Site icon NTD Indonesia

Memanjakan Sama Dengan Membunuh

Manja

Ilustrasi; manja

Ada sebuah pepatah Tiongkok kuno, “Memanjakan seseorang karena sayang akan membahayakan orang tersebut.” Ini tidak sulit untuk dipahami. Tetapi jika seseorang mengatakan, “Memanjakan seseorang sama dengan membunuhnya,” beberapa orang mungkin merasa ini terlalu ekstrem dan sulit diterima. Sebenarnya, pernyataan ini bisa jadi benar. Berikut ini adalah sebuah cerita yang ditulis didalam buku Yuewei Caotang Notes Vol.7 Nomor 24.

Dahulu ada dua orang bersaudara laki-laki, yang tua bernama Zhang Eryou dan yang lebih muda bernama Zhang Sanchen. Ketika Eryou meninggal, dia meninggalkan seorang anak. Sanchen merawat anak itu dan sangat mencintainya. Kemudian, Sanchen membeli tanah untuknya dan membantunya memulai sebuah rumah tangga. Untuk melakukan hal-hal tersebut, Sanchen hampir kehabisan uangnya.

Akan tetapi, karena memanjakan terlalu berlebihan ini membuat keponakannya menjadi sangat sombong, tidak mau bekerja, dan gemar berfoya-foya. Untuk melampiaskan nafsunya, dia berselingkuh dengan banyak wanita di berbagai tempat. Akhirnya dia mendapatkan penyakit aneh dan meninggal karenanya.

Peristiwa ini sangat memukul Sanchen, meskipun beberapa tetangga menghiburnya. Namun, ketika Sanchen sakit, dia koma dan mendapat penglihatan. Dia berkata kepada dirinya sendiri setelah siuman, “Ini sangat aneh. Abangku Eryou mau menuntut saya. Dia bilang saya telah membunuh putranya. Ini sangat tidak adil!”

Beberapa hari kemudian penyakit Sanchen mulai membaik. Pikirannya menjadi lebih jernih dan dia berkata kepada keluarganya, “Itu memang salahku. Keponakanku bukanlah seseorang yang tidak mempunyai masa depan. Tetapi saya hanya membantunya dalam kehidupan material dan tidak mendidiknya mandiri. Akibatnya, dia malas dan telah berhubungan dengan banyak wanita dan meninggal karena penyakit berbahaya. Kalau bukan aku yang membunuhnya, siapa lagi?” Sanchen sangat penuh dengan penyesalan dan dia meninggal tidak lama setelah itu.

Didalam buku Yuewei Caotang Notes juga tertulis: “Saya bertemu seseorang yang meminta saya menuliskan kata-kata pada makam ibu tirinya. Katanya, ‘Ibuku mempunyai dua orang anak dan ibu tiriku mempunyai satu orang anak. Ibu tiriku memperlakukan ketiganya dengan cara yang sama, tidak peduli apakah itu terkait dengan makanan, pakaian atau teguran atas kesalahan mereka.’ Ini bagus sekali!”

Sanchen adalah orang yang baik tetapi pelajaran yang dia dapat adalah sesuatu yang sangat penting. Marilah kita semua belajar dari masalah yang serius ini dan mendidik anak-anak kita dengan perhatian serta cara yang tepat. (visiontimes/th/ch)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI