Site icon NTD Indonesia

Menemukan Makna Hidup: Kebangkitan Seorang Milyarder

Kazuo Inamori

Kazuo Inamori. (Public Domain)

Kazuo Inamori, yang dikenal sebagai “Dewa Manajemen” di Jepang, menggunakan filosofi manajemennya yang unik untuk mengubah Japan Airlines dari kerugian menjadi keuntungan pada tahun 2011. Pada usia 65 tahun, ia didiagnosis menderita kanker perut dan dirawat di rumah sakit. Meskipun diagnosis tersebut merupakan sebuah pukulan telak, hal ini menandai awal dari kebangkitan miliarder tersebut terhadap makna hidup.

Melepaskan harta duniawi

Inamori juga mendirikan Kyocera dan KDDI, yang masuk dalam Fortune Global 500. Meskipun bisnisnya sukses dan kekayaannya melimpah, ia selalu dibingungkan oleh pertanyaan sederhana: “Apa arti hidup?”

Dua bulan setelah divonis kanker oleh rumah sakit, Inamori pergi ke Kuil Enpukuji di Kyoto. Ia mengundurkan diri dari semua jabatannya, meninggalkan urusan duniawi, dan menjadi biksu. Meski kekayaannya bisa membeli banyak kuil, ia tidak mendapat perlakuan khusus. Ia tinggal di tempat tinggal biksu yang sama, mengenakan pakaian yang sama, dan makan makanan yang sama seperti biksu lainnya. Meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya, ia tetap menjalankan pindapata (tradisi pengumpulan makanan dari rumah ke rumah dengan mangkuk yang dilakukan para Bhikku).

Suatu hari di penghujung musim gugur, saat cuaca berubah menjadi musim dingin, Inamori, dengan mengenakan sandal jerami, pergi dari rumah ke rumah. Jari-jari kakinya, yang terlihat melalui sandal jerami, mulai terluka, tetapi dia menahan rasa sakitnya. Menjelang senja, dia kelelahan dan memulai perjalanan beratnya kembali ke kuil.

Saat dia berjalan, bersamaan dengan daun-daun yang berguguran beterbangan seperti kupu-kupu dan menyatu dengan lapisan tebal daun-daun mati di pinggir jalan, dia hanya bisa menghela nafas melihat pemandangan fenomena ini di akhir musim gugur, merenungkan perubahan demi perubahan dalam kehidupan.

Tindakan kebaikan yang sederhana mengungkapkan makna hidup

Saat Inamori sedang merenungkan arti hidup, seorang wanita tua penyapu jalan di seberang jalan meletakkan sapunya dan berjalan langsung ke arahnya. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan koin 100 yen, dan menyerahkannya kepada Inamori. “Anda pasti sangat lapar. Ambil ini dan belilah roti untuk mengisi perutmu,” katanya.

Saat tangannya yang tua meletakkan koin di tangannya, Inamori merasa seperti disambar petir. Dia gemetar karena emosi, dan air mata mengalir di wajahnya. Dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Saat itu juga, dengan merasakan tindakan kebaikan yang sederhana ini, dia merasa tercerahkan. Dia memahami arti hidup yang sebenarnya dan telah mencapai alam kebahagiaan yang dia cari dengan susah payah sepanjang hidupnya.

Wanita tua itu, yang tampaknya tidak kaya, menunjukkan hati yang penuh belas kasih tanpa keraguan atau kesombongan. Sikap menyentuh wanita tersebut memungkinkan miliarder tersebut memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Segera setelah itu, dia meninggalkan kuil, kembali ke kehidupan sekuler dengan tujuan baru: menyebarkan pesan kebahagiaan dan kebaikan.

Di dunia ini, makna hidup tidak bisa diukur dari jumlah uang yang dimiliki. Yang penting adalah seberapa besar cinta dan kebaikan yang anda miliki. Membuat orang lain merasa dicintai dan menerima anugerah kebaikan orang lain adalah sebuah keberadaan yang berharga.

Kita hidup di dunia ini yang perlu menghangatkan orang lain dan dihangatkan oleh orang lain. Hanya ketika hati anda saling hangat, dunia dan kehidupan dapat tetap bermakna dan tidak putus asa. Jangan pernah menyerah pada diri sendiri, dan jangan pernah mengukur nilai diri anda, atau nilai orang lain, dengan uang. Yang penting adalah kebaikan dan kasih sayang yang terkandung dalam hati anda. (nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI