Site icon NTD Indonesia

Mengapa Aliran Sungai Berkelok-Kelok?

Seorang Master Zen membuka peta saat mengajar di kelas. dan bertanya: “Apa karakteristik sungai pada gambar ini?”

Murid menjawab: “Ini bukan garis lurus, tetapi kurva melengkung.”

Master Zen kemudian bertanya, “Mengapa demikian? Dengan kata lain, mengapa sungai tidak mengambil jalan lurus, tetapi malah memutar?”

Seketika ramailah opini para murid.

Ada yang mengatakan, sungai berjalan memutar, memperpanjang bentangan aliran sungai, dan karenanya sungai dapat memiliki lebih banyak lalu lintas. Ada yang berujar, agar ketika banjir datang, sungai tidak akan meluap.

Ada pendapat lain mengatakan, karena proses sungai yang memanjang, laju arus di setiap bagian sungai diredam, mengurangi dampak pada bantaran sungai, sekaligus berfungsi melindungi bantaran sungai.

Ini semua benar. Master Zen mengangguk dan berkata perlahan, “Tetapi menurut saya, alasan paling mendasar mengapa sungai tidak mengambil jalan lurus adalah: jalan berliku adalah kondisi alam yang normal, sedangkan berjalan lurus-lurus saja tidak sesuai dengan kondisi alam yang normal.”

Karena sungai sedang dalam proses bergerak maju, ia akan menghadapi berbagai kendala, beberapa di antaranya tidak dapat dilintasi. Oleh karena itu, diperlukan jalan berkelok, jalan memutar, justru dengan berkelok, ia terhindarkan dari selapis demi selapis rintangan dan akhirnya ia mencapai lautan yang jauh.”

Master Zen menambahkan: “Faktanya, hidup juga demikian. Ketika orang menghadapi gelombang terpaan dan frustasi, anggaplah kehidupan yang berliku sebagai sesuatu yang normal dan alami. Tidak kecewa ataupun pesimis, tidak berkeluh kesah, tidak stagnan, berjalan berkelok dianggap sebagai bentuk lain untuk melangkah maju, sebuah jalan alternatif, sehingga anda dapat mencapai lautan kehidupan nan jauh, ini bagaikan aliran sungai yang akhirnya mencapai laut luas.” (epochtimes/mel/kar)