Budi Pekerti

Mungkinkah Anda Meninggal Karena Patah Hati?

Patah hati
Patah hati. @Pexels

Kesedihan yang intens dapat menyebabkan tekanan berat pada jantung, yang dapat menyebabkan kardiomiopati yang disebabkan oleh stres, juga dikenal sebagai “sindrom patah hati.” Jadi ya, Anda bisa mati karena patah hati jika Anda merasa stres. Patah hati bukan sekedar karena kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan siapa pun yang sangat Anda cintai, misalnya, anak.

Ada banyak contoh sindrom patah hati yang menyebabkan kematian individu. Harold Knapke dan Ruth Knapke menikah selama 65 tahun dan membesarkan enam anak bersama. Di masa tuanya, Harold menderita demensia dan masalah jantung dan tertidur sepanjang waktu. Lalu, istrinya jatuh sakit dan meninggal. Setelah anak-anaknya memberitahunya tentang hal ini, Harold meninggal keesokan harinya. Seolah-olah dia hidup untuk istrinya, dan ketika dia melihat istrinya tidak berhasil, dia melepaskan keinginannya sendiri untuk hidup.

Ada cerita serupa lainnya. Menurut studi yang dilakukan Universitas Harvard dan Universitas Yamanashi di Tokyo, para peneliti menemukan ada kenaikan 41 persen kematian selama 6 bulan pertama setelah salah satu pasangan meninggal. Studi ini didasarkan pada data yang dikumpulkan dari 2,2 juta orang dan menemukan bahwa usia benar-benar tidak berlaku. Patah hati berlaku untuk yang tua dan muda.

Penderitaan pria berbeda dari wanita yang diakibatkan sindrom ini. Ini karena wanita secara naluri memelihara rumah dan menjaga hubungan keluarga. Saat sang istri meninggal, para pria tiba-tiba kebingungan. Mereka lebih menderita jika tidak tahu cara memasak. Mereka menjadi kesepian dan terpisah dari lingkungan sekitar. Wanita lebih terpengaruh dengan kematian anak. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2013 menemukan bahwa perempuan mengalami kenaikan 133 persen kematian selama dua tahun pertama setelah ditinggal mati anaknya.

Mirip dengan serangan jantung, gejala dan hasil tes menunjukkan perubahan drastis pada ritme dan zat dalam darah. Perbedaannya, pada sindrom patah hati, tidak ada arteri yang tersumbat. Apa yang terjadi adalah bagian jantung (ruang jantung kiri bawah) membesar sementara, dan darah tidak terpompa secara memadai yang menyebabkan gagal otot jantung jangka pendek.

Tidak seperti serangan jantung yang bisa berakibat fatal, sindrom patah hati tidak separah itu, dan biasanya dapat diobati sepenuhnya dalam beberapa minggu setelah dirawat di rumah sakit.

Karena manusia adalah makhluk sosial, dia berusaha untuk mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang dia cintai. Walaupun kelihatannya klise, dia ingin mencintai dan dicintai. Ketika semakin banyak cinta, semakin bahagia. Tetapi setiap orang setidaknya menginginkan seseorang untuk merawat mereka. Hubungan primer ini dalam dan bermakna, dan ketika ada kehilangan yang mendadak, individu yang terpengaruh tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan gagal secara mental. Beban mental dan kebingungan yang diakibatkan kehilangan ini memperburuk hormon stres dalam tubuh sedemikian rupa sehingga jantung tidak dapat mengatasinya dan akhirnya gagal.

Hal utama yang dapat Anda lakukan untuk menghindari situasi tersebut adalah dengan berolahraga dan menjaga kesehatan jantung. Berolahraga secara teratur dan intens juga memungkinkan penumpukan hormon stres dapat dikendalikan. Ketika stres dapat dikendalikan dan jantung sehat, hal berikutnya yang harus dijaga adalah sikap. Sikap berasal dari sistem kepercayaan.

Memupuk ketahanan mental dan keyakinan bahwa yang telah meninggal berada di dunia yang lebih baik dan bebas dari penderitaan akan membantu mereka yang berduka untuk mengatasi situasi lebih cepat. Jika Anda berada dalam situasi sulit setelah kematian orang yang dicintai, cobalah hubungi keluarga dan teman dekat. Kepedulian mereka akan membantu Anda mengatasi situasi sulit hingga Anda mampu menjaga diri sendiri. Ingat, waktu menyembuhkan. Anda harus memberinya waktu yang tepat. (eva/visiontimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI