Ada kebiasaan di Tiongkok bagi orangtua dan kaum lansia untuk memberikan angpao kepada anak, cucu dan keponakan mereka di Malam Tahun Baru Imlek. Ini adalah kisah bagaimana anak perempuan saya mengatur uang angpaonya.
Saya memiliki dua anak perempuan. Ketika putri sulung duduk di kelas lima SD, kami menghabiskan Malam Tahun Baru di tempat kakek-nenek mereka. Anak-anak sangat senang dengan uang angpao yang mereka terima dari kakek nenek mereka dan paman-bibinya.
Setelah pulang ke rumah, saya meminta anak-anak untuk menyerahkan angpao mereka. Putri sulung bertanya: “Mengapa ibu mau mengambil angpao saya?” Saya bilang ke mereka: “Angpao itu akan digunakan untuk membayar les.”
Putri sulung berkata bahwa dia ingin menyimpan angpaonya, dan dia tidak akan meminta saya untuk membayar lesnya nanti. Dia mengambil beberapa les seusai sekolah, termasuk piano dan taekwondo. Sebenarnya, jumlah angpao tidak akan cukup untuk membayar semua kursus itu. Tapi saya pikir itu adalah kesempatan untuk melatihnya mengatur keuangan, jadi kami membuat kesepakatan. Saya tidak akan mengambil kembali angpao yang diterima kedua putri saya, dan mereka membayar sendiri kelas bakat mereka.
Setengah tahun kemudian, saya memperkirakan uang itu akan habis, dan putri sulung pasti akan meminta bantuan saya. Tapi dia tidak melakukannya. Ketika putri sulung sedang les, saya bertanya kepada putri bungsu apakah ia punya uang untuk membayar kelas bakat. Dia mengatakan bahwa karena dia sendiri tidak berniat untuk ikut les apapun, dan kakaknya meminjam angpao-nya untuk membayar les. Dia menunjukkan kepada saya “buku bank” yang diberikan kakaknya, yang mencatat berapa hutangnya, dan uang itu akan dikembalikan tahun depan ketika mereka menerima angpao lagi.
Saya tertawa terbahak-bahak melihat “buku bank”. Saya berkata: “Jika dia meminjam di bank, dia harus membayar bunga.” “Ya, benar,” kata putri bungsu. Ada kupon untuk melipat pakaian, melakukan pekerjaan rumah, dan “tidak boleh marah”. Sang adik dapat menggunakan kupon tersebut untuk meminta saudara perempuannya melakukan tugas itu kapan saja. Kelihatannya ini menjadi kesempatan bagi kedua bocah tersebut untuk belajar mengelola uang mereka.
Tahun berikutnya, saya menambah jumlah angpao sehingga putri sulung tidak perlu meminjam uang untuk membayar kelas bakatnya. Selain itu, mereka mendapat bonus uang saat membantu pekerjaan rumah, sehingga mereka belajar cara mengelola uang dengan lebih baik. Putri sulung menghasilkan uang dengan membantu lebih banyak pekerjaan rumah dan membatalkan kelas bakat yang dia rasa tidak menguntungkannya. Setelah setahun, tabungannya meningkat pesat.
Ketika beranjak dewasa, ia lulus ujian menjadi pegawai pemerintah. Suatu hari, putri sulung memberi tahu saya bahwa dia membeli rumah di distrik utara tempat dia bekerja. Saat ini, cukup sulit bagi seorang anak muda untuk membeli rumah di distrik utara tanpa bantuan finansial dari orangtua. Banyak orang kagum akan kemandiriannya. Saya memberi tahu mereka bahwa dia bisa “mendapat ikan” karena saya telah memberinya “pancing” ketika dia masih kecil. (visiontimes/eva)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

