Interaksi pertamaku dengan sikap kesatria berawal dari masa kanak-kanakku, ketika ayahku dengan lembut menyeka air mataku dengan saputangan suteranya. Saya merasa terhormat bisa menggunakan kain indah yang selalu dibawa ayah saya di sakunya.
Rasa dukungan dan perlindungan yang tiada tara yang saya rasakan ketika saya melihat ayah saya membawakan benda berat untuk ibu saya atau ketika kakak sepupu saya berjalan di pinggir jalan yang paling dekat dengan lalu lintas agar saya tetap aman, menjadi acuan bagi saya untuk melihat bagaimana kondisi telah berubah hari ini.
Jarang sekali saat ini kita melihat remaja putra menunjukkan sikap ksatria yang sederhana, namun mereka tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Meningkatnya kecenderungan terhadap kesetaraan jender dan persepsi kesatria sebagai hal yang kuno mungkin menghalangi pria masa kini untuk terhubung kembali dengan sifat baik dan protektif mereka.
Namun sikap kesatria memiliki nilai abadi dan daya tarik abadi. Mungkin ada baiknya meninjau kembali perannya dalam sejarah dan mencari cara untuk menghidupkannya kembali.
Arti dari Sikap Ksatria
Kesatria berasal dari istilah Perancis Kuno “chevalerie”, yang mengacu pada pria yang menunggang kuda dan perbuatan ksatria mereka. Ini memberikan kode etik bagi prajurit berkuda berdasarkan kebajikan abadi seperti keberanian, kehormatan, kesopanan, keadilan dan kemauan untuk melindungi orang lain.
Meskipun di zaman modern sikap kesatria sering kali direduksi menjadi cara laki-laki memperlakukan wanita, arti asli dari kata tersebut mencakup pandangan yang lebih luas tentang karakter laki-laki. Hal ini didasarkan pada keyakinan dan kesetiaan seorang pria yang menggunakan kekuatannya dalam pelayanan kepada Tuhan. Inilah sebabnya mengapa para ksatria secara tradisional digambarkan sebagai pria pemberani dan saleh yang mengabdi pada negaranya dan melindungi yang lemah, termasuk orang tua, anak-anak, dan wanita.
Perlakuan Seorang Pria Terhadap Seorang Wanita
Sikap kesatria yang asli memerintahkan laki-laki untuk menghormati wanita. Wanita dihormati karena kebajikan, kesucian, dan kesopanan mereka. Mereka dilindungi karena mereka adalah sumber asal kehidupan, pelestari budaya dan kepala urusan rumah tangga, bukan karena mereka dicari sebagai objek birahi.
Ketika seorang pria dan seorang wanita bersumpah untuk dipersatukan dalam pernikahan, kelembutan dan keanggunan seorang wanita akan melengkapi kekuatan dan keberanian pria. Dukungannya yang tanpa syarat dan janjinya untuk menunggu suaminya selama mengabdi kepada negara mengilhami seorang kesatria untuk memenuhi tugasnya dan menjalani kehidupan terhormat yang layak mendapat berkah surga.
Meskipun masa kesatria dan pejuang sudah lama berlalu, para pria yang lebih tua masih mengingat, dan bahkan mempraktikkan rasa hormat yang diperlukan dalam sikap kesatria. Jika dilakukan dengan benar, wanita tidak akan merasa tersinggung atau bingung, dan praktik ini dapat membantu mereka menghidupkan kembali sifat lembut dan feminin mereka.
“Lebih dari sekedar kode etik dalam perang dan cinta, Sikap Kesatria adalah sistem moral, yang mengatur seluruh kehidupan mulia” -Barbara Tuchman
Cara untuk Bersikap Ksatria
Pria yang bersikap kesatria memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, perhatian, dan perlindungan dengan cara yang mudah diterapkan dalam banyak situasi:
Menghormati
- Mendengarkan dengan perhatian penuh: ini menunjukkan bahwa anda benar-benar peduli.
- Bicaralah dengan tulus – ucapkan apa yang anda maksudkan, dan bersungguh-sungguhlah dengan apa yang anda katakan.
- Selalu tepat waktu, dan kalau benar-benar ada kejadian yang tidak terduga mengakibatkan anda akan terlambat, segera beri tahu pihak lain mengenai keterlambatan tersebut.
- Perkenalkan teman anda sebelum diri anda sendiri.
Tenggang Rasa
- Tahan pintu untuk orang lain.
- Serahkan tempat duduk anda kepada orang lain, terutama orang lanjut usia dan wanita hamil.
- Tawarkan untuk membawa barang berat bagi siapa saja yang tidak sehat secara fisik seperti anda.
- Bantu istri/kekasih Anda memakai dan melepas mantel/jaket mereka, dan tarikkan kursi untuknya sebelum anda duduk.
Melindungi
- Saat berjalan bersama teman, berjalanlah di sisi trotoar yang dekat dengan jalan.
- Bantulah wanita, anak-anak dan orang lanjut usia keluar dari mobil atau angkutan umum.
- Tawarkan jaket anda saat cuaca dingin, dan berbagi payung anda saat hujan.
- Bawalah sapu tangan yang bersih dan bersiaplah untuk meminjamkannya. Seperti yang dikatakan Robert De Niro dalam film The Intern, “Seorang pria membawa sapu tangan, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi jika seorang wanita membutuhkannya.”
Menghidupkan Kembali Sikap Kesatria Saat Ini
Sikap kesatria hanyalah manifestasi dari dunia batin seorang pria sejati. Setiap sikap kesatria merupakan ekspresi rasa hormat, kebenaran, pengendalian diri dan tenggang rasa, serta keinginan untuk menempatkan kekuatan dan kemampuan seseorang untuk melayani orang lain. Sikap yang sopan tidak ada artinya jika tidak berakar pada kondisi luhur tersebut.
Bagi mereka yang masih menganggap bahwa sikap kesatria sudah ketinggalan zaman, pikirkan putra seperti apa yang ingin anda besarkan, atau suami seperti apa yang anda harapkan untuk putri anda. Bukankah sifat-sifat yang terdapat dalam sikap kesatria akan menjadi standar terbaik?
Jalan untuk menjadi seorang pria sejati dimulai dengan keinginan sederhana dan tak ternilai untuk menjadi lebih baik. Dengan tekad sebagai landasan dan tradisi sebagai panduan, anda akan mulai mengubah dunia, dengan satu sikap kesatria secara bertahap. (visiontimes/Carolina Avendano/Bud)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI

