Budi Pekerti

Menjaga Akhlak dan Mengumpulkan Amal

Tukang perahu
Tukang perahu. @Canva Pro

Banyak orang berpikir menjaga akhlak dan mengumpulkan amal tidak berguna, sedangkan harta benda dan kekayaan yang digenggam di tangan adalah hal yang nyata! Sebenarnya, mengumpulkan harta tapi tidak mengumpulkan kebajikan, maka keturunannya akan segera menghabiskan segala hartanya. Dibawah ini adalah dua kejadian dari masa lalu yang bisa menjadi cerminan bagi manusia zaman sekarang:

Chow Shenzhang berasal dari Kabupaten Danyang, berasal dari keluarga petani. Pada masa Qianlong, panen gandum memperoleh hasil yang sangat bagus, gandumnya sangat subur, dan dia berusaha mengumpulkan sedikit uang, semua digunakan untuk membeli gandum, dan berhasil mengumpulkan total hampir 48 ton gandum.

Pada tahun berikutnya, ketika sudah mendekati panen, tiba-tiba ada serangan hama wereng ganas sehingga menyebabkan gagal panen, harga gandum sangat mahal, Chow sengaja menutup pintu rumah tidak mau menjual gandumnya. Ketika musim dingin, kanal dangkal, sungai tidak bisa dilayari oleh para pedagang, bibit gandum juga sudah mulai habis untuk dimakan, pada saat ini, hanya gudang Chow yang masih memiliki gandum.

Jadi warga terdekat datang bermaksud membeli gandumnya, pada awalnya Chow masih tidak ingin menjual, ketika semua orang memohon kepadanya, alih-alih membantu mereka yang kelaparan, ia malah membuat peraturan 1 hektar tanah diganti dengan 10 kg gandum, dan gandum tersebut juga diam-diam dicampur dengan sekam. Chow menggunakan stok gandumnya untuk mendapatkan sekoper penuh akte sawah para petani. Total keseluruhan sawahnya sekarang 5.000 hektar.

Sekarang tanahnya sudah ribuan hektar, uang menumpuk bagaikan gunung. Tapi Chow Shenzhang belum juga memiliki anak. Akhirnya ketika dia berusia 68 tahun dia mempunyai seorang putra dan putranya diberi nama Chow 68.

Ketika Chow 68 belum berusia 10 tahun, Chow Shenzhang telah sakit lumpuh, hanya bisa terbaring di tempat tidur. Anaknya ini malas bekerja, setiap kali keluar rumah dia akan membawa banyak uang, dia akan menghabiskan uang tersebut baru kemudian kembali ke rumah. Chow 68 juga suka berjudi, dan selalu kalah, sehingga tanah dan hartanya di jual satu persatu sampai ludes. Bahkan ia tidak bisa membelikan obat untuk Ayahnya yang sekarat.

Ketika Chow 68 meninggal, keluarga mereka sudah hidup melarat, tidak ada rumah dan tidak ada sepetak sawahpun. Kepala desa mengatakan: “ketika Ayah saya bertugas di Daerah Danyang, anak Chow 68 sudah menjadi fakir miskin, dan menjadi penjaga malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sejak saat itu di daerah Danyang jika ada anak boros dan menghabiskan seluruh harta orang tuanya mereka akan menjulukinya sebagai Chow 68..”

Ada lagi sebuah kisah pada zaman Kaisar Kangxi, karena malapetaka kekeringan, di kaki gunung Kunshan, ada sepasang suami istri sedang membuat irigasi untuk mengairi sawahnya, tiba-tiba terjadi hujan badai, suara guntur sangat keras, suaminya disambar petir dan mati. Semua orang disekitarnya tidak mengerti, biasanya pria tersebut adalah orang yang baik, bagaimana dapat terjadi hal seperti itu? Istrinya tiba-tiba menangis dan mengeluh: “Pasti hanya karena 18 kilogram daging!” Orang-orang merasa heran mendengar perkataannya, berebut bertanya kepadanya.

Istrinya berkata: “Musim dingin yang lalu dia pergi ke kota untuk berdagang, ketika merapatkan perahu ke sungai, tiba-tiba menemukan sepotong daging di sebuah perahu kosong, mengira daging itu tidak bertuan, dia membawa pulang daging tersebut, setelah menimbang, daging itu beratnya 18 kg. Saya pikir ia membelinya di pasar. Sebenarnya, daging ini adalah milik seorang kaya yang tinggal di tepi sungai, pembantu orang kaya ini sedang mencuci daging di perahu kosong, mendengar anak majikannya menangis, sementara meninggalkan daging tersebut, dan begitu dia Kembali, dia menemukan dagingnya telah hilang.

Setelah pulang ke rumah, istri majikannya sangat marah dan memukulnya, tanpa sengaja memukulnya sampai mati. Majikannya menyalahkan istrinya karena hanya hal kecil telah membunuh pembantunya, dan karena kekalutan, istrinya lalu gantung diri. Suami itu mendengar kabar tentang orang bunuh diri tersebut merasa sangat kaget, si suami lalu mengaku ke saya bahwa dialah yang mengambil daging tersebut. Namun semuanya sudah terlambat.”

Akibat ketamakan memperoleh barang yang tidak halal, merasa diri memperoleh manfaat sehingga merasa senang, sebenarnya hanya akan membawa bencana untuk diri sendiri dan orang lain. Mata Tuhan ada dimana-mana, jangan berpikir tidak ada yang melihat lalu diam-diam berbuat hal tercela, alangkah tidak berharganya hanya memperoleh sedikit keuntungan, namun menyebabkan bencana besar di masa depan.(minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI