Budi Pekerti

Pengalaman Hidup

Guru @Pixabay
Guru @Pixabay

Karena impian saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang saya lakukan sekarang di hiruk pikuknya ibukota, saya kembali ke kampung halaman.

Saya berpikir dengan ijazah sarjana dan penampilan saya yang alim, serta beberapa piagam penghargaan, di kota kelahiran saya ini menjadi seorang guru SD adalah hal yang gampang. Tetapi taksiran saya salah. Saya telah mengeliling seluruh SD yang berada di kota ini, tetapi tidak ada sebuah sekolahpun yang menerima saya.

Semester baru sudah akan dimulai, jika saya masih tidak mendapat pekerjaan disini, maka saya harus berangkat kembali mencari pekerjaan di ibukota.

Akhirnya, sebuah sekolah dasar swasta sementara menerima saya. Karena salah seorang guru mereka untuk sementara cuti melahirkan, setelah 3 bulan baru bisa masuk. Kepala sekolah meminta saya sementara menggantikan guru tersebut. Mempunyai pekerjaan lebih baik daripada mengganggur, mungkin 3 bulan masa percobaan saya bisa mendapatkan kesempatan lain, saya akhirnya memutuskan akan menerimanya.

Walaupun hanya sebagai pengganti, tetapi saya berusaha berbuat sebaik mungkin. Saya mengajarkan sepenuh hati dan saya dapat bergaul baik dengan para siswa. Selama tiga bulan, kepala sekolah sering datang memperhatikan saya mengajar, saya juga membuka kursus publik untuk pengajaran dan penelitian. Guru-guru yang mengikuti kursus memuji berkata, “Kamu adalah seorang guru muda yang brilian.” Tetapi sayang saya hanya seorang guru pengganti, sebenarnya saya sangat ingin menetap disini!

Waktu berlalu dengan cepat tiga bulan berlalu. Pada sore itu kepala sekolah menyuruh saya ke kantornya, dia mengatakan walaupun saya melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi guru yang saya gantikan besok akan kembali mengajar. Setelah meminta maaf kepada saya, dia menyuruh saya ke tata usaha mengambil gaji saya.

Keesokkan pagi, saya telah mengemas koper, saya datang ke sekolah. Saya telah menyiapkan semua PR murid yang telah saya koreksi, serta mempersiapkan bahan untuk mengajar, saya bermaksud menyerahkannya kepada guru yang mengambil cuti hamil. Tetapi, ketika lonceng masuk telah berbunyi, guru tersebut masih belum hadir. Bagimana ya? Apakah saya harus pergi atau tidak? Melihat para murid-murid yang manis ini, saya memutuskan akan menunda keberangkatan saya satu hari lagi.

Saya seperti biasa dengan serius mengajar mereka. Sore hari ketika lonceng pulang telah berbunyi, saya mengantar murid saya satu persatu sampai ke pintu depan. Seluruh pekerjaan saya telah selesai, saya bermaksud meninggalkan sekolah. Pada saat ini, kepala sekolah menyuruh seseorang memanggil saya ke kantornya.

Ketika saya masuk ke kantor kepala sekolah, kepala sekolah menyerahkan kepada saya sebuah kontrak kerja, mengucapkan selamat bergabung dengan sekolah ini. Saya sangat terkejut, bukankah saya telah dipecat? Kenapa bisa begitu?

Kepala sekolah berkata, menjadi seorang guru memiliki tingkat pengajaran yang baik saja tidak cukup, harus memiliki tanggung jawab. Selama tiga bulan ini, saya telah mengevaluasi dan menilai kemampuan Anda mengajar, Anda melakukannya dengan sangat baik. Hari ini adalah penilaian terakhir yaitu penilaian tentang rasa tanggung jawab Anda, dan selamat Anda telah melewati tes akhir ini.”

Saya sangat gembira, saya mendapat kontrak mengajar selama 10 tahun. Saya sangat menghargai pekerjaan ini, saya berjanji harus menciptakan prestasi yang baik.

Setelah 5 tahun akhirnya saya mendapat gelar sebagai seorang guru teladan.(minghuischool)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI