara, dalam perjalanan kami tertawa bercanda dan menikmati pemandangan pantai, akhirnya sekarang baru sampai.”

Lalu kepala biara bertanya pada biksu kecil yg berdiri di samping, “Kamu ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli beras, jalannya berliku-liku dan jauh, harus menapaki bukit dan lembah, bahkan harus membawa beras yang berat. Kenapa waktu kamu kembali lebih awal daripada mereka?

Biksu kecil menjawab, “Setiap hari dalam perjalanan saya selalu ingin cepat pergi cepat kembali. Lagipula jalannya sangat hati-hati karena memanggul barang yang berat di atas pundak, dan lama kelamaan jalannya semakin mantap dan cepat. Selama 10 tahun ini saya sudah terbiasa, dalam hati hanya ada satu tujuan.”

Setelah mendengarnya kepala biara lalu berkata pada semua biksu kecil: “Jalanan sudah rata. Tetapi hati tidak terpusat pada tujuan. Hanya dengan berjalan di atas jalanan yang berliku, baru bisa menempa tekad seseorang.”

Biksu kecil inilah akhirnya menjadi Biksu Tang yang menempuh perjalanan ke barat bersama Kera Sakti (Sun Go Kong). Oleh karena tempaan sejak kecil sehingga dalam perjalanannya ke barat yang serba sulit dan bahaya untuk mengambil kitab suci itu. Jadi, jalan yang berliku dan sulit, bukanlah halangan untuk mencapai tujuan. Sebuah tekad, baru merupakan kunci sukses atau gagal.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI