Budi Pekerti

Nasib Berubah Karena Keputusan Anda

Pada masa Kaisar Guanxu dari Dinasti Qing, ada seorang pria dari Provinsi Jiangsu yang bekerja sebagai kolektor utang di sebuah perusahaan perdagangan di wilayah Shanghai. Kejujurannya membuatnya menjadi karyawan yang dapat dipercaya di mata bosnya, yang memintanya untuk menagih piutang pada hari Festival Perahu Naga.

Dari pagi sampai sore, pria itu berhasil melaksanakan tugasnya. Karena lelah, dia berhenti untuk minum sebentar di rumah teh di Distrik Huangpu, sebelum bergegas kembali ke perusahaannya. Ketika dia sampai kantor, dia terkejut menemukan bahwa dompet kulitnya hilang. Di mana dia mungkin menjatuhkannya? Bosnya menuduhnya mencuri uang itu dan mengancam akan memanggil polisi. Tidak memiliki penjelasan yang meyakinkan, pria itu menangis.

Ada seorang pria lain yang telah bekerja di daerah itu yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halamannya di sisi lain Sungai Huangpu. Dalam perjalanan, dia berhenti di rumah teh yang sama sambil menunggu feri. Menemukan dompet kulit di atas meja, dia membukanya dan terkejut menemukan begitu banyak uang di dalamnya.

“Wow, keberuntungan besar! Uang sebanyak ini akan memungkinkan saya hidup dengan cukup nyaman selama sisa hidup saya”, pikirnya. Tetapi pikiran lain mengikuti: “Tunggu! Sang pemilik dapat kehilangan reputasinya atau bahkan nyawanya karena kehilangan uang ini. Hati nurani saya tidak akan meninggalkan saya dalam damai … Baik, kaya atau miskin, semuanya sudah ditakdirkan. Saya tidak bisa mengambil barang-barang yang bukan milik saya. Saya akan menunggu di sini sampai pemiliknya kembali”.

Pria itu menunggu hingga sore hari ketika dia tiba-tiba melihat dua pria masuk dengan tergesa-gesa, diikuti oleh orang ketiga, yang tampak pucat dan cemas. Dia yakin bahwa mereka adalah pemilik dompet.

“Kehilangan dompetmu? Saya sudah lama menunggu anda di sini”, katanya kepada mereka sambil tersenyum. Kolektor menghela nafas lega, dan berkata: “Jika bukan karena kamu, aku akan gantung diri malam ini!” Ia mencoba menawarkan uang kepada pria itu sebagai hadiah. Namun pria itu dengan sungguh-sungguh menolak untuk mengambil satu sen pun. Kolektor itu berpikir sejenak dan berkata, “Aku akan mentraktirmu makan malam besok dan aku akan menunggumu disini”.

Kolektor itu senang melihat pria itu muncul di datang lagi pada hari berikutnya. Dia berdiri untuk mengusulkan bersulang untuk menghormatinya, ketika pria itu berkata: “Terima kasih, kejadian ini menyelamatkan hidupku. Saya berencana untuk naik feri yang akan berangkat sore hari. Karena menunggu Anda datang di rumah teh hingga malam, saya menundanya ke keberangkatan berikutnya. Pagi ini saya mendengar bahwa feri yang seharusnya saya tumpangi telah terbalik karena ombak. Semua 23 orang di atas kapal tewas!” (visiontimes/bud/ch)