Dikisahkan dalam Kitab Suci, Tuhan akan memusnahkan Kota Sodom yang penuh dosa. Namun karena di dalam kota tersebut tinggal keluarga Nabi Luth, maka Tuhan mengutus malaikatnya untuk membawa Nabi Luth dan keluarganya keluar dari kota dengan pesan: “Cepatlah melarikan diri dan jangan sekali-kali menoleh ke belakang!” Tak disangka istri Nabi Luth yang berjalan paling akhir, merasa penasaran dan menoleh ke belakang, maka segera berubah menjadi patung tanah.
Dalam perjalanan hidup manusia, dapatkah seseorang menoleh ke belakang (dengan kata lain mengulang kembali jalan yang telah ditempuh)? Perlukah kita menoleh ke belakang?
Beberapa waktu yang lalu di Taiwan, baru saja menyelesaikan pemilihan lima daerah. Salah satu calon yang kalah meninggalkan partainya. Ada orang yang bertanya, “Jika Anda terpilih, akankah kembali ke partai semula?” Calon tersebut dengan cerdik menjawab, “Pepatah mengatakan, kuda baik tidak akan mengulangi makan rumput dari petak ladang yang sama.”
Ada juga kisah mengenai Presiden AS Abraham Lincoln, ketika awal perang antara Utara dan Selatan. Saat itu pihak Utara beberapa kali terpukul mundur, banyak jenderal menegur Presiden Lincoln yang telah memutuskan perang karena menderita kekalahan. Mereka berkata, “Sebenarnya kebenaran berpihak pada siapa?” Lincoln dengan santai berkata, “Kita jangan bertanya sebenarnya kebenaran berdiri di pihak siapa, cukup bertanya apakah kita berdiri di pihak kebenaran.”
Saya pernah sangat mengagumi kebijakan tutur kata tersebut. Namun setelah dikenang kembali, rasanya hal tersebut bukan sekedar kebijakan seseorang, melainkan juga pandangan dan pikiran lurus seseorang.
Saya juga sangat menyukai kata-kata yang selalu dituliskan salah seorang guru saya pada bagian bawah email, “Belajar apapun jangan merasa terlambat, mengerjakan apapun hendaknya dilakukan sekuat tenaga.” Ketika kita melakukan kesalahan, asalkan mau mengubah dan memulainya lagi serta melakukan dengan segenap tenaga, maka selamanya tidak akan terlalu terlambat.
Teringat sebuah cerita dalam agama Buddha. Ada seorang yang mengikuti seorang Guru Besar untuk menjadi biksu selama bertahun-tahun. Kemudian saat ia pergi berkelana, ia tergoda dunia fana dan telah berbuat banyak sekali dosa besar. Dia kembali kehadapan sang Guru dan tak habis-habisnya menyesali perbuatannya. Setelah mendengar, sang Guru berkata dengan penuh kemarahan, “Kalau ingin Sang Buddha memaafkanmu, tunggulah meja persembahan tumbuh bunga!” Orang tersebut melihat Gurunya tidak mau memaafkannya. Karena merasa sudah tak ada harapan lagi, maka dengan lesu ia kembali ke masyarakat manusia biasa. Tak disangka pada hari kedua, sang Guru melihat meja persembahan benar-benar tumbuh bunga!
Cerita ini menunjukkan bahwa Dewa dan Buddha dipenuhi welas asih yang tiada tara. Orang yang telah berbuat jahat asalkan mau menoleh ke belakang (menyesal), maka jalan kembali ke surga selalu terbuka! Saya sangat berharap orang yang salah jalan, cepat-cepat membersihkan kesalahan lampau, menempuh jalan pulang yang benar. (epochtimes)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

