Pada akhir Dinasti Yuan, Wenliang Yu, teman baik dari penasihat militer besar Liu Bowen, dikenal sebagai seorang yang berbudi luhur dan berbakat sejak dari usia muda. Dia terkenal karena kebajikannya seperti sejati, tulus dan melindungi reputasi orang lain yang membuat dia menjadi seorang pria sejati.
Wenliang dulunya adalah seorang guru privat dua anak laki-laki dari tuan tanah yang kaya. Berkat dedikasi kerja keras dan bimbingannya yang bijak membuat kedua anak ini meningkat dengan cepat dalam pencapaian akademik maupun karakter. Sehingga Wenliang sangat dihormati oleh keluarga tuan tanah tersebut.
Waktu berlalu dan setahun kemudian, Wenliang terbangun oleh ketukan di pintu kamarnya pada suatu malam. Setelah mendengarkan dengan seksama, dia bertanya: “Siapa disana?” Tak ada yang menjawab tetapi ketukan tetap berlanjut.
Wenliang agak bingung. Dia cepat berpakaian lengkap dan dengan hati-hati berjalan ke jendela dan mengintip keluar sebelum membuka pintu. Terkejut, dia melihat seorang wanita muda yang sangat anggun sedang mengetuk pintu. Wanita itu terlihat sangat cantik dibawah sinar rembulan seperti bidadari, namun wajahnya kurang terlihat jelas. Wenliang bertanya dengan suara keras:
“Tolong beritahu saya ada apa? Atau saya akan memanggil yang lain”
“Kakak, Tolong jangan berbuat begitu! Saya bukan orang jahat; saya adalah puteri dari tuan tanah, kakak tertua dari dua adikkku yang belajar pada Kakak. Tolong bukalah pintunya!”
Wenliang bertanya dengan lembut: “Oh, tuan putri, maafkan saya. Hanya saja, mengapa kamu datang kesini larut malam?” Wanita muda itu menjawab malu-malu:
“Kakak, jujur, Saya sangat kagum oleh pengetahuan dan paras tampanmu. Sehingga menyimpan rasa ini…Namun saya tidak mendapat kesempatan untuk mengutarakan perasaanku…”
Wenliang memotong sebelum wanita muda itu selesai bicara:
“Nona, maafkan saya, tetapi seorang lelaki dan perempuan tidak boleh berada dikamar yang sama di malam hari! Tolong jaga kelakuanmu dan pulanglah!”
Wanita itu tidak menyerah dan mengetuk lebih keras lagi. Wenliang menjadi sangat marah dan berteriak: “Betapa beraninya kamu! Kalau kamu tidak mau pergi, saya akan memanggil ayahmu!” Ketukan di pintu berhenti. Ketika Wenliang mendekat ke jendela, dia mendapati wanita muda itu telah pergi.
Setelah itu dia agak lega sedikit namun dia tidak bisa tidur. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan tempat itu agar tidak terjadi masalah.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali dia segera berpamitan kepada tuan tanah. Untuk melindungi reputasi wanita muda tersebut, dia beralasan telah terjadi sesuatu yang sangat penting di keluarganya dan dia harus pulang secepat mungkin. Dia berterima kasih kepada tuan tanah tersebut atas kebaikannya. Sang tuan tanah akhirnya tak punya pilihan selain melepasnya pergi.
Setelah itu dia bertemu sahabat baiknya Liu Bowen, yang sangat pintar dalam meramal nasib. Bowen bertanya dengan heran kepadanya:
“Kebajikan besar apa yang telah kamu lakukan? Kamu telah merubah takdirmu sekarang. Selamat! Kamu akan mendapatkan kemashuran dan keberuntungan yang besar tahun depan. Sungguh suatu berkah!”
Wenliang masih tidak mau memberitahukan yang terjadi, tetapi berkata sambil tersenyum:
“Saya tidak melakukan hal besar apapun dan juga tidak berani bermimpi akan lulus dalam ujian kekaisaran. Kamu pasti bercanda ya!”
Liu Bowen tertawa dan memuji kebajikan Wenliang yang besar. Tahun berikutnya, istana mengadakan ujian kekaisaran di seluruh negeri. Wenliang lulus di peringkat teratas. Sejak saat itu, dia telah merubah nasib buruknya yang hanya seorang guru menjadi seorang calon pejabat tinggi pemerintahan. Tak lama kemudian, dia diangkat dan menjadi pejabat sangat terkenal karena kebajikan dan kejujurannya.
Keturunannya juga memperoleh keberuntungan karena kebajikan besarnya. Keberhasilannya dapat terwujud karena keluhuran hatinya.
Semua ini dapat diringkas dalam sebuah sajak:
Menjaga keluhuran dan melindungi reputasi orang lain, masa depan cemerlang akan menanti.
Berkah melimpah dikarenakan kebajikan besar dari perbuatan lurus.
Manusia hidup dalam dunia yang materialistis, tolong jaga budi pekerti.
Tuhan memberkati manusia yang memiliki kebajikan besar dengan masa depan akan cemerlang.

