Dahulu kala, hiduplah seorang pria bernama Fang Chang. Dia berkecimpung dalam bisnis kapas dan bekerja keras untuk menabung sedikit uang. Tak lama dia sakit, lalu meninggal, meninggalkan istri dan anak perempuan satu-satunya. Oleh penduduk setempat, istrinya sering dipanggil Nenek Fang.
Beberapa tahun kemudian, anak perempuan Nenek Fang memasuki usia yang pas untuk menikah, hal ini membuat para mak comblang lokal cukup sibuk. Namun nenek Fang khawatir mereka akan menjodohkan putrinya dengan orang yang salah, dan hal tersebut akan menyebabkan banyak penderitaan di masa depan. Jadi dia merencanakan sebuah cara bagaimana memilih menantunya sendiri.
Ketika membeli kain dari toko lain, Nenek Fang mulai membayar dengan uang sedikit lebih banyak dari harga yang telah disepakati. Beberapa hari pun berlalu, dan dia belum menemukan pemilik toko yang mengembalikan kelebihan uang. Semua pemilik toko mengambil kelebihan uang sambil tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nenek Fang tetap melanjutkan rencananya.
Suatu hari, dia membeli kain dari seorang pemuda, dan seperti biasa ia memberikan uang lebih. Pemuda itu menghitung uangnya dan mengembalikan kelebihan uang itu padanya. Beberapa hari kemudian, dia melihat pemuda itu datang lagi ke tokonya untuk menjual kain. Nenek Fang memberinya koin perak dan dengan sengaja membayar terlalu banyak.
“Nenek Fang, ini bayarnya kelebihan,” kata pemuda itu, mengambil timbangan dari Nenek Fang untuk diperiksa lagi. Dia kemudian mengembalikan kelebihan uang padanya.
“Jarang sekali menemukan orang seperti anak muda itu!” pikir nenek Fang.
“Terima kasih Nak, Mari kita minum teh sebentar!” katanya.
Sebelum pemuda itu menjawab, Nenek Fang berjalan ke belakang tokonya untuk membuat teh.
Mereka bercakap-cakap sejenak dan dia mengetahui pemuda itu belum menikah.
Dia kemudian meminta tetangganya yang sudah tua untuk menjadi mak comblang, kedua sejoli itupun dipertemukan. Meskipun menyukai anak Nenek Fang, tetapi si pemuda tidak berani mengajukan lamaran, karena dia terlalu miskin. Kepada sang gadis dan calon mertuanya, pemuda itu dengan jujur mengungkapkan bahwa ia masih harus menghidupi ibunya yang sudah tua dan masih merintis binsis sehingga tidak punya biaya untuk pernikahan.
Nenek Fang berkata : ”Kamu masih muda, rajin dan penuh semangat, dan kamu adalah seorang yang jujur. Itu semua adalah kualitas yang berharga. Jangan khawatir dengan biaya pernikahan, saya akan menanggungnya untukmu.”
Setelah menikah, pemuda dan ibunya pindah bersama Nenek Fang yang besar. Dengan kerajinan dan kejujurannya, sang pemuda mengelola toko mertuanya dengan sangat baik sehingga bisnisnya menjadi maju. (visiontimes/tia/eva)

