“Jika seorang pria menjadi penyapu jalan, maka dia harus menyapu jalan seperti halnya Michelangelo melukis, atau Beethoven memainkan musik, atau Shakespeare menulis puisi. Dia harus menyapu jalan dengan sangat baik sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti untuk mengatakan, ‘di sini hidup seorang penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik’.”
~ Martin Luther King, Jr.
Sejak kecil, saya mendorong anak saya untuk melakukan yang terbaik. Baik di sekolah, mengerjakan tugas-tugas di rumah, ataupun ketika membantu orang lain, saya menekankan bahwa memberikan upaya terbaik selalu penting.
Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa saya terlalu banyak memberi tekanan pada putra saya, bahwa ia tidak akan selalu hebat dalam segala hal yang dilakukannya. Tetapi di sinilah pemikiran kadang menjadi membingungkan, mengarah pada pemahaman dan fokus yang salah.
Menjadi yang terbaik
Meminta putra saya untuk melakukan yang terbaik sebenarnya bukanlah memintanya untuk menjadi yang terbaik, ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Dia tidak mungkin menjadi yang terbaik dalam segala hal, dan seharusnya itu bukan tujuan. Tapi dia selalu bisa melakukan yang terbaik.
Menjadi yang terbaik melibatkan unsur kompetisi, di mana kita membandingkan apa yang kita lakukan dengan apa yang orang lain lakukan. Hal tersebut membutuhkan lebih banyak fokus pada dunia luar, dan lebih sedikit pada dunia dalam.
Ketika kita fokus untuk menjadi yang terbaik, secara alami akan menempatkan diri kita pada urutan pertama, daripada memikirkan orang lain terlebih dahulu. Sebagai hasilnya, kita mungkin mulai kurang belas kasih terhadap orang lain.
Untuk menjadi yang terbaik, kita harus memperhatikan kepentingan pribadi kita di atas segalanya, sesuatu yang mengharuskan kita selalu melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengalahkan kita. Dan kita membandingkan apa yang kita lakukan dengan apa yang orang lain lakukan, bukannya dengan apa yang benar atau salah, maka kita mungkin menemukan diri kita tidak selaras dengan nilai-nilai kebajikan tradisional.
Hati kita sering menjadi gelisah ketika berusaha untuk mengalahkan orang lain, dan kita mungkin menemukan bahwa pikiran kita bergejolak bahkan di malam hari, dan akibatnya tidur pun menderita.
Hidup dengan cara ini tidak hanya membuat stres, tetapi juga melelahkan.
Lakukan yang terbaik
Melakukan yang terbaik berarti memberikan segalanya, dan melakukan apa pun yang kita upayakan dengan sepenuh hati. Tidak peduli seberapa sulit tugas itu, yang penting berusaha maju dengan fokus dan tekad.
David Erichsen, di situsnya, Lifehack, mengatakan, “Melakukan yang terbaik adalah identik dengan melakukan setiap pekerjaan dengan hati kita, dengan fokus dan energi kita sepenuhnya.”
Melakukan yang terbaik adalah kebajikan. Tidak hanya mengisi kita dengan rasa pencapaian tetapi juga berfungsi untuk memperkuat hal-hal baik dalam diri kita. Dibutuhkan tekad dan keteguhan, fokus, dan ketekunan, serta banyak disiplin diri. Hal-hal seperti kesabaran, kejujuran, kecerdikan, dan menjadi bijaksana serta memikirkan orang lain juga diperlukan. Dan terkadang bahkan melibatkan darah, keringat, dan air mata.
Meskipun mungkin itu tidak mudah, namun saya pikir sebagian besar dari kita akan setuju bahwa ketika kita merebahkan kepala di malam hari, kita akan tidur dengan lebih baik saat mengetahui bahwa kita telah berusaha melakukan yang terbaik tugas-tugas kita di hari itu. Kepuasan tersebut memenuhi kebutuhan mendalam di relung jiwa kita dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain.
Cari pelajarannya
Dalam upaya untuk melakukan yang terbaik, hal-hal mungkin tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Tetapi sekalipun jika hasilnya tidak bagus, jika kita terus mengingat untuk fokus pada proses daripada hasilnya, maka kita bisa melihatnya benar-benar dalam proses yang kita pelajari dan kembangkan. Apa pun hasilnya, kita dapat merenungkan apa yang telah kita pelajari dan menggunakannya untuk membantu kita meningkat dan melakukan lebih baik di waktu berikutnya.
Bahkan, sering kali dalam kegagalan dan kesulitan adalah hal yang paling banyak kita pelajari.
Mengetahui hal ini, ada saat-saat ketika saya mencoba melindungi anak saya dari kesulitan. Saya menjadi mengerti bahwa dengan melindunginya malah lebih berfokus tentang saya dan lebih sedikit tentang dia. Walaupun mungkin sulit bagi saya untuk melihat dia gagal atau mengalami kesulitan, jika saya terus melindunginya dari semua kesulitan hidup, maka dia tidak akan pernah belajar bagaimana menanganinya. Pada kenyataannya, ketika saya mencoba membuat hidupnya terlalu mudah, saya merampas pelajaran berharga yang dimaksudkan untuk membantunya meningkat.
Dalam kesulitan, kita akan tumbuh lebih kuat, belajar bagaimana melakukan lebih baik, dan mengembangkan karakter moral kita. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, “Kekuatan tidak datang dari kemenangan. Perjuangan Andalah yang mengembangkan kekuatan Anda. Ketika Anda mengalami kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah, itulah kekuatan.”
Hidup pasti memiliki andil dalam pasang surut. Jika saya tidak memberi anak saya kesempatan untuk mengalami hal ini, dan belajar bagaimana mengatasi kesulitan dan mengembangkan ketahanan, bagaimana dia akan pernah mengelola tantangan hidup sebagai orang dewasa? (epochtimes/tatiana denning/ajg)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

