Site icon NTD Indonesia

Lebih Bahagia Karena Joy of Missing Out (JOMO)

Joy of Missing Out

Joy of Missing Out. (Canva Pro)

Di dunia di mana Fear of Missing Out (FOMO) mendominasi kehidupan sosial dan profesional kita, konsep Joy of Missing Out (JOMO) menawarkan alternatif yang menyegarkan dan membebaskan. JOMO adalah tentang menemukan kebahagiaan dalam apa yang Anda lakukan saat ini tanpa mengkhawatirkan apa yang orang lain lakukan.

Ini adalah tentang merangkul kedamaian dan kepuasan yang datang dari memutuskan hubungan dari rentetan pembaruan media sosial, pesan pemasaran, dan tekanan sosial yang terus-menerus. Artikel ini akan mengeksplorasi esensi dari JOMO, bagaimana ekonomi kita tumbuh subur dengan adanya rasa takut untuk keluar (FOMO), dan bagaimana mengadopsi JOMO dapat membantu Anda menavigasi dan melawan taktik pemasaran yang merajalela.

Memahami JOMO: Kegembiraan karena ketinggalan

JOMO adalah antitesis dari FOMO. Sementara FOMO didorong oleh kecemasan dan ketakutan bahwa orang lain memiliki pengalaman yang lebih bermanfaat, JOMO adalah tentang menghargai situasi Anda saat ini dan menemukan kegembiraan dalam kesendirian atau kesenangan hidup yang sederhana. Ini adalah tentang hadir dan puas dengan keberadaan Anda dan apa yang Anda miliki.

Menurut sebuah penelitian oleh Dr. Sandi Mann dari University of Central Lancashire dalam Creativity Research Journal: “Fungsi atau manfaat terakhir dari kebosanan adalah bahwa kebosanan dapat menstimulasi ‘produksi fantasi, membangkitkan kreativitas.”

Pergeseran pola pikir ini dapat meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, dan kepuasan yang lebih besar.

Bahaya FOMO

Ekonomi penjualan dan pemasaran kita dibangun di sekitar pesan yang membangkitkan FOMO. Pengiklan dan pemasar memanfaatkan rasa takut ini untuk mendorong perilaku konsumen, menciptakan rasa urgensi dan kelangkaan yang membuat orang untuk membuat keputusan impulsif. Penawaran dalam waktu terbatas, penawaran eksklusif, dan influencer media sosial yang menampilkan kehidupan mereka yang tampaknya sempurna, semuanya berkontribusi pada fenomena ini.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr. John Grohol, pendiri Psych Central: “Anda termasuk  orang  yang FOMO jika selalu memeriksa notifikasi HP Anda secara rutin. Bisa juga mendaftar untuk sebuah kegiatan baru meskipun jadwal Anda sudah padat.”

Para pemasar telah lama mengetahui bahwa menciptakan rasa urgensi dan eksklusivitas dapat mendorong penjualan. FOMO memanfaatkan hasrat dan nafsu keinginan manusia yang selalu ingin lebih dan tidak mau ketinggalan.

Tekanan terus-menerus untuk mengikuti update dapat menyebabkan kecemasan, ketidakpuasan, dan perasaan tidak mampu yang terus menerus.

Melepaskan diri Anda terhadap FOMO

“Menjadi JOMO” dapat menjadi penangkal yang ampuh terhadap pesan-pesan pemasaran tanpa henti yang memicu FOMO. Dengan berfokus pada apa yang benar-benar penting bagi Anda dan menemukan kegembiraan di masa sekarang, Anda dapat membangun ketahanan terhadap taktik ini.

  1. Perhatian dan kesadaran diri: Berlatih kesadaran penuh dapat membantu Anda tetap membumi dan hadir. Meditasi, pernapasan dalam, dan membuat jurnal dapat meningkatkan kesadaran diri Anda dan membantu Anda mengenali ketika FOMO memengaruhi keputusan Anda.
  2. Menetapkan batasan: Batasi paparan Anda terhadap media sosial dan sumber-sumber lain yang memicu FOMO. Buatlah waktu khusus untuk memeriksa perangkat Anda dan patuhi waktu tersebut. Hal ini dapat mengurangi perbandingan yang terus-menerus dan kecemasan karena melihat sorotan orang lain.
  3. Memprioritaskan nilai-nilai pribadi: Identifikasi apa yang benar-benar penting bagi Anda dan selaraskan tindakan Anda dengan nilai-nilai Anda. Ketika Anda sudah jelas dengan prioritas Anda, maka akan lebih mudah untuk menolak tarikan FOMO dan membuat keputusan yang memberikan Anda kegembiraan dan kepuasan yang tulus.
  4. Menumbuhkan rasa syukur: Berlatih bersyukur secara teratur dapat mengalihkan fokus Anda dari apa yang Anda belum miliki, menjadi mensyukuri apa yang sudah Anda punya (dan tidak selalu merasa kurang). Membuat jurnal rasa syukur atau sekadar meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan berkat-berkat yang Anda miliki dapat menumbuhkan rasa puas dan mengurangi dampak FOMO.

Kesimpulan

Di dunia di mana FOMO merajalela dan sering dieksploitasi oleh para pemasar, menjadi JOMO dapat menjadi praktik yang transformatif. Dengan menemukan kegembiraan pada saat ini, menetapkan batasan, dan memprioritaskan nilai-nilai pribadi, Anda dapat membangun ketahanan terhadap tekanan masyarakat modern dan taktik pemasaran. Ketika Anda mengembangkan pola pikir kepuasan dan rasa syukur, Anda akan menemukan bahwa sukacita karena kehilangan bukanlah tentang kekurangan, tetapi tentang menemukan kepuasan di saat ini.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI