Site icon NTD Indonesia

Mekanisme Tersembunyi di Balik Rasa Syukur

Sebagian besar dari kita menghabiskan hari-hari kita dengan iri pada kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa menyadari bahwa kita pun adalah objek iri hati orang lain. Kita terpaku pada apa yang tidak kita miliki. Kita lupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki.

Kebanyakan orang memperlakukan rasa syukur sebagai sikap ceria semata, lagu perusahaan yang diputar di acara retret perusahaan, sentimen yang menyenangkan tanpa efek nyata. Hampir tidak ada yang mengerti bagaimana sebenarnya cara kerjanya. Akibatnya, rasa syukur menjadi hampa dan tidak efektif. Orang-orang yang menerapkan hukum rasa syukur melihat kehidupan mereka berubah.

Dua Bersaudara dan Seguci Beras

Ada sebuah kisah tentang dua bersaudara yang hidup dalam kemiskinan. Suatu hari mereka menemukan bahwa seguci beras di rumah mereka hampir tidak cukup untuk satu hari saja.

Wajah kakak laki-laki itu muram. “Kita tidak punya apa-apa lagi untuk besok,” katanya. “Kita bekerja keras sepanjang hari dan bahkan tidak bisa makan sampai kenyang. Kapan penderitaan ini akan berakhir? Dewa sungguh kejam pada kita!”

Adik laki-laki itu melihat guci yang sama. “Kita masih punya beras,” katanya. “Tuhan belum melupakan kita. Aku bersyukur. Setidaknya hari ini, kita akan makan.”

Kedua saudara itu akhirnya berpisah. Keadaan adik laki-laki berubah membaik. Kakak laki-laki tetap hidup sengsara.

Perhatian sang kakak tidak pernah lepas dari rasa kekurangannya. Dia hidup dalam perasaan “tidak cukup,” dan perasaan itu, tanpa perlawanan, menjadi status batinnya: kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, keluhan. Perhatian adik laki-laki tertuju pada apa yang dimilikinya. Cuaca batinnya adalah kelimpahan, kehangatan, dan cinta. Dunia batin masing masing saudara membentuk dunia luarnya.

Apa yang anda lihat dalam gelas setengah penuh menentukan apa yang anda dapatkan dari hidup.

Pertimbangkan gambaran familiar tentang gelas yang setengah penuh dengan susu. Seseorang tanpa rasa syukur melihat apa yang hilang. Seseorang yang memiliki rasa syukur melihat apa yang tersisa.

Ketika pikiran Anda berfokus pada apa yang sudah Anda miliki, pikiran tersebut akan membangkitkan perasaan tercukupi dan kasih. Perasaan itu, pada gilirannya, akan menarik dan menciptakan lebih banyak hal yang serupa. Sebaliknya, ketika pikiran Anda terus tertuju pada apa yang belum Anda miliki, hal itu akan melahirkan rasa kekurangan, dan rasa kekurangan tersebut akan terus memperbanyak dirinya sendiri.

Ada sebuah adegan dalam film The Godfather yang menggambarkan hal ini dengan baik. Vito Corleone muda pulang ke rumah suatu malam tanpa apa pun kecuali sebuah pir. Istrinya mengangkatnya dan mengaguminya. Dia melihat kebaikan dalam apa yang ada di sana.

Rasa syukur mengarahkan perhatian anda, dan perhatian menentukan apa yang tumbuh.

Ketika anda memusatkan perhatian pada apa yang sudah anda miliki, anda melepaskan perasaan cinta dan penghargaan, dan perasaan-perasaan itu menciptakan lebih banyak lagi.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak memliki apa pun. Saat anda mengalihkan fokus dari “apa yang saya tidak punya” ke “apa yang saya punya,” keadaan emosional anda berubah. Rasa syukur muncul secara alami.

Katakanlah dua rekan kerja menerima bonus akhir tahun. Satu orang menerima 1 juta, yang lain 1.5 juta. Orang yang tidak bersyukur berpikir: Saya mendapat 500 ribu lebih sedikit daripada rekan saya. Orang yang bersyukur berpikir: Atasan saya memberi saya 1 juta. Dia bisa saja tidak memberi saya apa pun. Saya benar-benar bersyukur.

Orang yang bersyukur tidak pernah terjebak pada apa yang masih kurang. Perhatiannya tertuju pada apa yang telah ia terima, sehingga keadaan emosinya tetap berada dalam rasa kelimpahan. Apa pun yang Anda syukuri, itulah yang Anda kembangkan. Sebaliknya, apa pun yang Anda abaikan atau sesali, perlahan akan melemah dan menghilang.

Jika Anda mempraktikkan rasa syukur sedalam itu, Anda akan mulai menyadari sesuatu: dunia di sekitar Anda seolah mulai berpihak kepada Anda, bukan menentang Anda. Bahkan peristiwa-peristiwa yang sulit, bahkan hal-hal yang terjadi pada orang lain, memberikan hikmah—sebuah pelajaran, sebuah kesempatan, atau anugerah yang tak terduga. Tanpa rasa syukur, yang terlihat hanyalah segala sesuatu yang salah, dan pada akhirnya hanya itulah yang akan terus Anda temui.

Begitu perubahan itu terjadi, hal-hal yang patut disyukuri akan terungkap di mana-mana. Perdamaian di negaramu. Ekonomi yang berfungsi. Tahun-tahun kehidupan yang masih ada di depanmu. Keluarga yang utuh. Udara yang disediakan bumi tanpa meminta imbalan apa pun. Sinar matahari yang datang setiap pagi. Masing-masing dari ini nyata. Masing-masing dari hal ini, yang dirasakan daripada hanya dicatat, menghasilkan cinta. Dan cinta, yang diarahkan ke luar, akan menyebar.

Para penyintas bencana memahami berharganya kehidupan biasa.

Anda mungkin merasa bahwa tidak ada hal dalam hidup anda yang patut disyukuri, bahwa apa yang anda miliki hanyalah apa yang pantas anda dapatkan, tidak ada yang luar biasa. Tanyakan kepada seseorang yang telah selamat dari bencana, banjir, kebakaran, atau penyakit serius. Tanpa terkecuali, para penyintas muncul dengan hubungan yang sama sekali berbeda pada kehidupan biasa. Di tengah bencana, mereka akan memberikan apa pun untuk kembali ke kehidupan yang sebelumnya mereka anggap biasa saja. Bertahan hidup mengubah mereka. Mereka memahami, dalam lubuk hati mereka, bahwa kehidupan itu sendiri bukanlah hal yang biasa.

Sebagian besar dari kita hidup di dalam keajaiban itu tanpa menyadarinya. Kita tidak merasakan keberuntungan memiliki tubuh yang sehat sampai kita membayangkan kehilangan anggota tubuh. Banyak penyandang disabilitas mengatakan bahwa mereka akan memberikan semua yang mereka miliki untuk kesehatan yang dianggap biasa saja oleh orang-orang yang sehat.