Budi Pekerti

Orang yang Tak Pernah Puas

Menjalani hidup selaras dengan Tao
Menjalani hidup selaras dengan Tao. @Pixabay

Dahulu ada pemotong batu yang bekerja keras sepanjang hari. Dia akan memotong batu untuk kemudian digunakan untuk tujuan konstruksi. Setelah bekerja keras untuk sebagian besar hidupnya, dia merasa tidak puas. Suatu hari, dia melihat seorang pejabat pemerintah duduk di atas kereta yang ditarik oleh kuda-kuda yang bagus. Dia merasakan keinginan yang mendalam untuk berada dalam kenyamanan seperti itu dan memiliki kekuasaan.

Seorang biksu Tao tiba-tiba datang dan membuat pemotong batu itu terkejut, dan mengatakan kepada tukang batu itu bahwa ia akan memenuhi keinginannya untuk menjadi berkuasa, yang oleh pemotong batu itu dijawab bahwa ia ingin menjadi yang paling berkuasa: seorang pejabat. “Baiklah, mari kita lihat dulu kehidupan dia”, kata biksu itu, dan membawanya ke dalam kereta. Mereka tidak bisa dilihat orang, tetapi mereka mendengar pejabat itu mengeluh tentang panasnya matahari, dan betapa panasnya di dalam kereta, tampak wajah pejabat itu bercucuran keringat sambil mengipas-ngipas.

Pemotong batu memandang ke atas dan melihat matahari dengan segala kemuliaan dan berkata kepada biksu itu bahwa dia ingin menjadi matahari, karena tidak ada yang lebih kuat dari matahari, bukan? “Baiklah”, kata biksu itu, dan membawa pemotong batu itu ke arah matahari. Butuh beberapa waktu untuk sampai di sana, tetapi ketika mereka sampai, beberapa awan telah berkumpul di sekitar matahari, menghalangi sinarnya. Matahari tidak bahagia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Pemotong batu itu terheran-heran melihat awan, dan memandang ke biksu itu serta berkata ia ingin menjadi awan yang begitu kuat sehingga bisa menghalangi seluruh cahaya matahari. “Baiklah”, kata biksu itu, tetapi segera setelah dia mengatakan itu, embusan angin kencang muncul, dan meniup pergi awan itu. Pemotong batu itu tercengang. Awan, yang dia pikir sangat kuat, baru saja diterbangkan oleh angin seolah-olah itu bukan apa-apa. Dia segera memikirkannya dan memutuskan.

Dia memberi tahu biksu itu bahwa dia ingin menjadi angin. “Baiklah”, kata biksu itu, dan dia bertanya kembali apakah itu pilihan terakhir sang pemotong batu. “Ya, pasti, angin tidak mempedulikan siapa pun. Itu yang paling kuat dan bisa menerbangkan apa pun yang menghalanginya”, jawab pemotong batu itu. Ini yang aku inginkan. “Tetapi lihatlah di sana ke batu-batu karang itu”, kata biksu itu, “angin tidak dapat meniupnya pergi”.

Melihat batu itu, sang pemotong batu itu menggaruk kepalanya dengan heran dan menjawab bahwa ini tidak mungkin. “Sangat kuat, namun batu itu tetap kokoh”, pikirnya. Dia memandangi biksu itu dan memberitahunya bahwa untuk terakhir kalinya, dia ingin menjadi batu. Maka biksu itu turun ke tanah dan membiarkannya menyentuh batu itu dan merasakan kekuatannya. “Ya, ya, sangat kuat”, katanya. Tapi kemudian, dia mendengar suara menghantam batu di sisi lain. Segera, batu itu pecah dan jatuh ke tanah dalam potongan-potongan kecil. Karena ketakutan, pemotong batu itu berbalik, dan apa yang dia lihat adalah dirinya sendiri, sang tukang batu yang dapat menghancurkan batu.

Panggilan dunia

Sepanjang hidup kita mengembara, mengikuti panggilan dunia untuk menjadi lebih kaya, membangun kehidupan dengan kekuasaan, status, nasib baik, keturunan yang baik. Tapi di mana ini akan membawa kita, pada akhirnya? Apakah anda berpikir bahwa semua jutawan menjumpai kematian mereka sepenuhnya puas dengan kehidupan yang mereka jalani? Kita belajar keras, bekerja keras, mengumpulkan kekayaan; kita mengejar posisi kekuasaan dalam komunitas, dan berusaha keras untuk membangun pengaruh kita; tetapi pada akhirnya, apakah kita puas? Apakah kita melakukan hal yang benar? Apakah ini tujuan kita ditempatkan di Bumi ini?

Sebagian besar dari kita mengalami sakit di dalam tubuh, kelelahan pikiran, kita tidak memiliki kesabaran untuk beristirahat, ketenangan untuk hanya duduk dan melihat matahari dipantulkan ombak. Kita baru introspeksi ketika terpaksa, seperti saat sudah berada di tempat tidur rumah sakit, atau di saat-saat kehilangan segalanya. Tetapi pada saat itu, seringkali sudah terlambat. Sebenarnya tidak pernah terlambat.

Panggilan alam

Para filsuf Tao percaya bahwa cara yang benar untuk menjalani kehidupan adalah mengikuti jalannya alam. Nah, apa jalannya alam? Salah satu aspek mengikuti jalannya alam adalah menganggap remeh materi. Tidak terikat pada ketenaran, kekayaan, dan puas dengan nasib anda, sebanyak apa pun itu. Menjalani hidup dengan wajar, dan tidak menentangnya.

Para penganut Tao percaya bahwa satu-satunya hal yang benar-benar dapat anda ubah adalah diri anda sendiri. Ini akan menjadi seruan bagi para pejuang keadilan sosial yang memfokuskan upaya untuk mengubah dunia tetapi gagal untuk mencari ke dalam diri dan menolak untuk melakukannya pada diri mereka sendiri. Ketika anda melakukan ini, yaitu meningkatkan diri sendiri dan mencapai keadaan tanpa niat, sisanya akan berada pada tempatnya.

Seperti pada cerita diatas, semuanya memiliki tempatnya masing-masing di alam semesta. Itu termasuk pemotong batu, batu, awan, dan anda. Pandangan untuk mengejar impian, hasrat, dan kebahagiaan anda adalah bertentangan dengan konsep Tao untuk melepaskan pengejaran dan mencapai kedamaian batin. (visiontimes/bud)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.