Alkisah di sebuah desa, hiduplah seorang lintah darat yang sangat kejam. Demi menumpuk kekayaannya sendiri, ia meminjamkan uangnya ke penduduk desa, dan menagih bunga yang sangat tinggi untuk setiap pinjamannya. Karena penduduk desa di sana sangat miskin, akhirnya mereka terpaksa meminjam uang dari lintah darat tersebut.
Setiap hari, ada saja ulah si lintah darat ini. Saat menagih bunga pinjaman, ia akan menggunakan kekerasan. Jika si peminjam tak bisa mengembalikannya, maka ia akan mengambil barang apa saja yang berharga di rumah si peminjam itu. Jika tak ada barang berharga yang bisa dijual, maka ia akan memukulnya sampai tak sadarkan diri.
Tindakan kejam ini sudah diketahui semua penduduk desa, sehingga mereka sangat takut pada lintah darat tersebut.
Suatu hari, ada seorang Kakek tua yang miskin hendak melintasi desa. Si lintah darat timbul pikiran picik, dan menghadang jalan si Kakek tua itu. Ia meminta uang lewat kepada si Kakek.
“Maaf nak, aku tak punya uang sepeserpun,” kata si Kakek tua.
Si lintah darat itu pun marah dan segera menghujani si Kakek dengan pukulannya. Untuk menyelamatkan diri, si Kakek kemudian mengarang sebuah cerita dan berkata: “Nak, aku tak punya uang. Satu-satunya yang ku punya adalah bambu ajaib ini.”
“Bambu ajaib, apa maksudmu?” tanya si lintah darat pada si Kakek.
Kakek Pun menjelaskan bahwa ia membawa bambu ajaib yang daunnya bisa membuat si pemilik tak terlihat. Caranya sangat mudah, cukup memetik sehelai daun bambu dan menempelkannya di dahi.
Si lintah darat pun dengan wajah yang berseri-seri dan tanpa ragu langsung merampas bambu yang dibawa sang Kakek pulang ke rumahnya. Setiba di rumah, ia memetik selembar daun bambu tersebut dan menempelkan di dahinya. Ia pun lalu bertanya pada istrinya untuk menguji kesaktian daun bambu tersebut.
“Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?” kata si lintah darat.
“Tentu saja aku bisa melihatmu.” jawab istri si lintah darat.
Merasa tak puas dan penasaran, ia memetik selembar daun bambu lagi, menempelkan ke dahinya dan kembali bertanya pada istrinya.
“Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?”
“Apa sih yang kamu lakukan? tentu saja aku bisa melihatmu.” jawab istri lintah darat dengan marah.
Masih penasaran, si lintah darat memetik daun bambu berkali-kali, menempelkan ke dahinya, hingga menyisakan daun bambu yang terakhir. Kemudian, menempelkan daun bambu yang terakhir ke dahinya. Dan ia kembali bertanya pada istrinya.
“Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?”
Istrinya yang sudah lelah melihat perbuatan bodoh suaminya itu, akhirnya menjawab: “Aku tidak bisa melihatmu. Di mana kamu berada suamiku?”
Kegirangan melihat respon istrinya itu, ia pun bergegas pergi ke kota. Kemudian menghampiri semua toko dan merampas uang serta makanan pemilik toko di sana. Ia pun kagum pada dirinya, karena tak seorangpun menegur atau melihatnya. Tanpa ia sadari, ternyata penduduk di sana melihatnya, tapi karena takut kepadanya, sehingga mengabaikan semua tingkah lakunya.
Suatu hari, seorang pangeran lewat di desa tempatnya si lintah darat tinggal. Mendengar pangeran akan lewat, si lintah darat yang haus kekayaan itu timbul niat jahat. Dia merasa sekarang sudah bisa tak terlihat, maka dia bisa dengan mudah mengambil semua harta kekayaan pangeran.
Ia pun bergegas berangkat untuk menjalankan aksinya. Di tempat yang sepi, ia mengendap-endap menjalankan aksinya dan menghadang jalan si pangeran. Belum sempat mengambil apa-apa, ia pun langsung disergap para prajurit pengawal pangeran.
“Beraninya kamu merampok pangeran. Kamu akan dihukum mati karena ulahmu itu,” hardik si pangeran.
Akhirnya, para pengawal pangeran langsung membawa si lintah darat tersebut ke ibukota untuk diadili.
Di tengah jalan, si lintah darat itu mengenali sosok kakek tua yang pernah dirampoknya itu. Si Kakek tua tengah asyik bercerita pada kawannya, bahwa ia telah menipu seorang lintah darat yang kejam dengan pohon bambu yang ditanam di pekarangan rumahnya. (inspirasibambu/an)
Pepatah kuno mengatakan, mereka yang serakah dan bodoh mudah tergiur oleh harta, dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta tersebut, tetapi mereka tak akan pernah berhasil.
Untuk itu, bersyukurlah atas segala benda yang menjadi hakmu dan jangan menghalalkan segala cara untuk memuaskan diri dengan mengambil harta yang bukan milikimu.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI

